5 Fakta Mountain Peacock-Pheasant, Pegar Langka dari Hutan Pegunungan

- Mountain Peacock-Pheasant adalah pegar pemalu dari pegunungan Semenanjung Malaya, dengan persebaran terbatas dan menetap di kawasan hutan seperti Main Range, Larut Range, Gunung Tahan, serta Gunung Benom.
- Jantan memiliki pola ocelli biru metalik dan hijau, ekor sekitar 20 bulu, serta dua taji; betina lebih kusam, berekor sekitar 18 bulu, dan tanpa taji.
- Burung ini hidup di hutan lembap 800–1.600 meter, mencari beri, biji, dan invertebrata di lantai hutan; kehilangan serta fragmentasi habitat mengancam populasinya.
Mountain Peacock-Pheasant (Polyplectron inopinatum) merupakan burung pegar berukuran sedang yang menghuni kawasan pegunungan di Semenanjung Malaya. Burung ini memiliki bulu dominan cokelat kemerahan dengan pola menyerupai mata atau ocelli yang memberikan kilau khas pada tubuhnya. Keindahan tersebut membuatnya menjadi salah satu anggota genus Polyplectron yang menarik untuk diamati.
Spesies ini dikenal sebagai burung yang pemalu dan lebih sering beraktivitas di lantai hutan daripada berada di tajuk pepohonan. Persebarannya juga relatif terbatas sehingga keberadaannya sangat berkaitan dengan kondisi hutan pegunungan yang masih terjaga. Berikut lima fakta menarik Mountain Peacock-Pheasant, pegar langka dari hutan pegunungan.
1. Memiliki pola seperti mata pada bulunya

burung polyplectron inopinatum (commons.wikimedia.org/Godbolemandar) Salah satu ciri paling menarik dari Mountain Peacock-Pheasant adalah pola ocelli yang terdapat pada bulunya. Pada jantan, pola tersebut memiliki warna biru metalik pada bagian atas tubuh dan hijau pada bulu ekor, sehingga dapat tampak berkilau ketika terkena cahaya. Mengutip Malaysia Biodiversity Information System, jantan juga memiliki ekor panjang dengan sekitar 20 bulu ekor, sedangkan betina memiliki ekor yang lebih pendek dengan sekitar 18 bulu.
Perbedaan penampilan antara jantan dan betina cukup jelas meskipun keduanya sama-sama memiliki tubuh berwarna cokelat gelap. Betina cenderung lebih kusam dengan pola ocelli berwarna hitam, sementara jantan memiliki warna biru dan hijau yang lebih mencolok. Jantan juga memiliki dua taji pada kakinya, sedangkan betina tidak memilikinya.
2. Penghuni pegunungan semenanjung malaya

burung polyplectron inopinatum (inaturalist.org/Ethan Beaver) Mountain Peacock-Pheasant merupakan spesies yang persebarannya terbatas di Semenanjung Malaya. Mengutip The BirdLife International Red Data Book, sebagian besar wilayah persebarannya berada di Semenanjung Malaysia, terutama kawasan pegunungan seperti Main Range, Larut Range, Gunung Tahan, dan Gunung Benom. Catatan keberadaan spesies ini juga mencakup beberapa kawasan seperti Cameron Highlands dan Fraser's Hill.
Keterbatasan persebaran tersebut membuat spesies ini sangat bergantung pada kawasan hutan pegunungan di wilayah tersebut. Mountain Peacock-Pheasant diketahui merupakan burung penetap yang tidak melakukan migrasi jarak jauh. Kondisi habitat di kawasan pegunungan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberadaan populasinya.
3. Hidup di hutan pegunungan yang lembap

burung polyplectron inopinatum (inaturalist.org/Nick K) Habitat utama Mountain Peacock-Pheasant berupa berupa hutan hijau berdaun lebar di kawasan pegunungan. Mengutip Common Birds of Malaysia, di semenanjung Malaysia, spesies ini umumnya ditemukan pada ketinggian sekitar 800 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut, meskipun terkadang dapat dijumpai pada ketinggian sekitar 600 meter. Kawasan hutan dengan kondisi lembap dan vegetasi yang masih terjaga menjadi habitat penting bagi burung ini.
Mountain Peacock-Pheasant lebih banyak menghabiskan waktunya di lantai hutan sambil mencari makanan di antara serasah daun. Burung ini dikenal pemalu dan cukup sulit diamati karena dapat bergerak diam-diam di balik vegetasi. Ketika berada di habitat yang sesuai, keberadaannya terkadang lebih mudah diketahui melalui suara daripada pengamatan langsung.
4. Mencari makanan di lantai hutan

burung polyplectron inopinatum (inaturalist.org/owling) Pola hidup di lantai hutan membuat Mountain Peacock-Pheasant memperoleh sebagian besar makanannya dari lingkungan sekitar. BirdForum menyebutkan bahwa makanannya mencakup buah beri dan biji-bijian, serta berbagai hewan kecil seperti kumbang, semut, cacing, dan invertebrata lainnya. Burung ini mencari sumber makanan dengan mengais atau mengaduk lapisan serasah yang menutupi permukaan tanah.
Ketersediaan makanan tersebut membuat kondisi vegetasi hutan memiliki peran penting bagi kehidupannya. Hutan yang masih menghasilkan buah, biji, serta menyediakan berbagai jenis serangga dapat mendukung kebutuhan pakan burung ini. Kebiasaan mencari makan di permukaan tanah juga membuat Mountain Peacock-Pheasant sangat bergantung pada kondisi lantai hutan yang masih alami.
5. Menghadapi ancaman akibat perubahan habitat

burung polyplectron inopinatum (inaturalist.org/John Turner Cambridge) Mountain Peacock-Pheasant menghadapi tekanan terutama karena wilayah persebarannya yang terbatas dan terfragmentasi. Hilangnya hutan akibat pembukaan lahan serta perkembangan kawasan dapat mengurangi habitat yang tersedia bagi spesies ini. Pembangunan infrastruktur di kawasan pegunungan juga pernah menjadi perhatian dalam kajian konservasinya karena berpotensi memperparah fragmentasi habitat.
Perlindungan kawasan hutan menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keberadaan spesies ini di alam. Mountain Peacock-Pheasant juga telah menjadi bagian dari program penangkaran dan konservasi di Malaysia, yang bertujuan mempertahankan populasi spesies tersebut. Upaya tersebut menunjukkan bahwa menjaga habitat alami sekaligus mendukung pengelolaan populasi dapat menjadi bagian dari strategi konservasi burung pegar ini.
Mountain Peacock-Pheasant merupakan burung khas pegunungan Semenanjung Malaya yang memiliki penampilan menarik sekaligus kehidupan yang cukup tersembunyi. Pola ocelli biru dan hijau pada jantan menjadi salah satu ciri yang membuatnya mudah dibedakan dari banyak burung pegar lainnya. Dengan persebaran yang terbatas dan ketergantungan pada hutan pegunungan, kelestarian habitat menjadi bagian penting bagi keberlangsungan spesies ini.




















