Apakah Air Hujan Buatan Boleh Ditampung? Ini Penjelasannya

Hujan buatan merupakan hasil modifikasi cuaca dengan penyemaian awan, bukan air yang dibuat manusia.
Air hujan buatan boleh ditampung, tetapi tetap dapat terkontaminasi dari udara, atap, talang, atau wadah penampungan.
Air hujan sebaiknya tidak langsung diminum dan perlu diuji serta diolah terlebih dahulu agar aman dikonsumsi.
Hujan buatan kerap digunakan untuk membantu mengatasi kondisi tertentu, seperti kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga mengurangi polusi udara. Prosesnya dilakukan dengan memanfaatkan awan yang sudah tersedia dan memiliki potensi untuk menghasilkan hujan. Dalam proses tersebut, bahan tertentu disemai ke dalam awan untuk mendorong terbentuknya atau mempercepat turunnya hujan.
Karena melibatkan bahan dalam proses pembuatannya, muncul anggapan bahwa air hujan buatan tidak aman untuk ditampung atau digunakan. Padahal, keamanan air hujan yang ditampung tidak hanya ditentukan oleh proses modifikasi cuaca, tetapi juga oleh kondisi tempat penampungan dan kualitas airnya. Lantas, apa yang perlu diketahui sebelum menampung dan menggunakan air hujan hasil modifikasi cuaca? Yuk, simak di bawah ini!
1. Mengenal apa itu hujan buatan

ilustrasi awan (pexels.com/Vladyslav Huivyk) Hujan buatan sebenarnya merupakan bagian dari operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan untuk membantu proses alami pembentukan hujan di dalam awan. Dilansir Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), OMC tidak menciptakan hujan dari nol, tetapi memengaruhi proses di dalam awan yang sudah terbentuk agar hujan dapat turun lebih cepat atau intensitasnya berubah. Dalam prosesnya, petugas melakukan penyemaian awan dengan memasukkan bahan tertentu ke dalam awan yang memenuhi kondisi untuk menghasilkan hujan.
Salah satu bahan yang digunakan adalah natrium klorida (NaCl) atau garam. Ini berfungsi sebagai inti kondensasi agar butiran air di dalam awan lebih mudah tumbuh. Jadi, istilah “hujan buatan” bukan berarti air tersebut dibuat secara langsung oleh manusia, melainkan proses turunnya hujan alami dibantu menggunakan teknologi. Karena bahan semai digunakan di dalam proses tersebut, muncul pertanyaan mengenai apakah air hujan hasil OMC aman ditampung dan digunakan.
2. Alasan air hujan buatan tidak bisa sembarangan ditampung

ilustrasi hujan (pexels.com/Min An) Air hujan hasil modifikasi cuaca tidak otomatis menjadi berbahaya hanya karena prosesnya menggunakan bahan penyemaian awan. Namun, air hujan yang ditampung tetap bisa terkontaminasi setelah jatuh ke permukaan, misalnya dari atap, talang, debu, kotoran hewan, atau wadah penampungan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kualitas air hujan dapat menurun selama proses pengumpulan, penyimpanan, hingga penggunaannya di rumah.
Oleh karena itu, air hujan yang ditampung sebaiknya tidak langsung diminum tanpa pengolahan yang sesuai. Kontaminasi mikroorganisme juga lebih mungkin ditemukan pada air yang terkumpul setelah hujan pertama. Karena itu, sistem penampungan sebaiknya memiliki mekanisme untuk membuang aliran awal tersebut. Jadi, yang perlu diperhatikan bukan semata-mata apakah hujan tersebut buatan atau alami, melainkan bagaimana air dikumpulkan, disimpan, dan diolah sebelum digunakan.
3. Cara aman menggunakan air hujan yang ditampung

ilustrasi hujan (pexels.com/Александр Лич) Air hujan yang ditampung sebaiknya digunakan sesuai dengan kualitas dan cara pengolahannya. Mengutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), air hujan tidak selalu aman diminum karena dapat mengandung kuman dan bahan kimia meski terlihat bersih. Karena itu, air hujan lebih aman digunakan untuk menyiram tanaman yang tidak dimakan atau membersihkan benda yang tidak berkaitan dengan makanan.
Jika ingin digunakan untuk minum, memasak, atau mencuci bahan makanan, air hujan perlu diuji dan diolah terlebih dahulu untuk memastikan tidak mengandung kuman maupun zat berbahaya. CDC juga menyarankan agar sistem penampungan dirawat dengan baik dan aliran air hujan pertama dibuang karena dapat membawa lebih banyak kotoran, kuman, serta bahan kimia dari permukaan atap. Dengan begitu, air hujan tetap bisa dimanfaatkan tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kesehatan.
Pada dasarnya, air hujan buatan boleh ditampung, selama wadah dan sistem penampungannya dijaga kebersihannya. Air tersebut tidak otomatis berbahaya hanya karena berasal dari proses modifikasi cuaca, tetapi tetap dapat terkontaminasi kuman atau bahan kimia selama berada di udara maupun setelah mengenai atap dan talang. Jadi, mau itu alami atau buata, air hujan sebaiknya tidak langsung diminum tanpa pengujian dan pengolahan yang sesuai.




















