Comscore Tracker

Newsroom Canggih Vs Menyuarakan Mereka yang Tidak Berdaya

Tantangan jurnalis di era konvergensi

Jakarta, IDN Times – Senin, 23 Juli 2018, saya diundang Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) untuk menjadi salah satu pembicara dalam sesi berjudul “Telaah Manajemen dan Kompetensi Wartawan Konvergensi”. Acara ini adalah bagian dari rangkaian peringatan hari jadi ke-30 LPDS, sebuah Pusat Pelatihan dan Pengembangan Jurnalisme Profesional.

Dari sejumlah referensi, nama Dr Soetomo dipilih karena mahasiswa kedokteran yang mendirikan perkumpulan Boedi Oetomo pada 1908 ini juga salah satu perintis kegiatan pers di tanah air.

Dr Soetomo mendirikan jurnal Soeloeh Indonesia di Surabaya (1925), majalah mingguan Soeloeh Rakyat Indonesia, dan harian Soeara Oemoem (1930). Dari kota pahlawan Surabaya, Soetomo menerbitkan majalah berbahasa Jawa “Panjebar Semangat” (1933). Era internet yang melahirkan media digital ikut menggerus eksistensi Panjebar Semangat. Pengelola mencoba bertahan dengan menerbitkan konten melalui laman panjebarsemangat.co.id.

Sesuai dengan moto majalah ini, “Menyebarkan Semangat Hingga Akhir Zaman”.

Saya tergolong jurnalis dari zaman Orde Baru yang menikmati pendidikan jurnalistik di LPDS. Direktur Eksekutif pertama LPDS, almarhum Djafar D. Assegaff adalah pemimpin redaksi Majalah Ekonomi dan Bisnis Warta Ekonomi, media tempat saya bekerja awal 1990. Pak Assegaff adalah mentor pertama dalam bidang jurnalistik.

Berikutnya, tentu saya belajar banyak dari sosok seperti Pak Atmakusumah Astraatmadja, Pak Warif Djayanto, sampai almarhum Pak Amir Daud. Mereka mengajarkan hal mendasar dalam jurnalistik, dari integritas, etika, akurasi dan ketelitian sampai keindahan merangkai kalimat.

Perjalanan LPDS melalui masa yang saya lalui juga, jurnalis tiga zaman: zaman Orde Baru, zaman Orde Reformasi dan zaman Now.

Istilah ini disematkan kepada saya oleh rekan Arief Budi Susilo, direktur pemberitaan Koran Bisnis Indonesia, ketika saya “melaporkan” ke teman-teman Forum Pemimpin Redaksi bahwa saya bergabung dengan IDN Times, sebuah media digital yang menyasar khalayak millennials dan gen Z.

Winston Putra Utomo dan William Putra Utomo–keduanya generasi millennials–mendirikan IDN Times empat tahun lalu di Surabaya, kota di mana Dr Soetomo memulai kiprahnya di dunia pers. “Kami ingin menjadi media independen, yang menjadi referensi bagi millennials dan gen Z,” ujar Winston.

IDN Times sejak awal didirikan dengan pola pikir konvergensi media. Konten dibuat dalam bentuk teks, video dan grafis. Untuk millennials dan gen Z, sebuah informasi bisa disajikan misalnya dalam bentuk kuis. Kekinian.

Karena itu saya mencoba menjawab tema yang disajikan oleh pengurus LPDS dengan berbagi pengalaman saya dalam enam bulan terakhir di IDN Times.

1. Teknologi berperan kian penting dalam pekerjaan di ruang redaksi

Newsroom Canggih Vs Menyuarakan Mereka yang Tidak Berdayafyi.idntimes.com

“Dulu ruang redaksi hanya diisi oleh para jurnalis. Kini tim teknologi informasi menjadi bagian penting yang menghasilkan karya jurnalistik data terbaik. Mereka bekerja berdampingan dengan kami, di ruang redaksi,” kata Emilio Garcia-Ruiz, editor pengelola koran The Washington Post.

Emilio menceritakan bagaimana koran dengan tradisi jurnalistik berkualitas tinggi itu mencoba bertahan dari gelombang era digital yang menggulung ratusan, bahkan ribuan media cetak di Amerika Serikat. Judul sesinya, “The Washington Post: A news organization, a tech company – and a model for the news industry?

Kita tahu bahwa Jeff Bezos, pendiri Amazon, masuk menjadi investor The Washington Post pada tahun 2013. Keahliannya dalam bisnis internet diterapkan dengan menjadikan The Post, koran lokal dengan reputasi nasional, mudah dinikmati kontennya lintas negara bagian, bahkan lintas dunia. Mereka memproduksi sejumlah aplikasi untuk memudahkan pelanggan mengakses konten.

Sesi ini adalah bagian dari belasan agenda yang saya ikuti di acara GEN Summit 2018, yang berlangsung di Lisabon, Portugal, 30 Mei – 1 Juni 2018. Tema Global Editors Network kali ini adalah “Towards the Augmented Newsroom”. Menuju ruang redaksi yang kian canggih, dengan pemanfaatan teknologi informasi.

Yang dibahas mulai dari dari peran kecerdasan buatan (artificial intelligence), jurnalisme robot, peran perusahaan teknologi yang menyediakan platform seperti Facebook, augmented reality, sampai mesin pembelajaran (machine learning) dan beragam inovasi lain. Saya bahkan mendapatkan permintaan kerjasama konten dengan metode pembayaran blockchain!

Baca Juga: GEN Summit 2018 Bahas AI untuk Kerja Jurnalis

Sebagai bagian dari jurnalis zaman orba, tiga hari mengikuti acara membuat kening saya berkerut. Mau “mengencerkan” kemampuan otak dengan bergelas-gelas kopi pun tak bisa, karena bulan puasa.

Yang saya cermati adalah bagaimana ruang redaksi menjadikan teknologi sebagai bagian penting, mulai dari perencanaan konten, produksi sampai penyajian dan distribusi. Proses riset masa kini dimudahkan oleh mesin pencari dan sistem informasi yang bisa menjaring data yang diperlukan dengan lebih tepat. Proses produksi konten adalah kolaborasi antara jurnalis, tim TI dan tim desain.

Tujuannya adalah melahirkan konten yang mampu membangun keterlibatan (engangement) khalayak. Sebuah Key Performance Index (KPI) yang kini dikejar penyedia konten,termasuk media massa.

Pemahaman target khalayak menjadi sangat penting. Media massa mencoba menjangkau khalayak usia muda yang menjadikan internet sebagai sumber informasinya. Ruang-ruang redaksi di seluruh dunia berpacu dengan kebutuhan khalayak millennials dan gen Z atas asupan konten yang relevan dari sisi topik, penyajian, dan aksesibilitas.

Teman-teman di IDN Times mencoba menjawab tantangan itu dengan melahirkan produk infografis interaktif FYI (For Your Info). Salah satunya episode mengenai Micin, sebutan populer untuk Vetsin (monosodium glutamate), penyedap rasa yang selalu mengundang kontroversi. Apa bahayanya bagi kesehatan manusia?

Sebuah tema yang memiliki kepentingan publik yang tinggi, yang disajikan dengan cara "Zaman Now".

Sebuah kolaborasi antara jurnalis, TI dan tim desain.

Baca juga: Apa Salah dan Dosa Micin?

2. Platform berperan kian penting bagi penerbit media massa

Newsroom Canggih Vs Menyuarakan Mereka yang Tidak BerdayaIDN Times/Uni Lubis

Pada 11 Januari 2018, pendiri Facebook Mark Zuckerberg mengumumkan bahwa raksasa teknologi itu akan mengubah algoritma dengan mengutamakan distribusi konten dari teman, keluaga dan grup.

Perubahan algoritma dilakukan setelah kritik pedas yang dialamatkan ke Facebook, Google dan Twitter akibat ketidakmampuan mereka mencegah penyebaran kabar palsu (hoax) dan berita bohong (fake news), dalam Pemilihan Presiden di AS.

Sekian lama Facebook menjadi platform, sarana distribusi konten yang paling penting bagi media massa di seluruh dunia. Lewat NewsFeed, Mark dan timnya mengubah cara khalayak mengkonsumsi konten berita melalui platform yang awalnya diciptakan untuk memudahkan jejaring pertemanan.

Hampir semua perusahaan media terkena dampak signifikan dari keputusan Facebook.

Profesor Emily Bell, direktur pendiri Tow Center untuk Jurnalisme Digital membahas bagaimana hubungan antara platform TI dan penerbit media massa dalam sesi di GEN Summit 2018, berjudul “Platforms and publishers, Our Life in their hands?”

Para editor di media digital, termasuk kami di IDN Times, setiap kali mendapatkan pemutakhiran tentang konten apa yang paling diminati, dan karenanya disebarkan paling banyak di ranah internet. Alat untuk mendeteksinya beragam. Facebook memiliki CrowdTangle. Ada Google Trends, YouTube Trends, Twitter Trending Topic, dan semacamnya.

Di era digital publik menjadi editor yang mempengaruhi keputusan redaksi dalam menerbitkan berita melalui perangkat TI tersebut.

Itu dari sisi pengumpulan ide berita dan produksinya. Apakah bertentangan dengan news that public needs? Tidak selalu.

Tragedi kemanusiaan yang meminta korban jiwa, serangan teror bom, kekerasan terhadap anak dan perempuan, kemiskinan sampai ironi dan dunia pendidikan seringkali menjadi tema yang disodorkan “editor TI”.

Tetapi sikap “kepo” warganet membuat talking news seperti ucapan-ucapan politisi dan figur publik yang kerap mencari perhatian melalui akun media sosialnya juga sering direkomendasikan.

Editor TI juga memiliki kelemahan dalam mendeteksi isu yang “jauh” dari perhatian publik. Misalnya isu di Papua. Isu di kawasan tertinggal dan di perbatasan.

Dari sisi distribusi dan monetisasi, peran Facebook signifikan.

Proyek penelitian yang dikerjakan Tim Emily Bell dan Tow Center mengamati bahwa kecenderungan Facebook mengubah kebijakan algoritma memiliki dampak biaya bagi penerbit.

“Dari apa yang kami pelajari dalam hampir dua tahun terakhir, bahwa model bisnis yang diterapkan Facebook, seperti iklan dengan tujuan spesifik, bekerja secara diskriminatif melawan peliputan berita berkualitas tinggi,” ujar Emily Bell, yang juga pengajar di Columbia Journalism School.

Facebook mengubah algoritmanya nyaris setiap enam bulan sekali.

Bagaimana caranya agar penerbit tidak tergantung kepada platform? Solusinya juga tidak jauh-jauh dari urusan TI. Mencoba bekerjasama dengan platform distribusi konten lainnya di luar raksasa TI yang ada. Misalnya dengan pengumpul (aggregator) seperti LINE, UCNews, BaBe dan lainnya.

Cara lain? Memanfaatkan saluran media sosial yang ada untuk mendistribusikan konten. WhatsApp yang notabene dimiliki Facebook menjadi saluran distribusi konten paling efektif di Indonesia dan India. Termasuk konten bohong. Siapa yang menang?

Upaya yang juga dilakukan, menciptakan aplikasi yang memudahkan pengguna dan menarik pengguna baru.

Membangun komunitas menjadi hal penting untuk membangun kolaborasi dengan pengguna konten di luar redaksi (Users Generated Content), serta mendistribusikannya. IDN Times Community yang dimulai Februari 2017 kini memiliki 63.000 lebih pengguna.

Baca Juga: IDN Times Community

Dari sisi jurnalis, bekerja di ruang redaksi digital menghendaki ketrampilan untuk tidak hanya memikirkan tema peliputan yang sesuai dengan nilai-nilai jurnalistik seperti memiliki kepentingan publik tinggi, memenuhi unsur-unsur dalam kode etik jurnalistik, melainkan juga memilih diksi dan kata yang tepat untuk keperluan Search Engine Optimization (SEO). Click-worthy, bukan click-bait.

10-15 tahun lalu tidak terbayangkan bagaimana jurnalis dan manajemen ruang redaksi harus bekerjasama erat dengan platform TI. Kita juga tidak membayangkan bisa mengakses informasi hanya dengan menyentuh layar telpon seluler pintar, bukan?

Menjawab kritik juga, Facebook kemudian mengutamakan distribusi konten dari organisasi media yang terpercaya. Muncul pertanyaan, bagaimana kurasinya? Apakah para teknisi di Facebook layak menjadi kurator konten berita yang dipercayai?

Diskusi di GEN Summit 2018 menyimpulkan bahwa dengan segala kontroversinya, Facebook masih menjadi platform yang penting bagi media massa digital.

Esra Dogramaci, editor senior digital Deutsche Welle, grup media dari Jerman, mengatakan, “perubahan algoritma itu harusnya membuat pengelola redaksi fokus kepada apa yang yang kalian kuasai, temukan apa yang penting bagi kalian: impression? engangement? quality? Bagaimana jika ketiga hal itu bukan pilihan, melainkan satu kesatuan target?

Baca juga : Cambridge Analytica pakai jutaan data pengguna Facebook untuk kampanye

3. Benarkah anggota redaksi biasanya khawatir dengan target angka dan analisisnya?

Newsroom Canggih Vs Menyuarakan Mereka yang Tidak BerdayaIstimewa

Ketika saya bekerja di majalah, target yang saya perhatikan adalah berapa banyak majalah yang dibeli pembaca. Angkanya datang mingguan. Untuk teman yang bekerja di koran, angkanya diterima per hari.

Pindah bekerja di televisi, targetnya adalah jumlah penonton. Tidak hanya harian, tetapi per menit. Produser program harian di televisi menerima data yang dicatat Nielsen Media Research setiap pukul 10.00 WIB, dan seketika harus menyesuaikan perencanaan berita yang akan ditayangkan untuk berdasarkan pencapaian angka jumlah penonton.

Muncul pertanyaan pada awalnya. Mengapa, sebagai jurnalis (yang kebetulan pemimpin redaksi), saya harus peduli dengan jumlah penonton? Bukankah tugas jurnalis adalah meliput sampai menyiarkan?

Pertanyaan ini kemudian dilanjutkan dengan, “Kalau yang menonton hasil peliputanmu atau programmu ternyata sedikit, buat apa?”

Jurnalis televisi dihujat karena terbelenggu kepada target TV Rating dan TV Share, ketimbang kepentingan publik. Saya menjadi jurnalis di televisi sebelum era viral konten televisi pasca penyiaran seperti

yang terjadi saat ini. Penonton televisi terus turun karena berubahnya pola konsumsi informasi yang kian mengandalkan gawai, terutama di kalangan muda. Penyelenggara televisi kini mengoptimalkan distribusi konten video lewat internet. Viral menjadi KPI.

Implementasi konvergensi?

Bekerja di media digital mengharuskan kita memahami data dan analitik. Bukan sekedar mengecek kurva tiap menit untuk program harian, melainkan real time data analitik, berapa lama pengguna mampir ke situs, sampai berapa banyak yang memberikan “like”, memberikan komentar dan membagi konten yang kita terbitkan.

“Bagaimana bisa mengukur engangement kalau tidak memahami data dan analitiknya?,” kata Jim Roberts, pemimpin redaksi Cheddar, sebuah usaha rintisan televisi. Jim sebelumnya adalah editor eksekutif Mashable dan pernah bekerja di New York Times dan Reuters sebagai editor digital.

Saya setuju dengan Esra yang mengatakan bahwa jurnalis dan pengelola ruang redaksi tak perlu khawatir apalagi alergi dengan data analitik. “Justru harus dijadikan peluang,” kata Esra. Bersama Jim, keduanya bicara di GEN Summit 2018 dalam sesi, “Ask Me Anything: Strategies to engange your audience”.

IDN Times adalah media digital ketiga bagi saya. Di tempat ini, metrik, data dan analitik adalah keseharian. Jujur saja kerapkali membuat pusing. Belum sampai membuat stress, karena saya didukung tim yang profesional. Sarah Marshall yang memimpin divisi pertumbuhan khalayak di Conde Nast International yang antara lain menerbitkan Vogue, mengatakan, metrik penting untuk mengukur loyalitas pembaca. “Loyalitas mewakili lebih untuk merek kami,” kata dia.

Facebook menjadi salah satu yang terbaik untuk memicu loyalitas manakala pengunjung datang berulangkali ke situs yang kita kelola. “Aplikasi pesan singkat juga sangat baik dalam

mendatangkan loyalitas. Secara umum, media sosial menjadi pemicu yang baik untuk membangun loyalitas pembaca media,” ujar Sarah.

Tiga poin di atas, belum menggambarkan keseluruhan perubahan permainan yang tengah saya alami di ruang redaksi media digital. Tantangan yang juga dialami jurnalis di berbagai ruang redaksi, dari negara maju hingga negara berkembang.

Jurnalis era lama seperti saya, dipaksa berubah, beradaptasi dengan tantangan baru. Perusahaan media yang memiliki pemimpin dengan visi digital atau konvergensi memiliki potensi untuk menangkap peluang berkembang, memanfaatkan atau melahirkan inovasi yang bisa mendukung tujuan perusahaan media.

Jurnalis muda, generasi millennials, dihadapkan kepada situasi yang mengharuskan mereka menjadi jurnalis multimedia. Dalam piramida standar kompetensi wartawan yang dijalankan Dewan Pers beserta segenap organisasi konstituennya, memanfaatkan perangkat TI baru mencapai level kompetensi dasar. Jauh dari cukup, jika merujuk kepada tiga poin di atas.

Ini tantangan bagi lembaga pendidikan jurnalistik termasuk LPDS. Begitupun, menurut saya, hal paling penting yang perlu dimiliki jurnalis, dan secara agregat perlu dimiliki sebuah ruang redaksi adalah sense of purpose. Mengapa kita memilih profesi ini? Mengapa kita mendirikan perusahaan pers? Kalau jawabannya adalah ingin memberikan dampak kepada publik, maka secanggih apapun TI, hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Apa yang terjadi dengan skandal Cambridge Analytic menjadi contoh bagaimana TI menciptakan bias tren informasi.

Kasus ini bukan yang terakhir, yang menjadi contoh bahwa kecanggihan teknologi dapat menjadi pisau bermata dua. Bisa bermanfaat, bisa juga merugikan publik yang hendak kita layani.

Maka, ruang redaksi juga harus siap untuk “melawan” tren yang dibentuk oleh algoritma dengan tetap memberikan perhatian kepada isu penting yang jauh dari “buzzing”. Menyuarakan mereka yang tidak berdaya, voicing the voiceless.

Ini keterampilan yang perlu terus diasah di era konvergensi media. Sejauh ini, robot yang punya empati, baru ada di rekaan film Hollywood. Padahal empati adalah unsur kunci yang membuat konten jurnalistik memiliki jiwa.

Menyuarakan tujuan jurnalisme: menyampaikan informasi kepada publik, sehingga publik dapat mengambil keputusan yang berakibat baik bagi hidupnya. Ini saya kutip dari Buku Elemen Jurnalistik tulisan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Di sini LPDS menjadi selalu relevan.

Baca Juga: 5 Hal soal IDN Media

Line IDN Times

Topic:

  • Yogie Fadila

Just For You