5 Fakta Greater Adjutant, Bangau Langka yang Bangkit dari Ambang Punah

- Greater adjutant atau hargila adalah bangau besar langka yang dulu tersebar di Asia Selatan dan Tenggara, kini hanya bertahan di India serta Kamboja akibat hilangnya habitat alami.
- Burung ini dikenal sebagai pemakan bangkai dan tulang, berperan penting menjaga kebersihan ekosistem meski sering dianggap kotor karena mencari makan di tempat pembuangan sampah.
- Upaya konservasi oleh Purnima Devi Barman melalui komunitas Hargila Army berhasil meningkatkan populasi hingga statusnya naik menjadi Near Threatened pada 2023.
Bangau sering kali diasosiasikan sebagai sosok burung anggun dan elegan. Namun, anggapan itu tak berlaku bagi greater adjutant. Burung raksasa dengan nama ilmiah Leptoptilos dubius ini justru dicap sebagai hewan kotor dan pembawa sial. Kira-kira kenapa yah? Padahal di balik reputasinya yang kurang baik ini, tersimpan kisah ekologi unik sekaligus inspiratif.
Dikenal dengan nama lokal hargila atau “penelan tulang", spesies ini pernah berada di ambang kepunahan akibat semakin hilangnya habitat dan konflik dengan manusia. Kira-kira konflik seperti apa yang dihadapi bangau ini? Yuk, kenalan lebih dekat dengannya lewat lima fakta greater adjutant berikut ini!
1. Salah satu bangau terbesar dan paling langka di dunia

Greater adjutant merupakan salah satu bangau terbesar di dunia. Dilansir Animal Diversity Web, tingginya bisa mencapai sekitar 1,2‒1,5 meter dengan bentang sayap lebih dari 2 meter. Wah, sangat besar, bukan? Tubuhnya didominasi warna putih dengan sayap hitam yang memiliki tepian putih.
Ciri khas yang paling mudah dikenali darinya adalah kepala dan leher yang hampir botak. Kondisi ini bukan tanpa alasan, melainkan bentuk adaptasi untuk mencegah kotoran menempel saat burung ini memakan bangkai. Selain itu, greater adjutant juga memiliki kantung gular berwarna kuning-jingga yang menggantung di lehernya, membuat penampilannya semakin unik.
Dilansir Birdlife Data Zone, dahulu spesies ini tersebar luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara, mulai dari Pakistan, India, Nepal, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja hingga Vietnam. Namun kini, populasinya telah menghilang dari sebagian besar wilayah tersebut. Greater adjutant saat ini hanya bertahan di India yang terbatas di wilayah Assam dan Bihar serta di Kamboja dengan koloni yang tersisa di kawasan Prek Toal. Mereka mendiami habitat lahan basah seperti rawa-rawa, danau, serta padang rumput dan ladang.
2. Dijuluki si 'penelan tulang' karena pola makannya yang tak biasa

Nama lokal hargila muncul bukan tanpa alasan, lho! Nama yang berasal dari bahasa Assam ini memiliki arti penelan tulang. Julukan ini merujuk pada kebiasaan makan greater adjutant yang dikenal sebagai bangau karnivora sekaligus pemakan bangkai yang dapat menelan dan mencerna tulang utuh dengan paruh besarnya.
Dilansir Jurnal Ethnobiology Letters, selain bangkai, mereka juga memangsa ikan, katak, ular, tikus, bahkan burung kecil seperti bebek. Meski kerap dianggap menjijikan karena memakan bangkai, tapi secara ekologis peran mereka sangatlah penting. Sebagai pemakan bangkai, greater adjutant membantu membersihkan lingkungan dari sisa hewan mati yang berpotensi menjadi sumber penyebaran penyakit.
3. Sering dijumpai di tempat pembuangan sampah untuk mencari makan

Penyusutan habitat alami memaksa bangau greater adjutant beradaptasi dengan lingkungan yang semakin dekat dengan aktivitas manusia. Berkurangnya lahan basah yang selama ini menjadi tempat mereka mencari ikan, membuat burung ini harus memanfaatkan sumber makanan alternatif.
Salah satu lokasi yang kerap mereka datangi adalah tempat pembuangan sampah (TPS). Di sana, mereka datang secara berkelompok untuk mengais sisa makanan dan bangkai. Kebiasaan inilah yang kemudian memperkuat stigma negatif di masyarakat, sehingga burung ini kerap dianggap menjijikan dan kotor.
4. Dikenal sebagai burung sosial yang bersarang secara berkelompok

Greater adjutant merupakan burung sosial yang kerap ditemukan dalam kawanan besar. Saat musim berkembang biak, mereka membangun sarang secara berkelompok di satu area yang sama. Pohon-pohon tinggi dengan kanopi lebat menjadi pilihan utama mereka. Lokasi tersebut akan ditempatinya selama lima hingga enam bulan untuk membesarkan anak-anaknya.
Namun, karena habitat alaminya kini semakin terbatas dan banyak berada di dekat pemukiman manusia, kebiasaan ini sering memicu konflik. Kotoran dan sisa makanan yang jatuh dari sarang akhirnya mengotori tanah, pekarangan, bahkan atap rumah warga di bawahnya. Kondisi tersebut kerap menimbulkan bau tidak sedap. Akibatnya, tidak sedikit warga yang memilih menebang pohon sarang demi menjaga kebersihan lingkungan mereka.
5. Spesies hampir punah yang kini bangkit berkat aksi heroik Hargila Army

Pada tahun 2016, IUCN menetapkan greater adjutant sebagai spesies Endangered atau terancam punah akibat hilangnya habitat dan berbagai tekanan dari aktivitas manusia. Penolakan masyarakat terhadap keberadaan bangau ini semakin memperparah kondisinya. Tak jarang warga menebang pohon tempat mereka bersarang yang menyebabkan anak-anak burung jatuh ke tanah dan mati.
Kondisi memilukan ini disaksikan langsung oleh Purnima Devi Barman, seorang ahli biologi asal Desa Dardara, Assam, India. Hatinya terenyuh melihat anak-anak burung bangau yang tak berdaya menjadi korban. Peristiwa tersebut menjadi titik balik yang mendorongnya mendedikasikan hidup untuk menyelamatkan spesies ini.
Barman kemudian melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya peran ekologis greater adjutant. Perlahan, pendekatan berbasis komunitas yang ia lakukan membuahkan hasil. Dari upaya tersebut lahirlah Hargila Army, sebuah komunitas perempuan yang kini menjadi garda terdepan dalam konservasi bangau ini.
Kerja kolektif ini terbukti efektif meningkatkan populasi di habitat alaminya. Hingga pada tahun 2023, status konservasi bangau greater adjutant meningkat menjadi Near Threatened atau hampir terancam, satu tingkat lebih biak dibanding sebelumnya. Hal ini menjadi sebuah bukti bahwa perubahan cara pandang manusia bisa menyelamatkan suatu spesies makhluk hidup dari ambang kepunahannya.
Dari perjalanan konservasi hargila ini membuktikan bahwa konservasi paling efektif adalah yang tumbuh dari hati masyarakat itu sendiri. Semoga ke depannya, kita semakin memahami pentingnya kehadiran suatu spesies dalam habitatnya dan menjaga keberadaannya tetap lestari di bumi kita tercinta ini.






![[QUIZ] Kami Tahu Sisi Unik dalam Dirimu Dari Planet yang Kamu Pilih](https://image.idntimes.com/post/20250405/arnaud-mariat-45z6hw1dqmi-unsplash-0c8a11f39d749914d3f27e1b51d40721-a5fd1597f33847e86d0a4da09c93b0a6.jpg)










