Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Fakta Unik Pohon Dragon Blood, Punya Getah Seperti Darah
Dracaena cinnabari (MahmasahatovaGulmira, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Pohon dragon's blood di Pulau Socotra dikenal karena getah merahnya yang menyerupai darah, dimanfaatkan sejak zaman Romawi untuk obat, kosmetik, dan bahan pelapis biola.
  • Bentuk kanopi unik seperti payung terbalik berfungsi menangkap kelembapan kabut pagi serta menjaga kelembapan tanah di lingkungan gersang Socotra.
  • Sebagai spesies payung, pohon ini menopang ekosistem sekitar namun kini terancam punah akibat perubahan iklim dan penggembalaan liar yang menghambat regenerasi alami.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di sebuah pulau terpencil bernama Socotra yang terletak di Samudra Hindia bagian Yaman, tumbuh satu flora purba legendaris yang memiliki bentuk menyerupai payung terbalik. Tumbuhan ini dikenal dunia sebagai pohon dragon's blood atau Dracaena cinnabari. Keberadaannya telah menghiasi lanskap berbatu pulau tersebut sejak jutaan tahun lalu, memikat perhatian para ilmuwan karena visualnya yang sangat tidak biasa dan terkesan surealis bagaikan tumbuh di planet lain.

Alasan utama tumbuhan ini begitu masyhur terletak pada getah merah pekat yang mengalir deras dari batang atau dahan ketika terluka. Fenomena unik tersebut tidak hanya menjadikannya ikon wisata global, tetapi juga bahan baku berharga untuk obat tradisional hingga pewarna alami yang bernilai tinggi. Meski menyimpan sejuta keajaiban, keberlangsungan hidup vegetasi eksotis ini kini kian mengkhawatirkan akibat himpitan perubahan iklim global dan maraknya aktivitas penggembalaan liar.

1. Pohon ini mengeluarkan getah merah pekat yang menyerupai darah segar

getah kering dari pohon Dracaena cinnabari (Maša Sinreih in Valentina Vivod, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Saat bagian batang atau dahan pohon ini tergores, cairan kental berwarna merah terang akan segera merembes keluar. Getah eksotis inilah yang mendasari penamaan pohon dragon's blood atau darah naga. Fenomena alami tersebut menginspirasi berbagai legenda lokal, termasuk kisah pertempuran mitologis antara naga dan gajah di masa lampau.

Dilansir The Guardian, getah merah pekat ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena telah dimanfaatkan sejak zaman Romawi kuno. Masyarakat tradisional menggunakannya sebagai bahan baku kosmetik, obat berbagai penyakit, hingga bahan pelapis biola berkualitas tinggi di Cremona, Italia. Sifat kimianya yang kaya akan senyawa antioksidan terbukti ampuh menyembuhkan luka luar dengan cepat.

2. Bentuk kanopi yang menyerupai payung raksasa berguna untuk menangkap air

Dracaena cinnabari (Rod Waddington from Kergunyah, Australia, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

Pohon bernama ilmiah Dracaena cinnabari ini memiliki morfologi yang sangat ikonik dengan cabang-cabang melengkung ke atas secara padat. Struktur unik tersebut membentuk kanopi rimbun yang menyerupai jamur raksasa atau payung yang terbalik ditiup angin. Karakteristik fisik ini bukan sekadar pemanis visual, melainkan sebuah bentuk adaptasi evolusioner yang luar biasa di lingkungan gersang.

Bentuk payung rimbun ini berfungsi untuk menangkap kelembapan dari kabut pagi yang menyapu dataran tinggi Socotra. Tetesan air yang mengembun pada daun akan dialirkan langsung menuju batang hingga meresap ke sistem perakaran di dalam tanah. Hebatnya lagi, kanopi super lebat ini bertindak sebagai peneduh alami yang mencegah penguapan air tanah di bawah pohon tersebut.

3. Para peneliti mengategorikan spesies ini sebagai pohon pelindung ekosistem

Dracaena cinnabari (Hardscarf, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Pohon dragon's blood tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri di tengah kerasnya alam Socotra. Tanaman purba ini memegang peranan krusial sebagai spesies payung (umbrella species) bagi kelestarian lingkungan sekitarnya. Eksistensi satu pohon ini mampu menjamin kelangsungan hidup puluhan makhluk hidup lain yang tinggal di dekatnya.

Dilansir The Revelator, sebuah studi ekologi mengungkapkan bahwa pohon ini menyediakan habitat terlindung dan sumber makanan bagi beragam fauna endemik. Berbagai jenis kadal, ular, hingga burung langka sangat bergantung pada perlindungan kanopi rimbunnya yang teduh. Selain itu, puluhan spesies tanaman herba liar juga terbukti hanya dapat tumbuh subur di bawah naungan pohon naga ini.

4. Perubahan iklim global perlahan-lahan mengancam kepunahan hutan purba ini

Dracaena cinnabari (MahmasahatovaGulmira, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Meskipun telah bertahan selama jutaan tahun melintasi berbagai era geologi, masa depan pohon unik ini kini berada dalam bahaya besar. Pohon ini masuk dalam kategori rentan terhadap kepunahan menurut daftar merah badan konservasi internasional. Keberadaannya kian terisolasi akibat berkurangnya habitat alami yang subur.

Berdasarkan publikasi ilmiah dari Plants of the World Online oleh Royal Botanic Gardens, Kew, tumbuhan ini merupakan flora endemik murni yang tidak dapat ditemukan tumbuh liar di belahan bumi lain. Sayangnya, ancaman nyata seperti kekeringan ekstrem berkepanjangan akibat perubahan iklim merusak regenerasi pohon muda. Masalah ini diperparah oleh maraknya hewan ternak warga, seperti kambing, yang kerap memakan tunas baru sebelum sempat tumbuh dewasa.

Pohon dragon's blood adalah bukti nyata dari keindahan sekaligus kerapuhan alam liar yang tersisa di bumi kita. Upaya pelestarian yang konsisten sangat dibutuhkan agar generasi mendatang masih dapat menyaksikan keajaiban pohon yang dapat berdarah ini di habitat aslinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article