Burung maleo (commons.wikimedia.org/Asep Triyatno)
Tidak semua pantai atau tanah panas cocok dijadikan tempat bertelur. Burung maleo hanya memilih lokasi yang memiliki suhu yang cukup stabil agar embrio dapat berkembang dengan baik. Jika pasir terlalu dingin, perkembangan embrio bisa terhambat, sedangkan suhu yang terlalu tinggi dapat merusak telur. Karena itu, induk akan memilih lokasi peneluran dengan kondisi lingkungan yang sesuai.
Burung maleo bahkan dikenal setia menggunakan lokasi peneluran yang sama selama bertahun-tahun apabila tempat tersebut terbukti berhasil menetaskan telur. Banyak lokasi peneluran berada di pantai berpasir atau kawasan dengan sumber air panas alami di Sulawesi. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan berkembang biak burung maleo sangat bergantung pada keberadaan habitat yang memiliki suhu alami yang tepat.
Kebiasaan burung maleo memilih pasir panas daripada mengerami telurnya bukan berarti ia tak peduli dengan telur tersebut. Sebaliknya, perilaku tersebut merupakan bentuk adaptasi yang memungkinkan telur tetap mendapatkan suhu ideal tanpa harus dierami selama berminggu-minggu. Keunikan inilah yang menjadikan maleo sebagai salah satu burung dengan cara berkembang biak paling unik di dunia, sekaligus memperlihatkan betapa pentingnya menjaga habitat alaminya di Sulawesi agar spesies langka ini tetap lestari.