Palila (Loxioides bailleui) merupakan salah satu burung paling langka di dunia. Burung ini termasuk kelompok burung madu Hawaii (Hawaiian honeycreeper) yang hanya ditemukan di Pulau Hawaii, Amerika Serikat. Keunikan palila terletak pada hubungannya yang erat dengan pohon mamane. Bahkan, kerusakan hutan mamane bisa menjadi ancaman besar bagi kelangsungan hidupnya, lho. Penasaran dengan burung satu ini? Yuk, kenalan lebih dekat dengan palila lewat lima faktanya berikut!
5 Fakta Burung Palila, Menjalin Hubungan Erat dengan Pohon Mamane

1. Hanya hidup di lereng Gunung Mauna Kea, Hawaii
Palila merupakan burung endemik Pulau Hawaii. Dilansir Birdlife Datazone, burung ini hanya ditemukan di lereng barat Gunung Mauna Kea. Ia menghuni habitat hutan kering pada ketinggian sekitar 2.000–3.000 meter di atas permukaan laut. Sekitar 96 persen populasinya terkonsentrasi di habitat seluas sekitar 4.600 hektare.
Dahulu, wilayah persebaran palila jauh lebih luas, lho. Burung ini pernah ditemukan di Gunung Mauna Loa, Gunung Hualālai. Bahkan, bukti fosil menunjukkan bahwa burung ini pernah hidup di Pulau Kauaʻi dan Oʻahu. Kini, seluruh populasi liarnya hanya tersisa di satu kawasan sehingga sangat rentan terhadap gangguan alam maupun aktivitas manusia.
2. Anggota honeycreeper berparuh finch yang masih bertahan
Palila merupakan salah satu anggota honeycreeper berparuh finch yang masih bertahan saat ini di Hawaii. Dilansir Birds of the World, burung ini memiliki panjang tubuh sekitar 19 sentimeter dengan berat sekitar 38 gram. Kepalanya berwarna kuning cerah, sedangkan punggungnya abu-abu, perutnya putih, dan sayapnya hijau zaitun. Ciri khas dari burung ini adalah paruhnya yang tebal dan kuat. Paruh kuat ini berperan penting baginya untuk membuka polong mamane yang terkenal keras.
3. Menjalin hubungan erat dengan pohon mamane
Hubungan palila dengan pohon māmane sangatlah erat. Pohon ini bukan hanya menyediakan makanan, tetapi juga menjadi tempat bersarang, beristirahat, dan mencari perlindungan. Ketersediaan biji mamane sangat menentukan kelangsungan hidup dan keberhasilan reproduksi burung ini. Ketika terjadi kekeringan, produksi biji māmane akan menurun drastis. Kondisi tersebut membuat banyak palila memilih tidak berkembang biak karena makanan tidak mencukupi.
4. Populasinya terus menurun akibat berbagai ancaman
Palila kini berstatus kritis (critically endangered) karena populasinya terus mengalami penurunan. Dilansir Birdlife Datazone, dalam tiga generasi terakhir, jumlah individunya diperkirakan telah berkurang sekitar 50–60 persen. Saat ini, populasi dewasanya diperkirakan hanya sekitar 800–1.200 ekor, sehingga palila menjadi salah satu burung langka di Hawaii.
Penurunan populasi tersebut dipicu oleh berbagai ancaman yang terjadi secara bersamaan. Hilangnya habitat, kekeringan, kebakaran hutan, dan perubahan iklim membuat hutan mamane semakin rusak. Telur dan anak Palila sering menjadi sasaran predator seperti kucing liar, tikus hitam, dan burung hantu. Kehadiran tumbuhan invasif serta domba liar juga turut menghambat regenerasi pohon māmane, sehingga habitat burung ini terus menyusut.
5. Berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan palila
Mengutip dari laman BirdLife DataZone, populasi palila telah dipantau secara rutin sejak 1980. Pemerintah bersama berbagai organisasi konservasi juga terus berupaya memulihkan hutan māmane, mengendalikan domba dan kambing liar, memberantas tumbuhan invasif, serta mengurangi jumlah predator seperti kucing liar. Selain itu, kawasan habitat penting dipagari dan dilindungi agar kerusakannya tidak semakin meluas.
Para ahli juga menjalankan program penangkaran dan pelepasliaran palila ke habitat yang sesuai. Berbagai penelitian terus dilakukan untuk memahami penyebab penurunan populasinya sekaligus mencari strategi konservasi yang lebih efektif. Meskipun tantangannya masih besar, upaya-upaya tersebut memberikan harapan agar palila dapat terus bertahan dan terhindar dari kepunahan.
Palila menjadi bukti bahwa hilangnya satu jenis habitat dapat mengancam kelangsungan hidup seluruh spesies. Ketergantungannya pada pohon māmane membuat burung ini sangat rentan terhadap kerusakan hutan, perubahan iklim, hingga masuknya spesies invasif. Berbagai upaya konservasi memang terus dilakukan, tetapi keberhasilannya juga membutuhkan dukungan masyarakat untuk menjaga kelestarian alam.
Curated For You
- 7 Fakta Hewan Nokturnal, Tak Sekadar Bangun di Malam Hari08 Mar 2026, 20:15 WIB
- 5 Fakta Hewan yang Selama Ini Hidup dengan Organ Tubuh Tak Lengkap! 24 Nov 2025, 14:01 WIB