Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Candi Sukuh, Eksotis di Lereng Lawu tapi Tetap Sakral

5 Fakta Candi Sukuh, Eksotis di Lereng Lawu tapi Tetap Sakral
Candi Sukuh (Adri45an, CC0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu memiliki arsitektur unik berbentuk trapesium berundak, berbeda dari candi Hindu lain dan mencerminkan gaya lokal masa peralihan budaya.
  • Relief dan arca bertema kesuburan di Candi Sukuh menggambarkan simbol lingga-yoni sebagai lambang kehidupan dan penyucian spiritual, bukan unsur vulgar seperti yang sering disalahartikan.
  • Dibangun pada masa akhir Majapahit sekitar 1437 M, Candi Sukuh menjadi saksi transisi budaya Hindu-Jawa menuju era baru serta masih digunakan untuk ritual keagamaan hingga kini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Keindahan Jawa Tengah memang tak pernah habis untuk dieksplorasi. Di antara hamparan hijaunya perbukitan dan megahnya pegunungan, tersimpan sebuah permata sejarah yang memukau sekaligus menyimpan banyak misteri. Berlokasi di lereng Gunung Lawu, sebuah candi berdiri kokoh dengan arsitektur yang unik, jauh berbeda dari bayangan candi Hindu pada umumnya.

Candi Sukuh, namanya. Bangunan ini bukan sekadar tumpukan batu kuno biasa. Ia adalah saksi bisu perjalanan waktu, simbol sebuah peradaban yang berangsur memudar, sekaligus rumah bagi kisah-kisah filosofis yang mungkin belum banyak kamu tahu. Siap-siap dibuat takjub dengan lima fakta menarik tentang Candi Sukuh berikut ini!

1. Arsitekturnya beda jauh dari candi Hindu lain, mirip punden berundak

potret Candi Sukuh saat masa Hindia-Belanda
potret Candi Sukuh saat masa Hindia-Belanda (Anonim, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Ketika mendengar kata "candi Hindu", mungkin bayangan kita langsung tertuju pada bangunan tinggi menjulang dengan ornamen rumit, seperti Candi Prambanan. Namun, Candi Sukuh justru menampilkan pemandangan yang kontras. Arsitekturnya berbentuk trapesium dan berteras-teras, mengingatkan kita pada punden berundak dari masa megalitik, sebelum pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Nusantara.

Struktur berundak dengan bagian depan teras lebih luas dan menyempit di belakang ini menjadi ciri khasnya. Beberapa ahli bahkan menyebut kemiripannya dengan piramida suku Maya di Amerika Tengah atau suku Inca di Peru. Keunikan ini membuat Candi Sukuh menjadi salah satu candi yang paling "nyeleneh" di Indonesia, menonjolkan gaya lokal yang kuat di tengah dominasi arsitektur candi Hindu klasik.

2. Relief vulgar yang punya makna mendalam

Salah satu aspek paling mencolok dan sering kali kontroversial dari Candi Sukuh adalah keberadaan relief dan arca yang menampilkan tema seksualitas secara gamblang. Kamu akan menemukan ukiran lingga (kelamin pria) dan yoni (kelamin wanita) yang saling berhadapan di lantai gapura. Tak hanya itu, ada pula arca manusia tanpa kepala yang memegang alat kelamin, hingga arca kelamin pria yang dipahat jelas.

Namun, jangan salah sangka. Ukiran-ukiran ini jauh dari kesan pornografi atau tabu. Bagi masyarakat pada masanya, gambaran lingga dan yoni merupakan simbol kesuburan, awal kehidupan, dan harapan untuk melahirkan generasi yang baik. Relief ini juga dipercaya memiliki fungsi spiritual untuk menyucikan pengunjung yang melangkahinya dari segala kotoran. Bahkan, ada mitos yang menyebut relief ini sebagai "uji keperawanan" calon pengantin zaman dulu. Selain itu, ada juga relief yang mengisahkan fragmen Bima Suci, melambangkan kehendak kuat dalam mencapai kesempurnaan rohani.

3. Ditemukan saat era Inggris, lalu terus diteliti

Candi Sukuh
Candi Sukuh (Adri45an, CC0, via Wikimedia Commons)

Keberadaan Candi Sukuh pertama kali dilaporkan pada tahun 1815 oleh Jenderal Johnson, seorang Residen Surakarta. Penemuan ini terjadi di bawah perintah Gubernur Letnan Hindia Belanda, Thomas Stamford Raffles, yang kala itu tengah menyusun mahakaryanya, The History of Java. Penemuan ini sontak memicu diskusi sengit di kalangan arkeolog dan masyarakat.

Setelah masa pemerintahan Inggris berakhir, penelitian candi ini dilanjutkan oleh arkeolog Belanda, Van der Vlis, pada tahun 1842. Hasil penelitiannya dituangkan dalam tulisan berjudul Prove Eener Beschrijten op Soekoeh en Tjeto. Sejak itu, berbagai upaya pelestarian dan penelitian terus dilakukan, termasuk pemugaran oleh Dinas Purbakala pemerintah kolonial Belanda pada 1917 dan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di akhir 1970-an, hingga yang terbaru oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

4. Menjadi saksi akhir kejayaan Majapahit

potret prasasti di Candi Sukuh
potret prasasti di Candi Sukuh (Meursault2004, CC BY-SA 3.0, via Wikipedia)

Candi Sukuh diperkirakan dibangun pada abad ke-15 Masehi, tepatnya sekitar tahun 1437 M atau 1359 Saka, di masa pemerintahan Ratu Suhita (1429–1446) dari Kerajaan Majapahit. Periode ini merupakan fase-fase terakhir kejayaan Majapahit, menjelang keruntuhannya dan masuknya pengaruh Islam di Pulau Jawa.

Karena dibangun pada periode transisi dan akhir Hindu-Jawa, Candi Sukuh dijuluki sebagai "The Last Temple" atau candi Hindu terakhir yang ditinggalkan oleh Kerajaan Majapahit. Keberadaannya menjadi penanda sebuah era penting dalam sejarah Nusantara, di mana kepercayaan dan kebudayaan mengalami pergeseran besar. Ini menunjukkan adaptasi seni dan spiritualitas di tengah perubahan zaman yang tak terelakkan.

5. Lokasi di ketinggian Gunung Lawu yang sakral

Gunung Lawu
Gunung Lawu (Ahmadafif1995, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Berdiri tegak di ketinggian 1.186 meter di atas permukaan laut (mdpl), Candi Sukuh terletak di lereng barat Gunung Lawu, tepatnya di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasinya yang berada di ketinggian ini tidak hanya menawarkan pemandangan alam yang menawan—termasuk panorama Kota Solo, hamparan sawah, dan hutan Gunung Lawu—tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam.

Gunung Lawu sendiri diyakini sebagai kawasan yang disucikan oleh umat Hindu di Pulau Jawa, dianggap sebagai pecahan dari Gunung Mahameru yang dibawa oleh para dewa dari India. Karena itulah, area ini sering digunakan sebagai tempat pertapaan dan pemujaan. Hingga kini, Candi Sukuh masih aktif digunakan sebagai tempat persembahyangan bagi umat Hindu, terutama saat hari-hari suci seperti Galungan, Kuningan, Saraswati, dan Banyupinaruh, yang banyak menarik pengunjung dari Bali.

Candi Sukuh memang lebih dari sekadar tumpukan batu. Ia adalah perpaduan unik antara arsitektur lokal dan nilai-nilai filosofis mendalam yang patut kita jaga kelestariannya. Semoga artikel ini bisa menambah wawasanmu tentang salah satu warisan budaya Indonesia yang luar biasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More