Mithridates VI (commons.wikimedia.org/Bibliothèque nationale de France)
Berbeda dengan raja lainnya, Mithridates VI malah berani melawan racun itu sendiri. Ia melakukannya setelah ayahnya, Mithridates V tewas karena diracuni dalam sebuah jamuan.
Ayahnya meninggal karena diracuni ketika Mithridates VI masih muda. Untuk mengasah kemampuannya bertahan hidup, Mithridates VI menghabiskan waktu selama 7 tahun untuk hidup di padang gurun.
Mithridates VI mencoba membuat dirinya kebal terhadap racun dengan mengonsumsi dosis racun yang sangat kecil secara teratur dan tidak mematikan terutama arsenik. Praktek ini dikenal sebagai mithridatisme, dilansir kids.kiddle.
Setelah menjadi raja, Mithridates VI terus mempelajari racun bahkan menciptakan penawarnya. Ia mengonsumsi penawar ini setiap hari dengan air dingin. Penawar ini dikenal sebagai mithridatium.
Dalam perkembangannya, penulis kuno, Pilinius Tua mengetahui resep sederhana yang ditemukan di catatan Mithridates VI mencakup dua buah kenari kering, ara dan dua puluh lembar daun rue.
Selama berabad-abad mithridatium dan obat serupa yang disebut theriac penting dalam pengobatan Islam dan Barat. Namun pada abad ke 19, sebagian dokter berhenti menggunakannya.
Keunikan dan keunggulan Mithridates VI dalam ketangguhan adalah sikap yang kejam dan berbahaya. Sementara kecerdasannya adalah bisa menciptakan penawar racunnya sendiri.
Kejeniusan Mithridates VI sebagai pembuat penawar racun dituangkan dalam beberapa karya. Novel berjudul The Count of Monte Cristo karya Alexandre Dumas menyebutkan gagasan tentang mithridatium. Dalam puisi, AE Housman berjudul Terence, This Is Stupid Stuff juga merujuk pada mithridatium.