Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Dampak Karhutla terhadap Orang Utan, Gak Cuma Kehilangan Habitat
Orang utan kalimantan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. (commons.wikimedia.org/Ronny Adolof Buol)
  • Karhutla di Kalimantan menghancurkan pohon pakan, memicu kelaparan dan kehilangan energi pada orang utan, serta mendorong mereka masuk kebun warga hingga meningkatkan konflik manusia-satwa.
  • Paparan asap mengganggu sistem imun dan berpotensi merusak DNA; kualitas serta frekuensi seruan pejantan menurun, sementara kepadatan habitat membuat betina lebih agresif dan kurang toleran.
  • Kelangkaan pangan mengganggu reproduksi betina, kebakaran mengancam pusat rehabilitasi, dan menghanguskan habitat restorasi, termasuk 171 hektar hutan di Pematang Gadung pada Maret 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda Kalimantan makin mencekik populasi orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus). Api membakar habis habitat hutan yang sudah menyusut. Pohon-pohon penghasil buah jadi sulit dicari. Akibatnya, orang utan berkeliaran ke kebun warga, dan konflik antara manusia dan satwa liar tak terelakkan.

Itu hanyalah sebagian dari dampak karhutla terhadap orang utan. Ada banyak dampak tak kasat mata yang bisa jadi bom waktu bagi keselamatan spesies primata endemik Kalimantan ini. Dari kelaparan hingga kerusakan DNA, berikut deretan dampak karhutla terhadap kehidupan orang utan.

1. Karhutla menyebabkan orang utan kelaparan

Orang utan kalimantan terlihat merenung. (commons.wikimedia.org/joiseyshowaa)

Orang utan yang terlihat kurus jadi potret pilu yang menggambarkan betapa merusaknya karhutla. Meski lolos dari kobaran api, orang utan harus berjuang hidup di antara kepungan asap. Pohon-pohon buah yang hangus menyebabkan kelangkaan pangan.

Alhasil, orang utan harus memutar otak untuk menghemat energi. Mereka jadi jarang bergerak. Tanpa buah, mereka beralih makan kulit kayu yang rendah nutrisi dan lebih sulit dicerna.

Terlepas dari upaya orang utan, tim peneliti yang mempelajari aktivitas dan dinamika energi orang utan setelah karhutla menjumpai peningkatan katabolisme lemak yang tinggi. Itu artinya orang utan tetap kehilangan banyak energi meski sudah mengurangi aktivitas. Tanpa pangan yang memadai, orang utan berada dalam tekanan energi yang sangat berat dan alami kelaparan. Hasil studi ini dimuat jurnal Scientific Reports pada 2018 lalu.

2. Sistem imun orang utan jadi kacau

Orang utan betina menggendong anaknya. (commons.wikimedia.org/Titik Kartitiani)

Paparan asap beracun yang dihasilkan karhutla juga diduga kuat memengaruhi sistem imun orang utan. Pada studi yang sama, tim peneliti mengamati adanya peningkatan suatu zat yang menjadi penanda stres oksidatif. Tingginya radikal bebas dalam tubuh bisa berdampak langsung pada DNA.

Saat terpapar asap beracun, sistem imun orang utan menjadi terganggu dan tubuhnya mengalami kerusakan DNA. Meski belum diuji menyuruh, temuan ini menyoroti dampak jangka panjang karhutla pada orang utan. Efeknya masih mengguncang kesehatan orang utan bahkan setelah api padam dan kabut asap menghilang.

3. Karhutla ganggu kemampuan bersuara orang utan jantan

Orang utan jantan duduk sendirian. (pixabay.com/nitli-41375)

Kualitas udara yang memburuk akibat karhutla mengganggu berbagai aspek kehidupan orang utan. Salah satunya adalah kualitas dan frekuensi vokalisasi orang utan jantan. Sebuah studi menemukan bahwa karthutla menyebabkan orang utan jantan lebih jarang mengeluarkan seruan panjang (long call).

Seruan panjang yang awalnya dikeluarkan enam kali sehari, frekuensinya jadi berkurang hingga separuh. Kualitas seruan juga menurun. Biasanya, seruan panjang orang utan jantan bisa terdengar sampai satu kilometer. Karhutla membuat suara pejantan terdengar parau dan kasar.

Menurut studi yang dimuat jurnal iScience 2023 lalu itu, perubahan suara ini tetap ada bahkan setelah kabut asap hilang. Di hutan Kalimantan, seruan panjang sangat penting bagi kehidupan sosial orang utan jantan. Pejantan berseru untuk mengusir pejantan lain dari wilayahnya dan menarik perhatian betina.

4. Karhutla bisa membuat orang utan lebih agresif

tampak dekat orang utan kalimantan betina (commons.wikimedia.org/Julielangford)

Saat habitat hutannya terbakar, orang utan betina biasanya tidak pergi terlalu jauh. Beda dari jantan, betina cenderung menetap di tempat kelahiran. Hal ini memaksa banyak betina hidup berdesakan dengan yang lain. Ruang hidup yang jadi lebih padat ini membuat orang utan betina lebih agresif.

Profesor antropologi dari Universitas Rutgers, Amerika Serikat, Erin Vogel, menungkapkan faktanya pada laman Mongabay. Menurut pantauan Erin dan kolega-koleganya, tingkat agresi orang utan betina bisa mencapai 10 kali lipat dari tingkat agresi sebelum karhutla. Perkelahian yang muncul bisa berujung pada kematian.

Sebuah studi dari International Journal of Primatology 2021 lalu juga menemukan bahwa karhutla mengubah kecenderungan berkelompok dan toleransi sosial orang utan betina. Interaksi orang utan betina dan anak, serta antar betina dewasa menjadi lebih rendah setelah kebakaran hutan. Sebaliknya, perilaku agonistik seperti sikap berkelahi dan menyerang antar betina yang tidak berkerabat justru meningkat.

5. Mengganggu siklus reproduksi orang utan betina

Orang utan kalimantan betina bersama anaknya. (commons.wikimedia.org/Thomas Fuhrmann)

Berkurangnya ketersediaan pangan akibat karhutla berdampak pada siklus reproduksi orang utan betina. Menurut New England Primate Conservancy, perkawinan paling sering terjadi saat kadar estrogen betina sedang tinggi dan buah-buahan tersedia dalam jumlah besar. Saat kebakaran hutan, orang utan betina lebih jarang mengalami pembuahan dikarenakan kelangkaan pangan.

Ditambah lagi, asap beracun karhutla juga dikhawatirkan menyebabkan gangguan kehamilan pada primata. Sebuah studi di California National Primate Research Center melaporkan lonjakan kasus keguguran pada monyet rhesus (Macaca mulatta) setelah terpapar asap karhutla di California utara 2018 lalu. Hasil studi yang dipublikasikan jurnal Reproductive Toxicology 2021 lalu itu menemukan bayi yang selamat alami dampak jangka panjang pada kapasitas paru-paru, respons kekebalan tubuh, sampai daya ingat akibat kebakaran hutan.

6. Karhutla ancam orang utan yang sedang direhabilitasi

Anak-anak orang utan kalimantan yatim dirawat oleh pengasuh. (commons.wikimedia.org/BOS Deutschland)

Kebakaran hutan gak hanya mengancam orang utan yang hidup bebas di alam liar. Api bisa membahayakan orang utan yang tengah direhabilitasi. Seperti yang terjadi pada pusat rehabilitasi orang utan milik Yayasan IAR Indonesia di desa Sungai Awan Kiri, Ketapang, Kalimantan Barat.

Diliput oleh laman Mongabay, kebakaran yang muncul pada 22 Juli 2026 itu hanya berjarak satu kilometer dari pusat rehabilitasi. Api berhasil dipadamkan sebelum membahayakan orang utan. Kala itu, lebih dari 60 ekor orang utan tengah menjalani rehabilitasi setelah diperdagangkan dan kehilangan habitat.

7. Menghancurkan upaya konservasi orang utan selama bertahun-tahun

Orang utan kalimantan betina di Taman Nasional Tanjung Puting. (commons.wikimedia.org/Thomas Fuhrmann)

Lebih dahsyatnya, karhutla menghancurkan upaya konservasi orang utan yang telah dijalankan bertahun-tahun. Setelah peristiwa karhutla 2015 lalu, Yayasan IAR Indonesia menjalankan program restorasi habitat dengan menanam ratusan ribu bibit pohon untuk orang utan. Menurut laman Mongabay, program tersebut berhasil memulihkan lahan seluas sekitar 300 hektar dan mengundang sejumlah orang utan untuk tinggal.

Namun, awal Maret 2026 lalu, kebakaran yang dipicu kegiatan pembukaan lahar di sekitar lokasi melahap habis 171 hektar hutan di desa Pematang Gadung, Ketapang, Kalimantan Barat. Insiden ini menyoroti bahwa karhutla gak hanya mengancam hutan dan satwa liar, tapi juga upaya konservasi yang berlangsung di dalamnya. Usaha konservasi selama bertahun-tahun bisa lenyap dalam sekejap akibat karhutla.

Dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap orang utan gak serta merta berhenti setelah api padam dan kabut asap hilang. Efeknya membekas dan mengganggu kesehatan. Dikhawatirkan, hal ini bisa berdampak pada keberlangsungan dan angka populasi orang utan kalimantan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article