Paparan logam berat, khususnya timbal, masih menjadi ancaman serius bagi tumbuh kembang anak di Indonesia. Hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan sebanyak 14,6 persen anak yang diteliti pada 2025 memiliki kadar timbal dalam darah yang memerlukan perhatian.
Temuan ini menjadi dasar penting dalam mendukung kebijakan kesehatan berbasis bukti, termasuk penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP).
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi (PR KMG) BRIN, Tities Puspita, menyampaikan bahwa riset berbasis bukti merupakan fondasi dalam memperkuat layanan kesehatan primer, mulai dari upaya promotif, preventif, deteksi dini, hingga penyusunan kebijakan kesehatan yang lebih tepat sasaran.
