Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wabah Kolera di Myanmar, Ratusan Warga Dilarikan ke Rumah Sakit
Ilustrasi orang sakit (Unsplash.com/Stephen Andrews)
  • Sejak 9 Agustus 2026, 500 warga Yangon dirawat akibat diare akut; tes cepat mendeteksi 149 kasus kolera, dengan sembilan kasus terkonfirmasi laboratorium.
  • Otoritas Myanmar mengaktifkan fasilitas kesehatan, mengirim tim tanggap cepat ke permukiman padat untuk memeriksa air dan klorin, serta memberi edukasi dari rumah ke rumah.
  • Wabah terjadi di tengah rusaknya infrastruktur akibat konflik, banjir, dan curah hujan tinggi yang menghambat akses air bersih serta layanan medis bagi warga dan pengungsi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Wilayah Yangon, Myanmar, melaporkan lonjakan ratusan kasus gangguan pencernaan akut yang menyerang warga pada Senin (17/8/2026). Krisis kesehatan ini memicu kekhawatiran publik setelah infeksi bakteri kolera terkonfirmasi menyebar di pusat ekonomi negara tersebut.

Guna menekan laju penularan, otoritas penanggulangan bencana daerah langsung menyiagakan seluruh fasilitas kesehatan untuk memberikan penanganan darurat bagi pasien terdampak.

1. Lonjakan kasus diare akut

Sebanyak 500 warga dilarikan ke rumah sakit akibat terserang diare akut sejak 9 Agustus 2026. Hasil uji cepat yang dilakukan tim medis menemukan hampir 150 pasien positif terinfeksi bakteri kolera di kawasan perkotaan tersebut.

"Hasil tes cepat menunjukkan 149 kasus positif kolera dan sembilan di antaranya telah dikonfirmasi secara resmi oleh laboratorium kesehatan nasional," kata Menteri Urusan Sosial Wilayah Yangon, Bo Htay, dilansir Channel News Asia.

Jumlah pendaftaran pasien di rumah sakit sempat melonjak drastis hingga melebihi 100 orang dalam sehari. Kendati demikian, laju pendaftaran penderita diare berangsur menurun setelah langkah penanganan awal gencar dilakukan.

2. Tim tanggap cepat disebar ke lokasi penularan

Sebagian besar penderita diketahui berasal dari kawasan permukiman yang padat di pusat Kota Yangon. Tim tanggap cepat disebar ke lokasi penularan untuk memeriksa pasokan air minum, memantau kadar klorin, serta memberikan edukasi kesehatan dari rumah ke rumah.

"Petugas kesehatan sudah dikirim ke daerah yang paling parah terdampak dan rumah sakit umum siap menampung pasien tambahan," ujar Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Myanmar, Myat Wunna Soe.

Dalam masa tanggap darurat ini, otoritas mencatat satu pasien berusia 92 tahun meninggal dunia saat dirawat. Pejabat kesehatan mengonfirmasi kematian warga lansia tersebut dipicu oleh komplikasi penyakit jantung dan paru-paru.

3. Krisis sanitasi akibat konflik bersenjata dan cuaca ekstrem

Kolera merupakan infeksi usus parah akibat konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri dan berisiko mematikan. Wabah ini memperburuk kondisi infrastruktur publik Myanmar yang telah runtuh akibat konflik bersenjata selama lebih dari lima tahun.

"Penyakit ini merupakan ancaman kesehatan global yang mencerminkan adanya ketimpangan serta minimnya pembangunan sosial dan ekonomi," tutur pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kondisi darurat kian diperumit oleh tingginya curah hujan serta banjir akibat luapan sungai. Pergerakan jutaan warga yang mengungsi membuat masyarakat makin sulit mendapatkan akses air bersih dan layanan medis yang memadai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article