3 Fakta Ilmiah Broad Peak, Salah Satu Gunung Berbahaya di Pakistan

- Broad Peak setinggi sekitar 8.051 meter di perbatasan Pakistan-China, menjadi gunung tertinggi ke-12 dunia dan bagian dari 14 puncak eight-thousander.
- Di atas 8.000 meter, zona kematian menyebabkan pasokan oksigen rendah, menurunkan fungsi tubuh dan pengambilan keputusan, serta memperbesar risiko hipotermia dan radang dingin.
- Cuaca Broad Peak sulit diprediksi karena pengaruh jet stream; angin kencang, salju, dan badai dapat muncul mendadak, menurunkan jarak pandang serta suhu.
Tragedi kembali menyelimuti dunia pendakian gunung setelah insiden yang terjadi di Broad Peak, Pakistan, menyita perhatian publik. Gunung berketinggian lebih dari 8.000 meter itu dikenal sebagai salah satu puncak paling menantang di dunia bagi para pendaki. Kondisi cuaca yang sulit diprediksi serta kadar oksigen yang sangat rendah membuat setiap langkah menuju puncak memiliki risiko besar.
Tak sedikit pendaki berpengalaman yang harus menghadapi situasi darurat, bahkan kehilangan nyawa saat melakukan ekspedisi di kawasan tersebut. Peristiwa terbaru ini pun kembali mengingatkan bahwa mendaki gunung bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga tentang menghadapi kondisi alam yang ekstrem. Lantas, apa saja fakta ilmiah yang membuat Broad Peak menjadi salah satu gunung paling berbahaya untuk didaki? Berikut penjelasan lengkapnya.
1. Broad Peak termasuk kelompok gunung "eight-thousander"

Broad Peak memiliki ketinggian sekitar 8.051 meter di atas permukaan laut, sehingga masuk dalam kelompok eight-thousanders, yaitu 14 gunung di dunia yang tingginya melebihi 8.000 meter. Gunung ini berada di Pegunungan Karakoram, tepatnya di kawasan Baltistan, di perbatasan Pakistan dan China. Mengutip dari NASA Earth Observatory, hanya ada 14 gunung di Bumi yang berhasil mencapai ketinggian tersebut.
Broad Peak sendiri merupakan gunung tertinggi ke-12 di dunia. Nama "Broad Peak" berasal dari punggungan puncaknya yang sangat panjang dan lebar, membentang sekitar dua kilometer sehingga tampak berbeda dari gunung yang berpuncak runcing. Sementara itu, dilansir Britannica, Baltistan (lokasi berdirinya Gunung Broad Peak) merupakan wilayah yang dipenuhi pegunungan tinggi dan gletser raksasa, sehingga dikenal sebagai salah satu kawasan pegunungan paling ekstrem di dunia. Kombinasi ketinggian dan bentang alam yang terjal membuat Broad Peak menjadi salah satu gunung yang paling menantang untuk didaki.
2. Zona kematian Broad Peak dimulai di atas 8.000 meter

Ketinggian di atas 8.000 meter dikenal oleh para pendaki sebagai death zone atau zona kematian. Menurut NASA, pada ketinggian ini udara menjadi sangat tipis sehingga tubuh hanya memperoleh sedikit oksigen setiap kali bernapas. Akibatnya, tubuh tidak lagi mampu beradaptasi dengan baik dan bahkan pendaki yang sangat berpengalaman pun hanya dapat bertahan selama beberapa hari.
Kemampuan berpikir, mengambil keputusan, dan bergerak juga akan menurun karena otak serta organ tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Penelitian yang terbit dalam jurnal Frontiers in Physiology pada 2021 menjelaskan bahwa selain kekurangan oksigen, pendaki di zona ini juga harus menghadapi suhu yang sangat rendah, angin kencang, serta tekanan udara yang sangat rendah. Kombinasi kondisi tersebut membuat tubuh kehilangan panas lebih cepat, meningkatkan risiko radang dingin, dan membuat aktivitas sederhana seperti berjalan beberapa langkah terasa sangat melelahkan.
Oleh sebab itu, berada terlalu lama di zona kematian dapat meningkatkan risiko kondisi yang mengancam jiwa. Para pendaki umumnya berusaha sesegera mungkin mencapai puncak lalu turun ke ketinggian yang lebih aman agar terhindar dari marabahaya death zone.
3. Cuaca di Broad Peak bisa berubah dalam waktu singkat

Selain ketinggiannya yang ekstrem, Broad Peak juga dikenal memiliki cuaca yang sulit diprediksi. Gunung ini berada di kawasan Baltistan, Pegunungan Karakoram, yang dipenuhi pegunungan tinggi dan gletser sehingga memiliki kondisi alam yang sangat keras. Mengutip dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), salah satu penyebabnya adalah jet stream, yaitu arus angin yang bergerak sangat cepat di lapisan atas atmosfer dan dapat memengaruhi perubahan cuaca.
Ketika jet stream bergeser, angin kencang, salju, dan badai dapat muncul dalam waktu singkat. Perubahan cuaca yang mendadak membuat pendaki harus mengambil keputusan dengan cepat, karena jarak pandang dapat menurun dan suhu udara bisa turun drastis. Itulah sebabnya, selain membutuhkan kemampuan fisik yang baik, pendakian Broad Peak juga sangat bergantung pada waktu dan kondisi cuaca yang mendukung.
Tragedi yang baru-baru ini terjadi di Broad Peak menjadi pengingat bahwa mendaki gunung berketinggian lebih dari 8.000 meter bukan sekadar menguji keberanian, tetapi juga menghadapi batas kemampuan tubuh manusia dan kerasnya alam. Meski teknologi pendakian terus berkembang, faktor seperti cuaca ekstrem, udara yang sangat tipis, dan kondisi medan tetap menjadi tantangan yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan. Menurutmu, apakah risiko sebesar ini sepadan dengan impian untuk menaklukkan salah satu puncak tertinggi di dunia?







![[QUIZ] Tebak Peristiwa Bersejarah dan Lokasinya, Bisa Menjawabnya?](https://image.idntimes.com/post/20241231/peristiwa-bersejarah-dan-lokasinya-18-360182d9f21ce347e057c02329da6742.jpg)
![[QUIZ] Tes Pengetahuan Sejarah Indonesia Masa Penjajahan Portugis](https://image.idntimes.com/post/20250320/1-191dff8881bb3fe18f3766b4bcdf5153.jpg)
![[QUIZ] Tes Pengetahuan Sejarah Indonesia Masa Penjajahan Belanda, Yakin Ingat?](https://image.idntimes.com/post/20250211/quiz-tes-pengetahuan-sejarah-indonesia-masa-penjajahan-belanda-seberapa-tahu-kamu-2-cf6a3fd6616fb710aff706f6d9932c27.jpg)










