Ketika Gunung Anak Krakatau meletus beberapa waktu yang lalu, penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta sempat ditutup selama beberapa hari untuk menghindari bahaya abu vulkanik letusan. Abu vulkanik di udara pernah menyebabkan insiden serius terhadap penerbangan di atas langit Indonesia di tahun 1982 silam. Saat itu terjadi sebuah peristiwa yang mendebarkan ketika sebuah pesawat jumbo jet Boeing 747-200 Flight 009 milik Maskapai British Airways yang sedang dalam perjalanan dari Kuala Lumpur Malaysia, menuju Perth, Australia masuk ke dalam awan abu vulkanik dari letusan Gunung Galunggung yang kemudian menyebabkan seluruh mesin pesawatnya mati total. Penerbangan dengan pesawat Boeing 747-200 bernama City of Edinburgh dengan nomor registrasi G-BDXH tersebut membawa 247 penumpang dan 15 awak di dalam pesawat.
4 Fakta Insiden British Airways Terkena Abu Vulkanik Gunung Galunggung

- Pada 24 Juni 1982, British Airways Flight 009 dari Kuala Lumpur menuju Perth memasuki awan abu letusan Gunung Galunggung, membawa 247 penumpang dan 15 awak.
- Radar saat itu tidak mendeteksi partikel abu kering; awak melihat asap dan fenomena St. Elmo's fire sebelum empat mesin Boeing 747 mati di ketinggian 37.000 kaki.
- Pesawat meluncur hingga sekitar 13.500 kaki sebelum mesin menyala kembali, lalu mendarat darurat di Halim Perdanakusuma dengan kerusakan mesin, turbin, dan kaca depan akibat abu vulkanik.
Pada tahun tersebut teknologi radar belum cukup canggih untuk mendeteksi anomali awan yang terbentuk dan berkomposisi abu vulkanik dari letusan gunung berapi ditambah saat itu abu vulkanik belum dianggap sebagai sesuatu yang serius terhadap penerbangan. Di kegelapan malam hari itu, radar tidak menangkap sesuatu yang aneh pada cuaca, karena teknologi radar saat itu dirancang untuk mendeteksi kelembapan dan komposisi butiran air dan kristal es di dalam awan badai dan bukan untuk mendeteksi partikel padat yang kering hingga para awak akhirnya melihat sejumlah fenomena yang mengawali masalah besar dalam penerbangan mereka.
Ingin tahu lebih lanjut mengenai insiden yang menimpa Boeing 747-200 milik Maskapai British Airways ini? Simak empat fakta menariknya berikut ini, yuk!
1. Awak pesawat melihat fenomena yang disebut St. Elmo's fire

ilustrasi fenomena pelepasan listrik atmosfer yang dikenal dengan St. Elmo's fire (api St. Elmo) yang sering tampak seperti pendar cahaya di dekat sayap pesawat (commons.wikimedia.org/Ugo Méda) Pada tanggal 5 April 1982, Gunung Galunggung mulai meletus dan rangkaian erupsinya berlangsung selama 9 bulan hingga awal tahun 1983. Dilansir laman simpleflying, pada malam tanggal 24 Juni 1982, semua instrumen pesawat Boeing 747-200 milik Maskapai British Airways tersebut menunjukkan segala sesuatunya berjalan dengan normal. Prakiraan cuaca juga menunjukkan kondisi cerah, sehingga para awak pesawat tak menduga akan menghadapi kesulitan besar. Pimpinan penerbangan Kapten Eric Moody pertama kali menyadari adanya masalah saat hendak ke toilet, sekitar 2 jam setelah pesawat take off. Ia melihat sesuatu yang tampak seperti asap masuk ke dalam kabin melalui ventilasi lantai.
Awak pesawat lainnya kemudian melihat fenomena api St. Elmo (St. Elmo's fire) di bagian depan mesin pesawat Boeing 747 tersebut. Menurut Britannica, secara ilmiah, fenomena api St. Elmo merupakan fenomena atmosfer berupa pelepasan listrik atmosfer yang terkadang tampak seperti pendar cahaya samar pada ujung benda-benda runcing seperti ujung sayap pesawat atau tiang kapal saat cuaca buruk. Fenomena api St. Elmo teramati ketika udara terionisasi menghasilkan cahaya pijar dan terkadang suara yang dapat didengar. Pada kasus penerbangan British Airways Flight 009 tersebut, fenomena api St. Elmo terjadi karena jutaan partikel abu dan debu vulkanik yang bergerak secara cepat serta bersifat abrasif bergesekan dengan bagian luar badan pesawat pada kecepatan tinggi.
2. Empat buah mesin pesawat mati total di ketinggian 37.000 kaki

potret letusan Gunung Galunggung, Tasikmalaya, Jawa Barat di tahun 1982 (commons.wikimedia.org/Jack Lockwood, U.S. Geological Survey) Tak lama, setelah para awak pesawat melihat fenomena api St. Elmo di depan mesin pesawat, mesin pesawat satu per satu mulai mengalami gangguan hingga seluruh 4 buah mesinnya mati secara total di ketinggian jelajah 37.000 kaki (11,280 m) di atas Samudra Hindia, dekat Pulau Jawa. Bayangkan sebuah pesawat komersial dengan ukuran masif sebesar Boeing 747 melayang tanpa mesin di ketinggian. Menurut sejumlah sumber informasi penerbangan, meski seluruh mesinnya mati total, secara teoritis jika ketinggiannya mencukupi, sebuah Boeing 747 dirancang untuk dapat melayang (glide) dengan rasio luncur sekitar 15:1 hingga 17: 1 yang memiliki arti setiap penurunan ketinggian sebesar 1 mil (1,609 m), pesawat dapat meluncur ke depan sejauh 15 hingga 17 mil (24 km hingga 27 km).
Dari ketinggian jelajah 35.000 kaki sebuah Boeing 747 dapat menempuh jarak sekitar 100 mil (160 km)tanpa mesin. Ketika insiden tersebut terjadi para awak berusaha untuk menghidupkan kembali mesin dan sebagaimana diberitakan oleh BBC dalam artikelnya yang berjudul: "The Captain Who Glided Jumbo Jet to Safety Through an Erupting Volcano", saat peristiwa tersebut terjadi Kapten pilot Eric Moody menyampaikan pesan kepada penumpangnya yang sangat terkenal hingga saat ini dengan kata-kata berikut: "Bapak dan Ibu sekalian, ini Kapten anda sedang berbicara. Kami mengalami sedikit masalah. Keempat mesin pesawat telah mati. Kami sedang berupaya sekuat tenaga untuk menyalakannya kembali. Saya harap anda tidak terlalu cemas".
3. Mesin berhasil hidup kembali

ilustrasi pesawat Boeing 747-200 British Airways Flight 009 ketika sedang berada di dalam awan abu vulkanik (commons.wikimedia.org/Anynobody) Ketika mesin pesawat masih belum bisa dihidupkan dan pesawat telah banyak kehilanggan ketinggian, para awak harus menghadapi realita kemungkinan pesawat harus berubah arah untuk didaratkan di Samudra Hindia dan tentu saja saat itu belum ada awak di pesawat tersebut yang memiliki pengalaman melakukan pendaratan darurat pesawat di lautan yang sangat beresiko.
Menurut laman Simple Flying ketika pesawat telah cukup banyak kehilangan ketinggian, pada ketinggian sekitar 13.500 kaki (4.100-an m), mesin no-4 berhasil dinyalakan kembali yang memungkinkan Kapten untuk memperlambat laju penurunan ketinggian pesawat. Tak lama kemudian ketiga mesin lainnya juga berhasil dinyalakan. Mesin-mesin tersebut dapat menyala kembali karena pesawat berhasil keluar dari awan debu abu vulkanik yang tak terlihat sehingga tanpa adanya asupan debu abu panas baru, suhu internal mesin turun dan mendingin sehingga abu yang meleleh dan menyumbat mesin menjadi dingin, mengeras dan terbuang keluar melalui saluran pembuangan.
4. Mendarat darurat di Bandara Halim Perdana Kusuma

potret bagian-bagian mesin yang rusak dari British Airways flight 009 karena abu vulkanik yang diadi Museum Auckland (commons.wikimedia.org/Nova13) Setelah mesin menyala kembali, Kapten Pilot pesawat British Airways Flight 009 mengarahkan pesawat ke Jakarta untuk melakukan pendaratan darurat. Saat pesawat mendekati wilayah udara Jakarta, mesin no-2 mengalami gangguan dan harus dimatikan. Kemudian muncul masalah lain lagi, ketika pesawat sedang turun mendekati Bandara Halim Perdanakusuma, awak pesawat tak dapat melihat apapun secara visual karena kaca depan pesawat (windscreen) tampak terkena semburan pasir hingga menjadi rusak. Akhirnya Kapten pilot berhasil mendaratkan pesawat dengan mengandalkan instrumen pendaratan.
Menurut laman The Aviation Geek Club, pemeriksaan mendalam terhadap pesawat tersebut mengungkap kerusakan yang ditimbulkan oleh partikel-partikel halus abu vulkanik terhadap mesin dan bilah turbin. Sejak saat itu temuan-temuan tersebut dimasukkan ke dalam laporan mengenai bahaya abu vulkanik bagi pesawat terbang. British Airways Flight 009 bukanlah satu-satunya pesawat yang terdampak abu vulkanik Galunggung, sekitar 3 minggu setelahnya Boeing 747 milik Maskapai Singapore Airlines juga terdampak masalah ini dan untungnya dapat mendarat darurat di Jakarta dengan aman.
Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kamu mengenai betapa berbahayanya abu vulkanik akibat letusan gunung berapi terhadap dunia penerbangan, jadi bersabar ya kalau bandara ditutup sementara selama terjadinya erupsi sebuah gunung.




















