Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Hewan yang Memiliki Cara Unik untuk Melawan Infeksi

4 Hewan yang Memiliki Cara Unik untuk Melawan Infeksi
ilustrasi semut (pexels.com/Macro Photography)
  • Lebah madu melapisi sarang dengan propolis dari resin tumbuhan, yang mengandung senyawa bioaktif untuk menghambat mikroorganisme dan menekan risiko penyebaran patogen di koloni.
  • Semut memanfaatkan zat antimikroba dari sekresi tubuh atau lingkungan, serta grooming antaranggotanya untuk membersihkan kotoran, partikel asing, mikroorganisme, dan parasit.
  • Gajah memakai lumpur untuk melindungi serta menjaga kelembapan kulit, sementara sejumlah burung menaruh bahan tumbuhan antimikroba di sarang demi lingkungan lebih sehat bagi telur dan anaknya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Hewan memiliki berbagai mekanisme pertahanan tubuh untuk bisa menghadapi bakteri, virus, parasit, dan mikroorganisme lain yang bisa menyebabkan infeksi serius. Bukan hanya mengandalkan sistem kekebalan tubuh, namun beberapa hewan juga memiliki perilaku dan kemampuan fisiologis untuk membantu dalam mengurangi risiko infeksi.

Cara yang ada ternyata berkembang sesuai dengan lingkungan dan gaya hidup dari masing-masing spesies sehingga mekanismenya bisa sangat berbeda antara satu hewan dan hewan lainnya. Beberapa di antaranya bahkan kerap memanfaatkan suhu tubuh, zat alami, atau perilaku tertentu sebagai bagian dari strategi pertahanan hidup pada saat menghadapi berbagai ancaman.

  1. 1. Lebah madu menggunakan propolis untuk melindungi sarang

    ilustrasi lebah madu (pexels.com/Pixabay)
    ilustrasi lebah madu (pexels.com/Pixabay)

    Lebah madu memiliki cara yang sangat unik dalam menjaga kondisi sarangnya dengan memanfaatkan propolis, yaitu bahan resin yang dikumpulkan dari tumbuhan dan kemudian digunakan untuk melapisi bagian tertentu di dalam sarang. Propolis memiliki berbagai senyawa bioaktif yang bisa menghambat pertumbuhan sejumlah mikroorganisme, sehingga membantu dalam menciptakan lingkungan yang lebih sulit bagi patogen untuk berkembang.

    Penggunaan propolis ternyata bisa membantu mengurangi risiko penyebaran mikroorganisme di dalam koloni yang memiliki interaksi sangat intensif. Lebah akan mengoleskan bahan tersebut pada celah atau permukaan tertentu agar secara tidak langsung membentuk bagian dari sistem pertahanan koloninya.

  2. 2. Semut menggunakan zat antimikroba untuk melindungi koloni

    ilustrasi semut
    ilustrasi semut (pexels.com/Egor Kamelev)

    Semut memiliki kehidupan sosial yang membuat mereka terus saling berinteraksi dengan anggota koloni lainnya, sehingga pengendalian mikroorganisme merupakan bagian yang sangat penting. Beberapa spesies diketahui memanfaatkan senyawa antimikroba yang berasal dari sekresi tubuh atau lingkungan untuk membantu dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada tubuh dan sarangnya.

    Semut kerap melakukan perilaku perawatan tubuh atau grooming dengan membersihkan kotoran dan partikel asing dari tubuh sesama anggota koloninya. Pada kondisi tertentu, perilaku tersebut bisa membantu dalam mengurangi jumlah mikroorganisme atau parasit yang menempel sebelum berkembang menjadi lebih jauh.

  3. 3. Gajah menggunakan lumpur sebagai perlindungan kulit

    ilustrasi gajah (pexels.com/Pixabay)
    ilustrasi gajah (pexels.com/Pixabay)

    Gajah sering menggunakan lumpur dengan cara berguling atau menyiramkan ke tubuh dan perilaku ini tidak hanya berkaitan untuk menjaga kondisi kulit saja. Lapisan lumpur bisa membantu memproteksi kulit dari paparan sinar Matahari, gigitan serangga, dan berbagai gangguan lingkungan yang bisa menyebabkan kerusakan pada permukaan kulit.

    Gajah kerap menggunakan debu dan lumpur sebagai bagian dari perilaku perawatan tubuh dalam kondisi lingkungan tertentu. Lapisan tersebut ternyata bisa membantu dalam menjaga kelembaban kulit dan mengurangi gangguan dari serangga yang sering berada di sekitarnya.

  4. 4. Burung menggunakan bahan tertentu untuk membantu menjaga sarang

    ilustrasi burung merpati (unsplash.com/Al Ishrak Sunny)
    ilustrasi burung merpati (unsplash.com/Al Ishrak Sunny)

    Sejumlah jenis burung diketahui memanfaatkan bahan dari tumbuhan yang memiliki sifat antimikroba untuk ditempatkan di dalam atau di sekitar sarangnya. Ada beberapa bahan yang mengandung senyawa alami yang berpotensi menghambat pertumbuhan mikroorganisme tertentu, sehingga bisa membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat untuk telur dan anak burung.

    Bahan tumbuhan yang digunakan juga bisa berbeda tergantung pada jenis spesies dan lingkungan tempat burung hidup. Pada beberapa kasus, burung memiliki bahan tertentu bukan sekadar karena mudah ditemukan, namun karena karakteristiknya bisa membawa manfaat bagi sarang dan menunjang sistem kekebalan tubuhnya.

    Berbagai hewan memiliki strategi menarik untuk menghadapi ancaman infeksi baik melalui sistem kekebalan tubuh atau perilaku yang membantu dalam menciptakan kondisi lingkungan yang aman. Hewan-hewan di atas seolah menunjukkan bahwa perlindungan terhadap penyakit ternyata bisa melibatkan bahan alami, perawatan tubuh, dan pengelolaan lingkungan. Mekanisme tersebut menjadi bukti bahwa adaptasi hewan ternyata sangat penting terhadap segala penyakit yang mampu berkembang sewaktu-waktu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More