Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Unik Wallcreeper, Burung yang Hidup di Tebing Vertikal
potret wallcreeper (commons.wikimedia.org/Imran Shah from Islamabad, Pakistan)
  • Wallcreeper hidup di tebing curam pegunungan Eurasia dengan kemampuan memanjat vertikal berkat cengkeraman kaki kuat dan keseimbangan tubuh yang stabil.
  • Burung ini dijuluki 'butterfly of the mountains' karena gaya terbangnya lembut, bergetar, dan tampak melayang seperti kupu-kupu di sekitar tebing.
  • Warna abu-abu wallcreeper berfungsi sebagai kamuflase, namun saat terbang sayap merah cerahnya terlihat mencolok, menjadi ciri khas unik spesies ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Burung memiliki berbagai bentuk adaptasi yang memungkinkan mereka bertahan di lingkungan yang berbeda-beda. Beberapa spesies bahkan mampu hidup di kondisi yang terbilang ekstrem dan sulit dijangkau. Salah satunya adalah wallcreeper, burung yang dikenal karena kemampuannya beraktivitas di tebing-tebing curam kawasan pegunungan Eropa.

Selain habitatnya yang tidak biasa, wallcreeper juga memiliki sejumlah ciri khas lain yang membuatnya tampak berbeda dari burung pada umumnya. Mulai dari cara terbang yang unik hingga warna tubuh yang kontras, semuanya menjadi daya tarik tersendiri untuk dibahas. Untuk mengenal lebih jauh keunikannya, yuk simak 5 fakta berikut ini.

1. Hidup di tebing vertikal

potret wallcreeper yang hidup di tebing vertikal (commons.wikimedia.org/Pierre-Marie Epiney)

Wallcreeper merupakan burung yang sangat identik dengan habitat pegunungan berbatu. Spesies ini umumnya ditemukan di berbagai kawasan pegunungan Eurasia, seperti Alpen, Pirene, hingga Himalaya. Wallcreeper biasanya hidup pada ketinggian sekitar 1.000 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut, terutama di area dengan tebing batu curam dan dinding vertikal yang luas.

Di habitat tersebut, wallcreeper menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bergerak di permukaan batu yang hampir tegak. Ia mampu memanjat dari bagian bawah ke atas tebing dengan cengkeraman kaki yang kuat dan keseimbangan tubuh yang baik. Pergerakan ini membuatnya tampak seperti “merayap” di dinding batu, meskipun sebenarnya tidak memiliki kemampuan menempel seperti reptil. Adaptasi ini memungkinkan wallcreeper bertahan di lingkungan ekstrem yang minim gangguan dan sulit dijangkau.

2. Dijuluki “butterfly of the mountains” karena cara terbangnya

potret wallcreeper saat terbang dengan gerakan menyerupai kupu-kupu (commons.wikimedia.org/Mildeep)

Wallcreeper dikenal dengan julukan “butterfly of the mountains” karena gaya terbangnya yang berbeda dari kebanyakan burung. Saat berada di udara, burung ini tidak terbang dengan arah lurus dan kecepatan tinggi, melainkan dengan kepakan sayap yang pelan, berulang, dan cenderung bergetar. Gerakan ini sering diselingi dengan luncuran singkat sebelum kembali mengepakkan sayapnya.

Pola terbang tersebut membuat wallcreeper tampak ringan dan tidak kaku, seolah melayang di udara. Dalam beberapa kondisi, terutama saat bergerak di sekitar tebing, gerakannya terlihat seperti naik turun mengikuti permukaan batu, sehingga memberikan kesan seperti kupu-kupu yang beterbangan bebas. Karakteristik inilah yang membuat banyak orang menjulukinya sebagai “butterfly of the mountains”.

3. Sayap merahnya hanya terlihat saat terbang

potret wallcreeper saat terbang dengan sayap merah yang tampak mencolok di udara (commons.wikimedia.org/Lucianocasa)

Wallcreeper memiliki tampilan yang cukup berbeda tergantung pada kondisi sayapnya. Saat sedang diam atau bertengger di permukaan batu, burung ini tampak didominasi warna abu-abu sehingga mudah menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Warna tersebut berfungsi sebagai kamuflase, membuatnya tidak mudah terlihat di antara tebing batu.

Namun, tampilan tersebut akan berubah saat wallcreeper mulai terbang. Ketika sayapnya terbuka, bagian dalam sayap menampilkan warna merah cerah yang kontras dengan warna tubuhnya. Perubahan ini membuat burung yang sebelumnya tampak sederhana menjadi terlihat mencolok di udara. Perbedaan antara kondisi diam dan saat terbang inilah yang menjadi salah satu ciri khas utama wallcreeper.

4. Memiliki paruh khusus untuk mencongkel makanan di batu

potret wallcreeper yang menggunakan paruhnya untuk mencari makanan di celah batu (commons.wikimedia.org/Imran Shah)

Wallcreeper memiliki bentuk paruh yang panjang, tipis, dan sedikit melengkung. Bentuk ini bukan tanpa fungsi, melainkan merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan tempat hidupnya yang didominasi oleh permukaan batu. Dengan paruh tersebut, wallcreeper dapat menjangkau bagian-bagian sempit yang sulit dijangkau oleh burung lain.

Paruh ini digunakan untuk mengambil mangsa yang tersembunyi di dalam celah-celah batu. Saat mencari makan, wallcreeper akan menelusuri permukaan tebing dan memasukkan paruhnya ke dalam retakan kecil untuk menemukan serangga. Kemampuan ini membuatnya mampu memanfaatkan sumber makanan yang tidak mudah diakses, sekaligus mendukung kelangsungan hidupnya di habitat yang ekstrem.

5. Jarang dijumpai di alam liar

potret wallcreeper yang warnanya menyatu dengan tebing batu sehingga sulit terlihat (commons.wikimedia.org/Nirmal Dulal)

Wallcreeper termasuk burung yang jarang dijumpai di alam liar, terutama bagi pengamat biasa. Hal ini bukan semata-mata karena jumlahnya sedikit, tetapi karena habitatnya yang berada di area pegunungan dengan tebing curam dan sulit dijangkau. Lingkungan seperti ini membuat keberadaannya tidak mudah ditemukan tanpa usaha khusus.

Selain itu, wallcreeper juga sering tidak terlihat saat sedang bertengger karena warnanya menyatu dengan permukaan batu. Untuk dapat menemukannya, biasanya diperlukan pengamatan yang teliti di lokasi tertentu, bahkan bagi fotografer atau pengamat burung berpengalaman sekalipun. Inilah yang membuat wallcreeper terasa “langka” meskipun sebenarnya masih dapat ditemukan di habitat aslinya.

Meski tidak mudah dijumpai, wallcreeper tetap menjadi salah satu burung yang menarik untuk dikenali lebih jauh. Keunikan perilaku dan cara hidupnya di tebing menunjukkan bahwa ada banyak hal menarik di alam yang sering luput dari perhatian. Dengan memahami karakteristiknya, kita bisa melihat bahwa setiap spesies memiliki keistimewaannya sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team