Afrika merupakan rumah bagi berbagai spesies antelope bertanduk. Salah satu di antaranya adalah lechwe nil (Kobus megaceros). Ia termasuk spesies antelope berukuran besar, punya tanduk panjang, dan tubuhnya berwarna gelap. Tak hanya itu, ada berbagai fakta menarik lechwe nil yang membedakannya dari spesies lain.
5 Fakta Menarik Lechwe Nil, Antelope Pemakan Tumbuhan Air

- Lechwe nil adalah antelope besar endemik Afrika yang hidup di daerah rawa Ethiopia dan Sudan Selatan, beradaptasi dengan kuku panjang untuk bergerak di area lembap.
- Hewan ini aktif pada waktu petang dan fajar, hidup berkelompok hingga ratusan individu, serta berkomunikasi lewat sinyal visual dan suara mirip katak.
- Mengonsumsi tumbuhan air sebagai makanan utama, lechwe nil kini terancam punah akibat perburuan liar, kerusakan habitat, dan konflik manusia di wilayah sebarannya.
Pertama, ia kerap ditemukan di area lembap seperti rawa. Makanannya juga tak jauh dari tumbuhan air. Lechwe nil juga bisa berkomunikasi dengan suara, membuktikan kalau ia merupakan hewan yang sangat cerdas. Mau tahu lebih dalam terkait semua fakta tersebut? Simak penjelasannya di bawah ini, yuk!
1. Berkomunikasi dengan sinyal visual dan suara

Nechwe nil merupakan hewan yang cukup vokal karena bisa berkomunikasi dengan dua metode, yaitu menggunakan sinyal visual dan suara. Ketika dihadapkan dengan pertarungan, hewan ini akan berdiri dengan dua kaki dan menggerakan kepalanya ke samping untuk mengintimidasi lawan. Untuk menyerang lawan, ia akan menggunakan tanduknya yang kuat dan keras. Dilansir ARKive, individu betina nechwe nil juga cukup berisik karena ia akan mengeluarkan suara keras yang mirip dengan katak ketika sedang bergerak.
2. Lechwe nil adalah spesies krepuskular

Laman Animalia menerangkan kalau nechwe nil merupakan hewan krepuskular. Artinya, ia sangat aktif pada petang dan fajar. Selain itu, ia juga kerap beraktivitas pada siang hari. Nechwe nil termasuk hewan yang hidup secara berkelompok. Umumnya, satu kelompok berisikan sekitar 50 hingga 500 individu. Menariknya, kelompok tersebut masih dibagi lagi menjadi tiga grup.
Ketiganya adalah individu betina dan anakan, individu jantan muda, dan jantan dewasa yang memiliki teritori. Di beberapa kesempatan, jantan dewasa juga akan mengizinkan inidividu jantan muda untuk masuk ke teritorinya. Kesempatan tersebut membuatnya bisa mendapatnya makanan hingga 12 kali lipat lebih banyak daripada individu jantan muda yang lain.
3. Tumbuhan air jadi makanan favoritnya

Dilansir San Diego Zoo Wildlife Alliance, nechwe nil sudah beradaptasi untuk menjadi spesies yang hidup di area lembap. Karena itu, makanannya tak jauh dari tumbuhan air seperti rumput dan vegetasi yang tumbuh di rawa atau perairan. Untuk mendukung gaya hidupnya lechwe nil juga memiliki kemampuan berenang yang baik.
Lechwe nil juga mengembangkan beberapa adaptasi untuk hidup area lembap. Salah satunya adalah hoove atau kuku yang lebih panjang dari antelope lain. Kuku panjang tersebut memudahkannya untuk bergerak di area lembap dan berlumpur. Ketika bertarung lechwe nil juga akan melakukannya di perairan. Terkadang, ia akan mencoba menenggelamkan lawannya di air.
4. Lechwe nil hidup di daerah lembap Afrika

Lechwe nil merupakan satwa endemik Afrika yang bisa dijumpai di Ethiophia dan Sudan Selatan. Terdapat dua daerah yang menjadi pusat populasinya, yaitu Rawa-rawa Sudds (di Sudan Selatan) dan Taman Nasional Gambela (Ethiophia). Dikutip iNaturalist, lechwe nil biasanya dapat ditemukan di perairan dangkal yang berada di pinggiran rawa. Umumnya, mamalia ini akan memilih perairan yang kedalaman airnya sekitar 10-40 centimeter. Di habitatnya, nechwe nil juga kerap berjumpa dengan spesies antelope lain.
5. Lechwe nil masuk ke kategori endangered

Data di IUCN Red List mengungkap fakta kalau lechwe nil merupakan satwa terancam yang masuk ke kategori endangered. Survey pada 1983 mencatat kalau hanya tersisa sekitar 30,000 hingga 40,000 individu yang masih hidup di alam liar. Populasinya terus menurun dan hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal, yaitu aktivitas manusia, kerusakan habitat, perburuan liar, hingga adanya perang saudara di beberapa daerah. Kehadiran predator seperti macan tutul, buaya, dan singa juga cukup mengancam hewan ini.
Posisi lechwe nil sebagai satwa endemik memberikan makna penting bagi masyarakat Afrika. Ia bukan sekadar hewan bertanduk yang hidup di rawa, tapi merupakan satwa yang kehidupannya harus dijaga oleh semua orang entah itu pemerintah, pemerhati lingkungan, atau masyarakat sipil. Sungai tak boleh kotor, upaya konservasi harus digayangkan, dan perburuan liar harus dihentikan.


















