Comscore Tracker

[OPINI] "Gadis Cantik Mencuci Piring", Lantas Kenapa?

Masih zaman mengelukan seseorang karena fisiknya?

Ada tren yang cukup laris di media massa online dalam beberapa tahun terakhir. Mengekspos orang-orang berparas elok kemudian memadukannya dengan pekerjaan yang kerap dianggap marginal. Yang paling anyar ada seorang gadis asal Vietnam, Yon Dali namanya. Fotonya saat tengah mencuci piring viral di media. Tak pelak aneka tulisan yang dibumbui kata-kata menjura muncul untuk membahas mahasiswi ini.

Yon Dali sudah bekerja di rumah makan orang tuanya sejak 14 tahun. Ia tak hanya mencuci piring namun juga membantu di dapur. Selain membantu orang tua di restroran, dia juga seorang mahasiswi dan seterusnya dan sebagainya.

Lantas kenapa? Toh ada jutaan anak muda yang juga membanting tulang sejak kecil demi membantu orang tua.

[OPINI] Gadis Cantik Mencuci Piring, Lantas Kenapa? www.koreaboo.com

Poin-poin yang diutarakan dari gadis ini tidak ada yang spesial. Oke, dia membantu orang tua sejak remaja; lantas kenapa? 'Kan memang sudah jadi kewajiban seorang anak untuk berbakti. Mengapa gadis ini perlu diumbar dan dielu-elukan? Oh, ya ada satu perbedaannya dengan anak-anak biasa; parasnya.

Jadi sebenarnya yang dibahas fisiknya atau prestasinya? Apabila seorang anak sangat rajin, berbakti membantu orang tua, bekerja sambil menimba ilmu apa dia juga akan berbondong-bondong diviralkan? Tidak tuh. Usaha mem-viral-kan sosok tukang cuci piring, tukang getuk dan tukang-tukang lainnya ini tak lebih dari mengagungkan daya tarik fisik seseorang sambil diberi bumbu drama latar belakang kehidupan mereka.

Baca Juga: [OPINI] Apa Makna Sebenarnya Hari Kartini Bagi Para Wanita Indonesia?

Sudah tidak zaman menilai seseorang berdasarkan fisiknya. Ironisnya materi seperti ini masih menjadi santapan lezat masyarakat kita.

[OPINI] Gadis Cantik Mencuci Piring, Lantas Kenapa? www.sidomi.com

Kita patut heran mengapa kita "harus" merasa kaget jika ada berita soal pekerjaan sederhana yang dipadukan dengan kata cantik. Memang masih zaman kompetensi seseorang diukur dari cakep tidaknya? Saya pikir paham seperti itu sudah lama usang.

Seolah ada anggapan bahwa orang cantik hanya boleh bekerja di lahan-lahan mentereng. Padahal mah orang cantik juga manusia biasa, mereka juga "berhak" bekerja dalam sektor yang mereka sanggupi. Toh pekerjaan-pekerjaan itu bukan pekerjaan kotor, hina, haram. Kok seolah harus terpukul banget ketika orang cantik merambah profesi itu.

Semua kehebohan terhadap judul "tukang-tukang cantik" menunjukkan pikiran yang superficial, dangkal. Hal biasa saja kok harus digembar-gemborkan... Sebentar, ooh soalnya ada peran dari daya tarik fisik. Yah kata lainnya kita ini masih norak.

Hanya menilai fisik adalah langkah yang terlalu dangkal. "Don't judge a book by its cover" rasanya hanya seperti pepesan kosong bagi kita.

[OPINI] Gadis Cantik Mencuci Piring, Lantas Kenapa? www.suryamalang.tribunnews.com

Pada akhirnya saya menyerah dan menyadari bahwa ungkapan "don't judge a book by its cover" hanya omong kosong belaka. Meski selalu berusaha menanamkan nilai pada anak-anak bahwa kita tidak boleh menilai orang lain hanya dari parasnya, toh kelakuan kita menunjukkan bahwa tetap cantik itu yang pertama dan utama. Kalau gak cantik gak penting untuk dibahas.

Buktinya judul-judul "tukang cantik" masih jadi idola dan dipromosikan dengan giat oleh banyak media. Susah rasanya buat move on dari prinsip 'cantik adalah segalanya' dan memajukan pola pikir masyarakat jika kita masih dicekoki materi seperti ini terus menerus.

Baca Juga: [OPINI] Berbisnis Boleh Saja, Tapi Apa Harus Artis Mendompleng Nama Daerah Demi Keuntungan?

Topic:

Berita Terkini Lainnya