Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ketika Lukisan Refleksikan Kegaduhan Sosial-Politik

Ketika Lukisan Refleksikan Kegaduhan Sosial-Politik
kpoply.com

‘Ketika Aku’ menjadi suara dari para perupa Komunitas SERUNI untuk menggambarkan keadaan sosial politik di negara ini. bagaimana banyak pihak di dunia mengejar keberuntungan material dengan isu-isu sensitif hingga tanpa sadar (atau bisa juga secara sadar) mengabaikan orang-orang yang menjadi korban kerakusan mereka. Bahkan agama yang sebelumnya berkaitan dengan keimanan seseorang yang sakral kini dapat menjadi bola panas untuk dimainkan untuk mengacaukan keadaan.

Dibanding protes sana-sini, Komunitas SERUNI berusaha bicara mengenai keadaan ini melalui karya seni yang tertuang dengan tema ‘Ketika Aku’ yang dapat ditemui di Galeri UPH Karawaci, Tangerang pada 6-11 Februari 2017. Melalui 17 karya seni yang dipamerkan ini SERUNI berharap agar kehadirannya mampu memberikan sumbangsih dalam menolong kita bersama untuk berdialog serta menikmati makna reflektif yang hampir tenggelam oleh kegaduhan dunia.

Bersama School of Design UPH, SERUNI ingin mengajak baik mahasiswa sebagai generasi muda maupun anggota UPH lainnya bahkan publik umum yang berkunjung untuk menyadari keadaan saat ini.

Salah satu karya lukis dari Setiyoko Hadi contohnya. Berbicara mengenai keadaan yang tidak wajar yang dihadapi masyarakat lokal Papua hidup di tengah pertambangan emas. Bagaimana banyak kepentingan budaya dan lokal yang dikesampingkan demi kepentingan material dari para penguasa. Di lukisan ini ditampilkan 12 wajah anak Papua di tengah koin-koin mata uang beragam negara. Ditampilkan juga sosok ibu menggendong anak dengan pakaian tradisional Papua sebagai simbolis bahwa masyarakat lokal menjadi garda depan untuk  memperjuangkan kesejahteraan mereka yang sering terlupa.

Kedua, karya dari Daniel begitu sederhana menggambarkan betapa dirinya rindu akan pluralisme Indonesia yang sebelumnya menjadi daya Tarik Indonesia  tapi kini perlahan mulai terlupa karena isu sosial politik yang meruncing. Gambarnya sederhana, orang-orang bergandengan tangan mengenakan baju adat beragam daerah Indonesia dengan dilatarbelakangi rumah adat di Indonesia dengan senyum menghiasi wajah. Daniel berharap melalui lukisannya,  setiap pribadi kembali ingat Indonesia yang damai dengan segala perbedaan suku, budaya, dan adat yang merupakan ciri khas sesungguhnya.

Para perupa dari SERUNI berharap melalui sumbangsihnya lewat karya seni, paling tidak mereka dapat berkespresi dan mencoba ‘berbicara’ kepada setiap orang yang melihat karyanya untuk memahami maksud setiap lukisannya. (Mt)

Share
Topics
Editorial Team
Meishiana Tirtana
EditorMeishiana Tirtana
Follow Us

Related Articles

See More

[OPINI] Benarkah Era Emas Drakor Sudah Berakhir?

14 Mei 2026, 11:06 WIBOpinion