Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Tersembunyi Air Liur Manusia, dari Obat Bius hingga Bakteri

5 Fakta Tersembunyi Air Liur Manusia, dari Obat Bius hingga Bakteri
ilustrasi air (pixabay.com/Claudia)
  • Air liur mengandung opiorphin, peptida yang disebut mampu memperkuat penghambatan sinyal nyeri, serta enzim amilase yang memulai pemecahan karbohidrat di mulut.
  • Sebagai hasil penyaringan plasma darah, air liur membawa hormon, antibodi, enzim, dan DNA; sampelnya dapat digunakan untuk pemeriksaan non-invasif berbagai indikator kesehatan.
  • Air liur melarutkan partikel makanan agar lidah mengecap rasa, tetapi bakteri mulut yang masuk melalui luka gigitan dapat memicu infeksi jaringan serius.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Setiap hari, tubuh manusia memproduksi sekitar satu hingga dua liter air liur tanpa kita sadari. Namun, di balik keberadaannya yang dianggap sepele, air liur sesungguhnya merupakan cairan biologis yang sangat kompleks.

Para ilmuwan menemukan bahwa cairan mulut ini menyimpan perpaduan antara mekanisme pertahanan super dan potensi bahaya mikrobiologis yang mengejutkan. Dari kandungan pereda nyeri alami yang mengalahkan obat medis hingga risiko infeksi jaringan yang mematikan, berbagai fakta sains berikut membuktikan sisi luar biasa dari air liur kita.

  1. 1. Mengandung zat pereda nyeri alami yang lebih kuat dari morfin

    ilustrasi obat pereda nyeri
    ilustrasi obat pereda nyeri (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

    Di balik rasanya yang tawar, air liur manusia menyimpan senyawa peptida alami bernama opiorphin (opiorphin). Senyawa ini bekerja dengan cara mencegah penguraian enkefalin, yaitu zat kimia alami tubuh yang bertugas memblokir sinyal rasa sakit pada sistem saraf pusat.

    Dilansir dari New Scientist, penelitian membuktikan bahwa efek anti nyeri dari opiorfin dapat mencapai enam kali lipat lebih ampuh dibandingkan dengan morfin dosis medis. Hebatnya lagi, senyawa alami ini tidak menimbulkan efek samping berbahaya seperti kecanduan psikologis, gangguan pernapasan, atau penurunan kesadaran sebagaimana obat bius sintetis pada umumnya.

  2. 2. Gigitan manusia membawa risiko infeksi berbahaya akibat bakteri mulut

    ilustrasi gigitan manusia
    ilustrasi gigitan manusia (pixabay.com/Publicdomainpictures)

    Rongga mulut manusia merupakan habitat bagi lebih dari 700 spesies mikroorganisme, baik bakteri aerobik maupun anaerobik. Selama berada di dalam mulut, bakteri-bakteri ini hidup seimbang karena dikendalikan oleh sistem imun. Namun, ceritanya menjadi sangat berbeda jika air liur tersebut berpindah ke dalam jaringan tubuh orang lain melalui luka gigitan terbuka.

    Dilansir dari Johns Hopkins Medicine, luka akibat gigitan manusia secara mikrobiologis sering kali jauh lebih berbahaya dan rentan mengalami komplikasi parah dibanding gigitan hewan peliharaan. Campuran bakteri agresif seperti Eikenella corrodens dapat menghancurkan tendon, merusak sendi, dan memicu infeksi jaringan dalam yang sulit diatasi dengan antibiotik standar.

  3. 3. Dipenuhi enzim aktif yang mampu mencerna jaringan rongga mulut

    ilustrasi enzim
    ilustrasi enzim (unsplash.com/Nigel Hoare)

    Air liur mengandung konsentrasi tinggi enzim amilase saliva atau ptialin, yang bertugas memecah karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana sejak gigitan pertama. Dilansir Thought Co, secara kimiawi enzim-enzim pencernaan dan asam di dalam mulut memiliki daya lisis yang cukup kuat untuk mengikis sel-sel lunak di sekitarnya.

    Alasan rongga mulut kita tidak hancur tercerna oleh air liur sendiri adalah keberadaan lapisan glikoprotein tebal yang melapisi seluruh dinding mulut dan lidah. Ditambah lagi, sel epitel mukosa mulut memiliki laju regenerasi super cepat yang mampu mengganti lapisan sel mati dalam hitungan jam demi menahan gerusan enzim aktif tersebut.

  4. 4. Merupakan plasma darah yang disaring dan berfungsi sebagai "sidik jari" medis

    ilustrasi plasma darah
    ilustrasi plasma darah (pixabay.com/Annet Kligner)

    Secara biologis, air liur tidak diproduksi dari air biasa, melainkan hasil penyaringan langsung dari plasma darah oleh kelenjar saliva. Karena berasal dari sistem peredaran darah, air liur membawa berbagai molekul penting seperti hormon, antibodi, enzim, dan fragmen materi genetik (DNA).

    Dilansir dari jurnal Oral Maxillofac Pathology, karakteristik ini membuat air liur kini banyak dimanfaatkan sebagai metode biopsi cair non-invasif. Hanya dengan beberapa tetes sampel air liur, dokter dapat memetakan profil genetik seseorang, mengukur kadar hormon stres (kortisol), hingga mendeteksi indikator awal penyakit sistemik seperti diabetes dan kanker tanpa perlu menyuntikkan jarum suntik ke pembuluh darah.

  5. 5. Bertindak sebagai pelarut kimia mutlak agar lidah dapat mengecap rasa

    ilustrasi mengecap rasa
    ilustrasi mengecap rasa (unsplash.com/Alex Haney)

    Kuncup pengecap (taste buds) yang tersebar di permukaan lidah manusia bekerja menggunakan reseptor kimiawi khusus. Sensor rasa ini memiliki kelemahan mendasar: mereka sama sekali tidak dapat mendeteksi molekul makanan jika makanan tersebut berada dalam kondisi padat atau benar-benar kering.

    Dilansir Smithsonian Magazine, Air liur bertindak sebagai pelarut kimia esensial yang mencairkan partikel makanan sehingga zat rasa dapat masuk ke pori-pori mikroskopis pada kuncup pengecap. Tanpa adanya aliran air liur yang melarutkan senyawa kimia tersebut, lidah kita tidak akan sanggup membedakan manisnya gula, asinnya garam, maupun gurihnya makanan yang kita konsumsi sehari-hari.

    Air liur membuktikan bahwa tubuh manusia senantiasa memproduksi sistem pendukung kehidupan yang luar biasa canggih. Mulai dari pereda rasa sakit alami hingga alat diagnosis penyakit modern, cairan sederhana ini menyimpan fungsi krusial yang menjaga kita tetap bertahan hidup setiap detiknya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More