Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Mutasi Alami pada Hewan yang Membantu Mereka Bertahan Hidup

4 Mutasi Alami pada Hewan yang Membantu Mereka Bertahan Hidup
ilustrasi ular (pexels.com/Jeffry S.S.)
Intinya Sih
  • Mutasi menguntungkan yang diwariskan dapat dipertahankan seleksi alam, membantu hewan beradaptasi, menghindari predator, dan memperoleh makanan lebih efektif.
  • Ngengat merica dan tikus batu mengalami perubahan warna yang menyesuaikan lingkungan, sehingga kamuflase mereka meningkat dan peluang lolos dari predator lebih besar.
  • Ikan Antartika menghasilkan protein antibeku untuk bertahan di air ekstrem, sementara beberapa ular memiliki reseptor saraf yang membuatnya tahan racun mangsa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mutasi merupakan perubahan pada materi genetik yang bisa terjadi secara alami pada setiap makhluk hidup termasuk hewan. Sebagian besar mutasi tidak memberikan dampak yang berarti atau bahkan merugikan, namun ada juga mutasi yang bisa memberikan keuntungan, sehingga meningkatkan peluang individu untuk bisa bertahan hidup.

Pada saat mutasi yang menguntungkan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, maka sifat tersebut nantinya akan menjadi bagian penting dari proses evolusi suatu spesies. Berkat mekanisme inilah nantinya berbagai hewan bisa beradaptasi dengan perubahan lingkungan menghindari serangan predator, atau bahkan memperoleh makanan dengan lebih efektif.

1. Ngengat merica yang berubah menjadi lebih gelap

ilustrasi ngengat merica
ilustrasi ngengat merica (britannica.com)

Salah satu contoh mutasi alami yang paling terkenal adalah perubahan warna pada ngengat merica selama Revolusi Industri di Inggris. Sebelum polusi meningkat, hampir sebagian besar ngengat memiliki warna yang terang karena dapat membantu mereka berkamuflase dengan batang pohon yang telah tertutup lumut, sehingga tidak terlihat oleh pemangsa.

Akibat dari tekanan seleksi alam, populasi ngengat berwarna gelap pun semakin meningkat secara signifikan karena lebih sering berhasil menghindari predator dan menghasilkan keturunan. Setelah tingkat polusi menurun dan kondisi lingkungan mulai membaik maka jumlah ngengat dengan warna terang pun kembali meningkat karena warna tersebut bisa memberikan keuntungan.

2. Tikus batu yang memiliki warna bulu sesuai habitat

ilustrasi tikus (pexels.com/DSD)
ilustrasi tikus (pexels.com/DSD)

Di beberapa wilayah berbatu vulkanik, terdapat populasi tikus batu yang mengalami mutasi, sehingga memiliki warna bulu yang terlihat hitam pekat. Warna tersebut sebetulnya membuat tubuh mereka seolah menyatu dengan batuan lava yang gelap, sehingga lebih sulit dikenali oleh predator.

Perbedaan warna bulu ini sebetulnya merupakan hasil mutasi pada gen yang mengatur produksi pigmen kemudian dipertahankan melalui seleksi alam karena meningkatkan peluang untuk bertahan hidup. Individu yang memiliki warna tubuh paling sesuai dengan habitatnya biasanya cenderung lebih sering lolos dari serangan predator dan memiliki kesempatan berkembang biak yang lebih besar.

3. Ikan Antartika yang menghasilkan protein anti beku

ilustrasi ikan Antartika
ilutstrasi ikan Antartika (thoughtco.com)

Beberapa spesies ikan yang hidup di perairan Antartika ternyata memiliki mutasi genetik yang memungkinkan tubuh mereka untuk menghasilkan protein anti beku. Tersebut bekerja dengan cara menghambat pembentukan kristal es yang ada di dalam darah dan cairan tubuh, sehingga sel-selnya tetap berfungsi walau hidup pada suhu air yang berada di bawah titik beku.

Tanpa mutasi yang menghasilkan protein khusus, maka darah ikan akan membeku dan pada akhirnya menyebabkan gangguan serius pada organ-organ tubuhnya. Kemampuan ini menjadi contoh bagaimana mutasi ternyata bisa menciptakan sifat baru yang sangat penting untuk menghadapi berbagai kondisi lingkungan yang ekstrem.

4. Ular yang kebal terhadap racun mangsanya

ilustrasi ular (pexels.com/deedee)
ilustrasi ular (pexels.com/deedee)

Beberapa spesies ternyata diketahui memiliki mutasi pada reseptor saraf yang dapat membuat mereka tahan terhadap racun yang dihasilkan oleh mangsanya, seperti kadal atau amfibi tertentu. Mutasi tersebut bisa mengurangi kemampuan racun untuk mengganggu sistem saraf agar ular tetap bisa memangsa hewan beracun tanpa mengalami efek yang fatal.

Ketahanan terhadap racun sebenarnya merupakan hasil dari proses evolusi yang sudah berlangsung selama banyak generasi melalui interaksi antara predator dan mangsanya. Individu yang memiliki mutasi menguntungkan ternyata lebih mungkin bertahan hidup dan mewariskan sifat tersebut kepada keturunannya.

Mutasi alami merupakan salah satu sumber utama variasi genetik yang dapat memungkinkan hewan beradaptasi dengan lingkungan yang terus mengalami perubahan. Pada saat mutasi memberikan keuntungan bagi keberlangsungan hidup, maka sifat tersebut akan dipertahankan melalui seleksi alam dan menjadi bagian dari proses evolusi. Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa perubahan kecil pada materi genetik bisa menghasilkan adaptasi yang luar biasa untuk membantu hewan bertahan hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More