Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
14,6 Persen Anak Terpapar Timbal, dari Mana Sumbernya?
ilustrasi tumbuh kembang anak (pexels.com/cottonbro)
  • Riset BRIN 2025 menemukan 14,6 persen anak yang diteliti memiliki kadar timbal darah yang memerlukan perhatian, sehingga memperkuat kebutuhan layanan kesehatan primer berbasis bukti.
  • Penelusuran di lingkungan rumah mengidentifikasi potensi sumber timbal pada mainan, alat makan plastik, alat masak logam, dan alat makan keramik; paparan dapat mengganggu kognitif anak.
  • BRIN melibatkan puskesmas untuk konseling dan edukasi pencegahan, dengan pelatihan yang meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan, meski dampak perilaku jangka panjang belum terukur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Paparan logam berat, khususnya timbal, masih menjadi ancaman serius bagi tumbuh kembang anak di Indonesia. Hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan sebanyak 14,6 persen anak yang diteliti pada 2025 memiliki kadar timbal dalam darah yang memerlukan perhatian.

Temuan ini menjadi dasar penting dalam mendukung kebijakan kesehatan berbasis bukti, termasuk penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP).

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi (PR KMG) BRIN, Tities Puspita, menyampaikan bahwa riset berbasis bukti merupakan fondasi dalam memperkuat layanan kesehatan primer, mulai dari upaya promotif, preventif, deteksi dini, hingga penyusunan kebijakan kesehatan yang lebih tepat sasaran.

Tingginya paparan timbal pada anak

Menurut Tities, salah satu perhatian utama BRIN adalah tingginya paparan timbal pada anak-anak. Untuk mengidentifikasi sumber pencemaran, mereka berkolaborasi dengan Pure Earth dan Vital Strategies melakukan penelitian yang tidak hanya mengukur kadar timbal dalam darah anak, tetapi juga menelusuri sumber paparan di lingkungan tempat tinggal mereka.

"Kami melakukan penelitian kolaboratif untuk mengukur kadar timbal dalam darah anak-anak Indonesia sekaligus menelusuri sumber paparan di lingkungan tempat tinggal mereka," ujar Tities.

Dalam penelitian tersebut, sampel diambil dari darah anak serta berbagai komponen lingkungan rumah, seperti debu, tanah, hingga partikel yang menempel pada pakaian. Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui keterkaitan antara kondisi lingkungan dengan tingginya kadar timbal dalam darah anak.

Tumbang anak terganggu karena timbal

ilustrasi timbal putih (commons.wikimedia.org/Alina Zienowicz)

Hasil penelitian juga mengidentifikasi sejumlah produk rumah tangga yang berpotensi menjadi sumber paparan timbal, antara lain mainan anak (7,32 persen), alat makan plastik (9,55 persen), alat masak logam (20,28 persen) serta alat makan berbahan keramik (26,67 persen).

"Hasil penelitian menunjukkan pentingnya memahami sumber paparan timbal di lingkungan rumah agar upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih efektif," jelas Tities.

Tities menyebut bahwa paparan timbal dapat mengganggu tumbuh kembang anak, termasuk perkembangan kognitif dan tingkat kecerdasan. Oleh karena itu, intervensi sejak dini menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan anak dan mencegah dampak jangka panjang.

BRIN libatkan tenaga puskesmas

Sebagai tindak lanjut penelitian paparan timbal, BRIN melibatkan tenaga puskesmas untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Setelah hasil pemeriksaan laboratorium diperoleh, para orang tua diundang kembali untuk menerima konseling mengenai kondisi kesehatan anak.

Melalui leaflet dan penyuluhan langsung, masyarakat diberikan pemahaman mengenai bahaya paparan timbal serta langkah-langkah sederhana untuk mengurangi risiko paparan di lingkungan rumah.

BRIN juga melakukan pre-test dan post-test kepada tenaga kesehatan puskesmas untuk mengukur efektivitas pelatihan yang diberikan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti pelatihan tersebut.

Meski demikian, Tities mengakui sebagian besar penelitian masih menggunakan desain cross-sectional sehingga belum dapat mengukur perubahan perilaku masyarakat dalam jangka panjang. Menurutnya, efektivitas intervensi akan lebih komprehensif apabila dikaji melalui penelitian longitudinal dengan pemantauan berkelanjutan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article