Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Zelenskyy: Anak-anak Ukraina yang Diculik Rusia Dilatih Berperang

Zelenskyy: Anak-anak Ukraina yang Diculik Rusia Dilatih Berperang
potret Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy (flickr.com/President Of Ukraine via commons.wikimedia.org/President Of Ukraine)
Intinya Sih
  • Presiden Zelenskyy menuduh Rusia menculik dan melatih anak-anak Ukraina untuk berperang serta mencuci otak mereka agar membenci negaranya sendiri.
  • Zelenskyy menyebut sekitar 1,6 juta anak Ukraina telah diculik Rusia, dengan ribuan masih ditahan dan sebagian kecil berhasil dipulangkan.
  • Kekurangan pasukan membuat Rusia merekrut mahasiswa sebagai operator drone dengan imbalan gaji miliaran rupiah dan pembebasan masa studi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengatakan, anak-anak Ukraina yang diculik oleh Rusia kini sedang dilatih berperang. Menurut Zelenskyy, langkah ini bertujuan agar anak-anak tersebut bisa membantu pasukan militer Rusia untuk berperang melawan Ukraina. Selain itu, kata Zelenskyy, langkah ini bertujuan untuk mencuci otak anak-anak Ukraina agar membenci negaranya sendiri.

“Ya, kami punya buktinya. Mereka (Rusia) mengajari anak-anak ini untuk membenci negara asal mereka dan membenci orang-orang asli mereka, orang Ukraina. Bisakah Anda bayangkan, orang-orang Ukraina yang masih muda, anak-anak muda, datang ke medan perang dan membunuh orang Ukraina itu sendiri?” kata Zelensky saat diwawancara dalam acara Face The Nation bersama CBS News pada Senin (1/6/2026), seperti dikutip The Hill, Selasa (2/6/2026).

1. Ada 1,6 juta anak Ukraina yang diculik Rusia

Anak-anak sedang bermain.
Ilustrasi anak-anak (pexels.com/Antonius Ferret)

Menurut Zelenskyy, saat ini, ada sekitar 1,6 juta anak Ukraina yang diculik oleh pasukan Rusia. Jumlah tersebut terdiri dari anak kecil dan anak remaja. Zelenskyy mengatakan, ada 20.000 remaja Ukraina yang kini berada di bawah kendali pasukan Rusia. Sementara itu, 2.200 lainnya sudah dibebaskan dan dipulangkan ke kampung halamannya masing-masing.

Oleh karena itu, Zelenskyy berjanji akan terus berupaya membebaskan semua anak Ukraina yang masih ditawan Rusia. Sebab, anak-anak juga termasuk warga negara yang harus dilindungi. “Saya berharap Kongres Ukraina akan menemukan kemungkinan untuk kembali menjatuhkan sanksi kepada Rusia karena anak-anak tersebut. Kami telah berbicara dengan anggota kongres. Kami telah berbicara berkali-kali tentang hal ini. Saya berharap mereka akan mengambil keputusan,” ujar Zelenskyy.

2. Rusia kekurangan pasukan untuk berperang dengan Ukraina

Seorang prajurit sedang mengintai musuh.
ilustrasi pasukan Rusia (pexels.com/Bogdan Didukh)

Saat ini, Rusia dikabarkan sedang kekurangan pasukan untuk berperang melawan Ukraina. Sebab, menurut lembaga think tank Carnegie Endowment, Rusia sudah kehilangan lebih dari 1 juta pasukan sejak mereka menginvasi Ukraina pada 2022 silam. Oleh karena itu, Rusia kini mencari cara untuk mengembalikan jumlah pasukannya yang tewas. Salah satu caranya adalah dengan melatih anak-anak Ukraina untuk berperang.

Selain itu, Rusia juga punya cara lain untuk menambah jumlah pasukannya. Beberapa waktu lalu, Moskow dikabarkan ingin merekrut mahasiswa untuk menjadi operator drone militer. Untuk mewujudkan hal tersebut, Rusia sudah memberikan tawaran kepada mahasiswa di sejumlah universitas. Beberapa di antaranya, seperti di Bauman Moscow State Technical University, Moscow State Academy of Law, dan Plekhanov Russian University of Economics.

3. Mahasiswa akan diberi gaji miliaran

Uang dalam jumlah banyak.
ilustrasi uang (pexels.com/John Guccione)

Ada sejumlah mekanisme yang akan dilakukan Rusia untuk merekrut mahasiswa menjadi operator drone. Mekanisme ini bertujuan untuk memberikan keadilan kepada mahasiswa yang bersedia menjadi operator drone untuk membantu militer Rusia.

Jadi, mahasiswa yang bersedia dilatih menjadi operator drone akan mendapatkan pembebasan masa studi selama satu tahun penuh. Selain itu, mereka juga akan digaji sebesar 5 juta rubel atau Rp1,2 miliar dan akan mendapatkan pembebasan uang kuliah dari pemerintah.

Namun, Pemerintah Rusia menjelaskan, para mahasiswa yang sudah direkrut menjadi operator drone tidak akan ditugaskan di barisan depan. Artinya, mereka tidak akan diterjunkan untuk berperang. Mereka hanya akan membantu pasukan Rusia di balik layar. Sebab, mahasiswa bukan pasukan militer resmi sehingga tidak boleh terjun di medan perang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More