Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Bahaya yang Dihadapi Burung saat Migrasi Jarak Jauh
Potret migrasi burung (pixabay.com/Veronika_Andrews)
  • Burung migran menguras cadangan lemak saat terbang jauh; angin berlawanan, minim makanan, hujan, badai, kabut, dan angin kencang dapat memaksa perubahan rute serta menambah tenaga.
  • Habitat persinggahan untuk makan dan beristirahat menyusut akibat pembangunan, pertanian, tambak, dan reklamasi; di Delta Sungai Kuning, kelimpahan burung pantai turun sekitar 90,14 persen pada 1995–2020.
  • Perburuan ilegal, predator, serta cahaya kota mengancam burung migran; pencahayaan buatan dapat mengacaukan orientasi dan meningkatkan tabrakan dengan bangunan, yang diperkirakan menewaskan sekitar satu miliar burung per tahun di AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayangkan harus terbang ribuan kilometer hanya demi mencari tempat yang cocok untuk berkembang biak atau bertahan hidup. Itulah rutinitas yang dijalani burung migran setiap tahun, melewati hutan, laut, pegunungan, bahkan kawasan perkotaan. Sayangnya, perjalanan menuju lokasi tujuan tidak selalu berjalan mulus.

Di balik rombongan burung yang melintas di langit, ada banyak risiko yang mengintai sepanjang rute. Tantangan ini juga ikut menentukan apakah seekor burung berhasil tiba di lokasi tujuan atau justru terhenti di tengah perjalanan. Lantas, apa saja bahaya yang dihadapi burung saat migrasi jarak jauh? Simak artikel berikut sampai habis.

1. Kelelahan dan cadangan makanan yang menipis

Ilustrasi kawanan burung terbang di atas laut (pexels.com/Levent Simsek)

Terbang berjam-jam tentu membutuhkan tenaga besar bagi burung yang menempuh perjalanan antarbenua. Lemak tubuh menjadi bekal energi penting selama migrasi, terutama bila burung harus melewati wilayah yang sulit menyediakan makanan. Ada spesies yang bahkan sanggup terbang tanpa berhenti selama berjam-jam di atas laut sebelum mencapai daratan berikutnya.

Angin dari arah berlawanan dapat menguras energi lebih cepat, sedangkan tempat mencari makan belum tentu berada dalam jangkauan. Burung yang tiba di lokasi persinggahan dengan kondisi terlalu lelah pun membutuhkan waktu lebih lama sebelum kembali terbang. Jika cadangan energi tidak segera terisi, perjalanan berikutnya jelas jadi semakin berat dan berisiko.

2. Cuaca ekstrem dapat mengacaukan perjalanan

Potret kawanan burung terbang di langit berbadai (pexels.com/Keith Cassill)

Di tengah rute, burung bisa berhadapan dengan hujan deras, badai, kabut, maupun angin kencang yang mengubah kondisi penerbangan dalam waktu singkat. Situasi ini memaksa mereka mengubah arah, mencari tempat berlindung, atau mengeluarkan tenaga tambahan supaya tetap berada di jalur. Bagi spesies yang tengah melintasi laut terbuka, pilihan tempat mendarat sangat terbatas.

Arah angin punya pengaruh besar terhadap perjalanan burung migran. Hembusan dari belakang membantu burung bergerak lebih efisien. Sebaliknya, angin dari depan menuntut tenaga tambahan.

3. Habitat persinggahan semakin menyusut

Potret sekumpulan burung migran di ladang pedesaan (pexels.com/Margo Evardson)

Burung migran tidak terus mengepakkan sayap sepanjang perjalanan. Mereka perlu tempat persinggahan untuk makan, minum, beristirahat, sekaligus mengisi lagi cadangan energi sebelum melanjutkan perjalanan. Persoalannya, habitat yang dulu menyediakan kebutuhan tersebut kini banyak berubah lantaran pembangunan, pertanian, tambak, serta aktivitas manusia lainnya.

Contohnya terlihat pada burung pantai migran di Delta Sungai Kuning, China. Penelitian Duan dan kawan-kawan (2022) menemukan bahwa hilangnya lahan basah akibat reklamasi merupakan ancaman besar bagi komunitas burung pantai yang menggunakan wilayah tersebut sebagai lokasi persinggahan. Dalam kurun tahun 1995–2020, luas habitat dan ukuran rata-rata petaknya terus menyusut, sementara kelimpahan burung pantai di kawasan itu turun sekitar 90,14 persen.

4. Perburuan liar dan predator

Ilustrasi seekor burung yang hendak di mangsa kucing (pixabay.com/acebrand)

Burung migran harus melewati banyak negara dalam satu perjalanan, sehingga ancaman manusia bisa muncul di berbagai titik. Tak hanya manusia, pemangsa seperti elang dan kucing juga menunggu di titik-titik peristirahatan saat kondisi burung sedang lemah. Perburuan dan penangkapan ilegal menjadi persoalan serius, khususnya di wilayah yang menjadi jalur migrasi utama.

Burung yang sedang berpindah tidak mengenal batas negara, padahal perlindungan terhadap satwa berbeda-beda di setiap kawasan. Di beberapa kawasan, burung migran masih ditangkap menggunakan jaring atau diburu untuk konsumsi dan perdagangan satwa.

BirdLife International memperkirakan sekitar 13,1–42,7 juta burung dibunuh atau ditangkap secara ilegal setiap tahun di Eropa, kawasan Mediterania, Kaukasus, dan Semenanjung Arab. Banyak di antaranya adalah burung migran yang melintasi African-Eurasian Flyway. Tekanan semacam ini amat mengkhawatirkan sebab kematian terjadi sebelum burung sempat mencapai tujuan, berkembang biak, lalu kembali menempuh perjalanan berikutnya.

5. Cahaya kota membuat burung salah arah

Ilustrasi burung terbang melintasi langit perkotaan di malam hari (unsplash.com/Ekaterina Novitskaya)

Migrasi malam hari adalah strategi yang digunakan banyak burung demi menghindari panas dan memanfaatkan kondisi udara yang lebih mendukung. Namun, langit malam di kawasan perkotaan tidak lagi benar-benar gelap akibat cahaya gedung, lampu jalan, dan beberapa sumber penerangan lainnya. Cahaya buatan berpotensi mengganggu orientasi burung yang mengandalkan petunjuk dari langit selama penerbangan. Saat kehilangan arah, burung berisiko mendekati bangunan dan menabrak permukaan kaca yang sulit mereka kenali sebagai penghalang.

Penelitian tentang kematian burung di Chicago menemukan bahwa intensitas migrasi malam, kondisi angin, serta tingkat pencahayaan bangunan terkait dengan risiko tabrakan. Selain itu, studi Kornreich dan kawan-kawan (2024) memperkirakan tabrakan dengan bangunan menewaskan sekitar satu miliar burung setiap tahun di Amerika Serikat. Tragedi ini menegaskan perlunya tata kelola pencahayaan kota yang lebih ramah terhadap ekosistem satwa liar.

Ada banyak bahaya yang dihadapi burung saat migrasi jarak jauh. Setiap kepakan membawa mereka melewati kondisi yang penuh ketidakpastian. Karena itu, menjaga alam berarti turut memberi ruang bagi mereka demi mencapai wilayah tujuan dengan selamat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article