Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Daya Tarik Way Kambas, Pusat Konservasi Gajah Pertama di Indonesia

5 Daya Tarik Way Kambas, Pusat Konservasi Gajah Pertama di Indonesia
Gajah Sumatera (commons.wikimedia.org/SofianRafflesia)
  • Taman Nasional Way Kambas di Lampung, yang perlindungannya dimulai pada 1924 dan menjadi taman nasional pada 1991, berperan penting dalam konservasi satwa langka serta ekosistem.
  • Pusat Konservasi Gajah seluas 2.300 hektare dan Rumah Sakit Gajah pertama di Indonesia-Asia Tenggara menangani pelatihan, konflik, patroli, jerat, serta perawatan gajah sakit.
  • Way Kambas juga mengembangkan Suaka Rhino Sumatera, menaungi ratusan jenis satwa dan tumbuhan, serta ditetapkan sebagai ASEAN Heritage Park ke-36 pada 2016.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Taman Nasional Way Kambas merupakan kawasan konservasi penting di Provinsi Lampung. Perlindungannya dimulai pada 1924 saat hutan Way Kambas dan Cabang disisihkan sebagai hutan lindung. Kawasan ini mengalami perubahan status hingga ditetapkan sebagai taman nasional pada 1991 dan diperkuat melalui keputusan pada 26 Agustus 1999.

Way Kambas dikenal melalui konservasi satwa langka, terutama gajah Sumatera. Kawasan ini memiliki fasilitas perawatan gajah serta menjadi tempat konservasi badak Sumatera dan satwa lainnya. Berbagai fungsi tersebut membuat Way Kambas memiliki sejumlah daya tarik yang tidak hanya berkaitan dengan wisata alam, tetapi juga sejarah dan kegiatan konservasi.

  1. 1. Menjadi lokasi pusat latihan gajah pertama di Indonesia

    Gajah Sumatera
    Gajah Sumatera (commons.wikimedia.org/Andreas Christian)

    Pusat Latihan Gajah Way Kambas didirikan pada 27 Agustus 1985 saat konflik gajah dan manusia menjadi persoalan di sekitar kawasan. Pusat ini dibangun untuk melatih gajah binaan, termasuk yang pernah berkonflik atau terpisah dari kelompoknya. Fasilitas ini kemudian menjadi bagian penting dalam pengelolaan gajah Sumatera di Way Kambas.

    Pengelolaannya berkembang menjadi Pusat Konservasi Gajah dengan fungsi lebih luas. Ditjen KSDAE mencatat bahwa pusat ini memiliki luas mencapai 2.300 hektare dan pada 2021 menampung hingga 37 gajah jinak yang dipantau berkala. Gajah tersebut digunakan untuk penanganan konflik serta patroli kawasan dan jerat.

  2. 2. Memiliki rumah sakit gajah pertama di Indonesia

    Gajah Sumatera
    Gajah Sumatera (commons.wikimedia.org/Muredja)

    Way Kambas memiliki Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. H. Rubini Atmawidjaja sebagai fasilitas khusus penanganan gajah. Menurut Ditjen KSDAE, rumah sakit ini merupakan rumah sakit gajah pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang telah berdiri sejak 2012. Fasilitas tersebut menangani gajah sakit, korban bencana, atau terdampak konflik, termasuk akibat jerat.

    Rumah sakit tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat konservasi gajah di kawasan Way Kambas. Salah satu contoh penanganannya terlihat pada gajah bernama Erin yang menjadi korban jerah hingga belalainya putus. Tim dokter di rumah sakit memberikan berbagai perawatan medis untuk membantu proses pemulihannya.

  3. 3. Menjadi tempat konservasi badak Sumatera

    Badak Sumatera
    Badak Sumatera (flickr.com/Willem v Strien)

    Selain gajah, Way Kambas memiliki fasilitas konservasi badak Sumatera melalui Suaka Rhino Sumatera atau SRS. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pembangunan pusat pengembangbiakan tersebut dimulai pada 1996 di kawasan Taman Nasional Way Kambas. SRS dikembangkan untuk mendukung pengembangbiakan badak Sumatera.

    Konservasi badak juga mencakup penyediaan tumbuhan pakan. Ditjen KSDAE mencatat penanaman sembilan jenis tumbuhan pakan badak di kawasan penyangga Way Kambas, termasuk pulai, akar merah, sirihan, dan mahang. Kegiatan ini berkaitan dengan kajian botani, analisis pakan, dan pengembangan ekowisata.

  4. 4. Menyimpan keanekaragaman satwa dan tumbuhan

    Primata
    Primata (commons.wikimedia.org/Ridwansgh)

    Taman Nasional Way Kambas memiliki ekosistem yang menjadi habitat berbagai kelompok satwa. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat 406 jenis burung di kawasan ini, termasuk beberapa jenis dilindungi. Selain burung, terdapat pula reptil, amfibi, ikan, serangga, dan mamalia.

    Keanekaragaman hayati juga terlihat dari berbagai tumbuhan di kawasan taman nasional. Pemerintah Provinsi Lampung mencatat tumbuhan seperti api-api, pidada, nipah, gelam, salam, ketapang, cemara laut, pandan, puspa, meranti, dan ramin. Beragam tipe vegetasi tersebut menjadi bagian dari karakter ekosistem kawasan konservasi Way Kambas.

  5. 5. Memiliki status sebagai Taman Warisan ASEAN

    Gajah Sumatera
    Gajah Sumatera (commons.wikimedia.org/Ridwansgh)

    Way Kambas tidak hanya bernilai konservasi nasional, tetapi juga diakui di Asia Tenggara. Menurut Ditjen KSDAE, pada 2016 Taman Nasional Way Kambas ditetapkan sebagai ASEAN Heritage Park ke-36, salah satu kawasan Indonesia yang berstatus tersebut. Penetapan ini menjadi pengakuan atas nilai konservasi kawasan.

    Way Kambas memiliki bentang alam relatif datar hingga agak bergelombang dengan luas sekitar 125.621,3 hektare. Kawasan ini mencakup berbagai ekosistem dan wilayah penyangga di Lampung Timur, Lampung Tengah, serta Tulang Bawang. Status tersebut menunjukkan fungsi Way Kambas dalam melindungi keanekaragaman hayati dan mengelola kawasan konservasi.

    Way Kambas menunjukkan bagaimana kawasan konservasi dapat berperan dalam menjaga satwa dan ekosistem. Pusat latihan gajah hingga status ASEAN Heritage Park menjadi bagian dari nilai penting kawasan ini. Berbagai fungsi tersebut menjadikan Way Kambas bukan hanya habitat satwa liar, tetapi juga kawasan dengan sejarah panjang dalam perkembangan konservasi di Indonesia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More