Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Arsameia, Kota Kuno Peninggalan Kerajaan Commagene di Turki
Arsameia, Turki (commons.wikimedia.org/Klearchos Kapoutsis)
  • Arsameia di Provinsi Adıyaman, Turki, didirikan Raja Arsames sekitar 260 SM sebagai pangkalan militer di bukit terjal saat konflik Seleukia dan Ptolemaik melemahkan kekuatan regional.
  • Dalam Kerajaan Commagene, Arsameia menjadi satu dari tiga kota utama, berfungsi sebagai kediaman raja, pusat administrasi, dan ibu kota musim panas dengan pertahanan tembok ganda.
  • Pengaruh Yunani menguat setelah pernikahan Mithridates I dan Laodice VII; Antiochus I membangun makam suci bagi ayahnya, sementara relief raja-Herakles melambangkan legitimasi serta perpaduan Persia-Yunani.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di Provinsi Adıyaman, Turki, terdapat kota kuno bernama Arsameia yang pernah menjadi salah satu pusat penting Kerajaan Commagene. Kota ini dibangun di lereng perbukitan dan berkembang pada masa ketika wilayah tersebut berada di antara pengaruh Romawi dan Persia.

Arsameia menyimpan berbagai jejak sejarah Kerajaan Commagene, mulai dari benteng pertahanan, istana musim panas, kompleks pemakaman kerajaan, hingga relief batu yang masih bertahan sampai sekarang. Setiap peninggalannya mencatat perkembangan politik, budaya, dan kepercayaan kerajaan pada masanya. Penasaran? Yuk, simak lima faktanya!

1. Pembangunan pangkalan militer oleh Raja Arsames

Arsameia, Turki (commons.wikimedia.org/Carole Raddato)

Sejarah awal berdirinya kota perbentengan ini tidak lepas dari dinamika politik di kawasan Anatolia selatan pada masa lampau. Dilansir laman Turkish Archaeological News, nama kota Arsameia pada Nymphaios merujuk pada sosok pendirinya yaitu Raja Arsames dari Armenia yang merebut kekuasaan sekitar tahun 260 Sebelum Masehi. Letak geografis kota baru ini sengaja dirancang di atas bukit yang sangat terjal sebagai benteng pertahanan utama guna membendung pergerakan pasukan musuh.

Pembangunan pangkalan militer di wilayah bukit terjal ini dipicu oleh pecahnya Perang Suriah antara Kekaisaran Seleukia melawan Kerajaan Mesir Ptolemaik. Konflik berkepanjangan tersebut menguras sumber daya dua kekuatan besar, sehingga memberikan celah bagi penguasa lokal seperti Arsames untuk memisahkan diri dan mendirikan wilayah kekuasaan mandiri.

2. Fungsi istana musim panas Kerajaan Commagene di puncak bukit

Arsameia, Turki (commons.wikimedia.org/Klaus-Peter Simon)

Seiring berkembangnya Kerajaan Commagene, Arsameia tidak lagi hanya berfungsi sebagai benteng pertahanan. Masih dari laman Turkish Archaeological News, Arsameia merupakan salah satu dari tiga kota utama di Kerajaan Commagene selain Samosata dan Gerger. Wilayah strategis ini berfungsi sebagai tempat tinggal resmi para raja sekaligus pusat kendali administrasi pemerintahan kerajaan.

Lokasi ini dipilih sebagai ibu kota musim panas karena suhunya yang jauh lebih sejuk dan nyaman dibandingkan dataran rendah sekitarnya. Bagian tertinggi dari puncak perbukitan ini dikelilingi oleh tembok pertahanan ganda yang tebal untuk melindungi kompleks bangunan istana megah dari potensi ancaman pengepungan luar.

3. Pernikahan politik yang membawa pengaruh Yunani

Arsameia, Turki (commons.wikimedia.org/Carole Raddato)

Pada masa pemerintahan Raja Mithridates I Kallinikos, Kerajaan Commagene memperkuat hubungan politik dengan Dinasti Seleukia yang berakar pada kebudayaan Yunani Helenistik. Dilansir laman La Brújula Verde, Raja Mithridates I Kallinikos memperkuat posisi politik kerajaannya dengan menikahi Laodice VII Thea Philadelphus, putri dari penguasa Kekaisaran Seleukia. Hubungan diplomatik melalui ikatan keluarga ini turut mempererat hubungan Commagene dengan dunia Yunani Helenistik.

Pernikahan politik tersebut membawa pengaruh budaya Yunani yang semakin kuat di lingkungan istana Commagene. Gaya hidup bangsawan, tata cara upacara resmi, hingga sistem administrasi kerajaan mulai mengadopsi tradisi Yunani Helenistik. Mithridates juga menggunakan berbagai gelar bergaya Yunani untuk memperkuat legitimasi kekuasaannya, yang kemudian diwariskan kepada putranya, Antiochus I.

4. Pembangunan makam suci untuk sang ayah

Hierothesion, Arsameia, Turki (commons.wikimedia.org/Klearchos Kapoutsis)

Warisan silsilah campuran dari pernikahan tersebut kemudian diwujudkan oleh generasi penerus melalui proyek arsitektur suci yang monumental. Masih dari laman La Brújula Verde, Raja Antiochus I mendirikan sebuah kompleks pemakaman suci khusus bagi anggota keluarga kerajaan yang disebut dengan istilah hierothesion. Pembangunan kompleks ini menjadi simbol penghormatan tertinggi seorang anak laki-laki kepada mendiang orang tuanya.

Kompleks peribadatan di lereng perbukitan Arsameia ini secara spesifik didedikasikan sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi ayahnya, Mithridates I Kallinikos. Area tersebut dirancang sedemikian rupa dengan teras-teras batu yang luas sebagai pusat pelaksanaan ritual kultus tahunan.

5. Relief jabat tangan simbol legitimasi kekuasaan

Relief Raja Commagene berjabat tangan dengan dewa Herakles (commons.wikimedia.org/Carole Raddato)

Salah satu peninggalan paling terkenal di Arsameia adalah relief dexiosis yang dipahat pada dinding batu. Dilansir laman Kurdish History, relief ini menggambarkan Raja Commagene berjabat tangan dengan dewa Herakles. Ukirannya masih memperlihatkan detail pahatan yang halus meski telah berusia lebih dari dua ribu tahun.

Relief tersebut memperlihatkan perpaduan unsur Persia dan Yunani yang menjadi ciri khas Kerajaan Commagene. Bagi para penguasanya, penggambaran raja berdampingan dengan dewa menjadi simbol legitimasi sekaligus menunjukkan identitas budaya kerajaan yang berada di antara dua tradisi besar.

Meski telah berusia lebih dari dua ribu tahun, Arsameia masih menyimpan banyak peninggalan bersejarah yang menarik untuk dipelajari. Berbagai peninggalan yang masih bertahan hingga kini menjadikan kota kuno Arsameia sebagai salah satu situs arkeologi penting di Turki sekaligus warisan berharga dari Kerajaan Commagene.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article