Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
UNIFIL Kecam Pemasangan Bendera Israel di Lebanon Selatan
potret bendera Israel (pexels.com/Hanna M)
  • UNIFIL mengecam pemasangan bendera Israel di jalan pesisir Naqoura-Tyre, Lebanon selatan, sebagai provokasi dan pelanggaran hukum internasional yang dinilai menunjukkan aneksasi wilayah.
  • Pasukan PBB mendesak Israel mencabut seluruh bendera dan menghentikan pelanggaran resolusi. IDF menolak, menyatakan operasinya legal untuk menghilangkan ancaman Hizbullah.
  • IDF tetap berada di Lebanon selatan meski ada kesepakatan gencatan senjata 27 Juni, serta meningkatkan serangan. Serangan drone terbaru menyasar Al-Qantara, Al-Mansouri, dan Kafra.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - UNIFIL mengecam aksi pemasangan sejumlah bendera Israel di Lebanon selatan. Dalam pernyataannya pada Senin (17/8/2026), pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menyebut tindakan tersebut sebagai provokasi yang melanggar hukum internasional. Sebab, tindakan itu menunjukkan bahwa Israel telah menganeksasi Lebanon selatan. 

Dalam sebuah video yang diunggah jurnalis media Israel, Channel 12, di media sosial X, terlihat banyak bendera Israel terpasang di sepanjang jalan pesisir yang menyambungkan Kota Naqoura dan Tyre. Jalan tersebut dikabarkan sering digunakan oleh pasukan UNIFIL ketika sedang bertugas.

1. UNIFIL mendesak Israel menghentikan tindakan provokasi di Lebanon selatan

potret pasukan UNIFIL (flickr.com/Irish Defence Forces via commons.wikimedia.org/Irish Defence Forces)

Oleh karena itu, UNIFIL meminta Israel untuk menghentikan tindakan yang mengandung provokasi di Lebanon selatan. Sebab, tindakan tersebut bisa mengganggu upaya perdamaian dan berpotensi memicu perang berkepanjangan. UNIFIL juga meminta Israel untuk mencabut semua bendera yang sudah mereka pasang di wilayah tersebut.

"Seperti biasa, kami menyerukan kepada IDF dan semua pihak terkait untuk menghentikan pelanggaran resolusi dan menghindari tindakan provokatif apa pun yang dapat meningkatkan ketegangan atau memicu pelanggaran lebih lanjut," kata Juru Bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, seperti dilansir Jerusalem Post

2. Israel masa bodoh dengan kecaman UNIFIL

potret pasukan militer Israel (IDF) (flickr.com/Israel Defense Forces via commons.wikimedia.org/Israel Defense Forces)

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tidak menggubris kecaman dari UNIFIL. IDF bersikukuh pemasangan bendera Israel di Lebanon selatan boleh dilakukan dan tidak melanggar hukum internasional. IDF juga menolak mundur dari Lebanon selatan sebelum Hizbullah berhasil dibasmi dan dilucuti senjatanya. IDF menganggap keberadaannya di Lebanon selatan justru sudah sesuai dengan hukum internasional karena bertujuan untuk melawan milisi pemberontak seperti Hizbullah.

“Pasukan kami beroperasi di Lebanon selatan dengan tujuan menghilangkan ancaman yang ditimbulkan oleh organisasi teroris Hizbullah terhadap warga sipil Israel dan pasukan IDF. (Tindakan ini sudah) sesuai dengan hukum internasional. Israel tidak bertindak melawan negara Lebanon atau warganya," demikian bunyi pernyataan resmi IDF dilansir Times of Israel.

3. Israel meningkatkan serangan ke Lebanon selatan selama beberapa pekan terakhir

potret Distrik Nabatieh di Provinsi Nabatieh, Lebanon selatan (commons.wikimedia.org/ Aboumael )

Hingga saat ini, pasukan IDF masih ada di Lebanon selatan. Sebetulnya, IDF sudah bersedia mundur dari Lebanon selatan berkat kesepakatan gencatan senjata pada 27 Juni lalu. Namun, IDF tetap ingin bertahan di zona keamanan atau zona penyangga yang ada di wilayah tersebut. Sebab, mereka menganggap zona tersebut harus tetap dijaga untuk mencegah ancaman milisi pemberontak.

Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan IDF juga meningkatkan serangan ke Lebanon selatan. Mereka berdalih serangan tersebut dilakukan untuk membunuh semua anggota Hizbullah. Namun, pada praktiknya, serangan tersebut justru tidak hanya menyasar pasukan Hizbullah saja, tetapi juga menyasar warga sipil Lebanon yang tinggal di sekitar lokasi serangan.

Serangan terakhir IDF ke Lebanon selatan terjadi pada Senin (17/8/2026) kemarin. Ketika itu, IDF meluncurkan serangan udara terbaru ke Kota Al-Qantara, Al-Mansouri, dan Kafra di Provinsi Nabatieh, Lebanon selatan, menggunakan sejumlah drone

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article