Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan ORPP BRIN, Setiari Marwanto, menilai perspektif terhadap ulat sagu perlu diperluas. Sagu merupakan komoditas strategis yang memiliki nilai pangan, industri, ekologis, dan sosial, tetapi keberlanjutan perkebunannya menghadapi berbagai tantangan, termasuk serangan Rhynchophorus spp.
Karena itu, tantangannya bukan sekadar bagaimana membasmi ulat sagu, tetapi juga bagaimana mengelola dan memanfaatkannya secara aman, berkelanjutan dan bernilai ekonomi.
Perspektif industri turut disampaikan Dr. (H.C.) Jenny Widjaja dari PT Sagolicious Indonesia Prima. Ia memaparkan potensi Rhynchophorus spp., untuk diolah menjadi tepung protein yang dapat dikembangkan untuk kebutuhan pangan, bahan baku industrimaupun pakan.
Pada intinya ulat sagu tidak harus ditempatkan hanya dalam satu kategori sebagai organisme pengganggu tanaman. Dengan riset yang tepat, organisme tersebut berpotensi menjadi bagian dari rantai nilai baru berbasis sumber daya hayati lokal.
BRIN mendorong penguatan riset multidisiplin yang mempertemukan bioekologi, biosistematika, nutrisi, keamanan pangan, industri, dan ekonomi. Kolaborasi antara periset, dunia usaha, dan pemangku kepentingan diharapkan dapat menghasilkan inovasi yang sekaligus menjaga produktivitas perkebunan sagu dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.