Marah dan sedih adalah emosi yang wajar dialami setiap manusia, terutama ketika ada sesuatu yang mengganjal di hati maupun pikiran. Luapan emosi ini bisa keluar lewat ucapan, maupun tulisan. Menariknya, bahasa yang digunakan pun beragam, mulai dari bahasa ibu hingga bahasa kedua (biasanya bahasa Inggris). Uniknya, beberapa orang merasa "plong" atau lega jika marah pakai bahasa Inggris.
Kenapa Kita Merasa "Plong" jika Marah Pakai Bahasa Inggris?

- Banyak orang merasa lebih lega marah dalam bahasa Inggris karena bahasa kedua menciptakan jarak emosional, membuat kata-kata terasa lebih ringan dan tidak terlalu menyakitkan.
- Penelitian menunjukkan amigdala bereaksi lebih kuat pada bahasa ibu, sedangkan bahasa kedua mengaktifkan korteks prefrontal yang membantu mengontrol emosi agar tidak meledak.
- Kebiasaan menonton media berbahasa Inggris membentuk pola ekspresi emosi, sehingga saat marah, otak cenderung memilih kata-kata yang sering terdengar dari media tersebut.
Sebenarnya, mengapa banyak orang justru merasa lebih lega saat meluapkan emosi menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Inggris? Jawabannya bisa ditelusuri dari temuan para peneliti, dan menariknya, hal ini juga sangat dekat dengan keseharian kita.
Bahasa kedua mampu menciptakan jarak emosional, membuat perasaan terasa lebih ringan dan tidak terlalu menusuk. Ditambah lagi, kebiasaan berbahasa, lingkungan, serta paparan media ikut membentuk bagaimana seseorang mengekspresikan emosinya. Dari sinilah muncul beberapa alasan yang menjelaskan fenomena tersebut.
1. Adanya emotional distance atau jarak emosional

Bahasa ibu, seperti bahasa Indonesia atau bahasa daerah, memiliki ikatan emosional yang sangat kuat karena dipelajari sejak kecil. Setiap kata terasa lebih “tajam” dan sering menimbulkan rasa bersalah saat diucapkan. Sebaliknya, bahasa kedua tidak memiliki beban emosional sebesar itu, sehingga terasa lebih “aman” dan tidak terlalu menyakitkan.
Penelitian Catherine Harris dalam Emotional Resonance in Native and Secondary Languages menunjukkan bahwa tubuh manusia bereaksi lebih kuat terhadap kata-kata emosional atau tabu dalam bahasa ibu dibandingkan dengan bahasa kedua.
2. Kekuatan emosional kata

Jean-Marc Dewaele dalam bukunya Emotions in Multiple Languages menemukan bahwa kata-kata emosional seperti makian atau ungkapan cinta memiliki “kekuatan” lebih besar di otak ketika diucapkan dalam bahasa ibu. Karena kita tidak tumbuh dengan bahasa asing, kata-kata kasar dalam bahasa Inggris sering terasa kurang “berdosa” atau tidak terlalu tabu. Hal ini membuat seseorang merasa lebih bebas mengekspresikan emosi tanpa beban moral yang besar.
3. Efek filter media

Banyak orang terbiasa melihat adegan marah, berdebat, atau memaki melalui film, serial, maupun media sosial terutama dalam bahasa Inggris. Tanpa sadar, otak menyimpan itu sebagai “template” ekspresi. Saat emosi memuncak, kata-kata yang muncul sering berasal dari apa yang paling sering didengar.
4. Perbedaan reaksi otak

Penelitian menunjukkan bahwa saat menggunakan bahasa ibu, amigdala (bagian otak yang memproses emosi) bereaksi lebih kuat. Sebaliknya, saat menggunakan bahasa kedua, korteks prefrontal—bagian otak yang berperan dalam logika dan kontrol diri—lebih dominan. Artinya, marah menggunakan bahasa Inggris bisa menjadi cara otak “mengerem” emosi agar tidak terlalu meledak, sekaligus memberi rasa kontrol terhadap situasi.
5. Ada jarak psikologis (detachment)

Bahasa ibu terhubung erat dengan sistem limbik karena berkaitan dengan memori masa kecil dan pengalaman emosional mendalam. Bahasa kedua lebih banyak diproses secara kognitif, sehingga menciptakan jarak psikologis dari emosi. Inilah yang membuat emosi terasa lebih mudah dikelola ketika diungkapkan dalam bahasa asing.
6. Peran dominansi bahasa

Preferensi bahasa saat emosi juga dipengaruhi oleh dominansi bahasa, yakni seberapa sering bahasa tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin terbiasa seseorang menggunakan bahasa kedua dalam interaksi sosial, semakin besar kemungkinan bahasa itu menjadi saluran ekspresi saat emosi memuncak.
Jadi, kalau pernah merasa lebih “plong” saat marah pakai bahasa Inggris, kamu tidak sendirian. Otak memang bekerja dengan cara yang unik untuk melindungi diri dari luapan emosi.. Namun pada akhirnya, memahami perasaan sendiri jauh lebih penting daripada sekadar memilih bahasa untuk meluapkannya.
Referensi
"Cognitive linguistics and the study of gesture". PMC - NCBI. Diakses Februari 2026.
"Emotion Vocabulary in Interlanguage". ResearchGate. Diakses Februari 2026.

















