Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Erupsi Gunung Berapi Bisa Memengaruhi Iklim Bumi?
ilustrasi erupsi gunung berapi (commons.wikimedia.org/Giles Laurent)
  • Erupsi besar dapat melontarkan abu halus ke stratosfer, menghalangi sebagian cahaya Matahari, dan menurunkan suhu rata-rata Bumi sementara; Pinatubo 1991 tercatat menurunkan suhu sekitar 0,5°C.
  • Sulfur dioksida dari letusan berubah menjadi aerosol belerang yang memantulkan cahaya Matahari ke angkasa, mengurangi panas di permukaan selama sekitar satu hingga tiga tahun.
  • Penurunan suhu akibat abu dan aerosol dapat mengubah angin, awan, serta curah hujan, sehingga musim tanam dan hasil pertanian di sejumlah wilayah terdampak sementara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Erupsi gunung berapi tidak hanya berdampak pada wilayah di sekitarnya, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi atmosfer dalam skala yang jauh lebih luas. Letusan besar mampu melemparkan material hingga ke lapisan udara atas yang berperan dalam mengatur suhu Bumi.

Perubahan yang terjadi tidak selalu langsung terasa, tetapi bisa berlangsung dalam jangka waktu tertentu setelah erupsi terjadi. Kira-kira, bagaimana letusan gunung berapi bisa memengaruhi suhu dan kondisi iklim di Bumi?

1. Partikel abu vulkanik menghalangi sebagian cahaya matahari

ilustrasi abu vulkanik (commons.wikimedia.org/Crisco 1492)

Saat gunung berapi meletus, yang terlontar bukan hanya lava, tetapi juga debu dan pecahan batuan yang sangat halus. Ukurannya begitu kecil sehingga sebagian bisa terbawa angin hingga ratusan bahkan ribuan kilometer dari lokasi letusan. Pada erupsi yang sangat besar, debu tersebut dapat naik sampai ke stratosfer, yaitu lapisan udara yang berada di atas tempat awan hujan terbentuk. Karena hampir tidak ada hujan di lapisan ini, debu vulkanik tidak cepat turun ke permukaan seperti debu biasa. Akibatnya, partikel-partikel tersebut bisa bertahan di udara selama berbulan-bulan, bahkan lebih dari satu tahun. Semakin besar letusannya, semakin banyak pula partikel yang dapat mencapai lapisan udara ini.

Ketika jumlah debu di atmosfer semakin banyak, sebagian cahaya Matahari tidak bisa langsung mencapai permukaan Bumi. Debu itu bekerja seperti tirai tipis yang menghalangi sebagian sinar Matahari masuk. Akibatnya, permukaan Bumi menerima panas lebih sedikit dibandingkan biasanya. Itulah sebabnya suhu rata-rata Bumi dapat turun sementara setelah terjadi letusan gunung berapi yang sangat besar. Peristiwa seperti ini pernah diamati setelah letusan Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991 yang menyebabkan suhu rata-rata Bumi menurun sekitar 0,5 derajat Celsius selama beberapa tahun.

2. Gas belerang membentuk selimut tipis di atmosfer

ilustrasi gas belerang (commons.wikimedia.org/Brocken Inaglory)

Selain debu, gunung berapi juga mengeluarkan berbagai jenis gas. Salah satu yang paling berpengaruh terhadap iklim adalah sulfur dioksida, yaitu gas yang mengandung unsur belerang. Setelah naik ke atmosfer, gas ini bercampur dengan uap air dan berubah menjadi butiran yang sangat kecil. Kumpulan butiran tersebut disebut aerosol, yaitu partikel halus yang melayang di udara dan ukurannya jauh lebih kecil daripada debu. Karena ukurannya sangat kecil, aerosol dapat bertahan cukup lama di lapisan atmosfer bagian atas.

Aerosol belerang bekerja seperti cermin kecil yang memantulkan sebagian cahaya Matahari kembali ke angkasa. Akibatnya, panas yang seharusnya sampai ke permukaan Bumi menjadi berkurang. Pengaruh aerosol terhadap suhu bahkan sering kali lebih besar daripada debu vulkanik karena dapat menyebar ke wilayah yang sangat luas. Seiring waktu, partikel ini akan perlahan menghilang sehingga suhu Bumi kembali mendekati kondisi normal. Proses tersebut biasanya berlangsung dalam waktu sekitar satu hingga tiga tahun setelah erupsi besar.

3. Perubahan suhu Bumi dapat memengaruhi cuaca

ilustrasi hujan (unsplash.com/A A)

Ketika suhu rata-rata Bumi menurun, perubahan itu tidak hanya dirasakan sebagai udara yang lebih sejuk. Suhu udara berpengaruh terhadap pergerakan angin, pembentukan awan, dan banyaknya hujan di berbagai wilayah. Jika salah satu berubah, pola cuaca di tempat lain juga dapat ikut berubah. Ada daerah yang mengalami musim hujan lebih lambat, sementara daerah lain justru menerima hujan lebih banyak dari biasanya. Dampaknya tidak selalu sama karena setiap wilayah memiliki kondisi iklim yang berbeda.

Perubahan cuaca setelah erupsi besar pernah tercatat di berbagai negara. Beberapa wilayah mengalami musim tanam yang mundur karena suhu udara lebih rendah dari biasanya. Di daerah lain, curah hujan berubah sehingga memengaruhi hasil pertanian. Meski begitu, pengaruh erupsi terhadap iklim umumnya hanya bersifat sementara dan akan berangsur menghilang ketika debu serta aerosol di atmosfer mulai berkurang. Dengan kata lain, letusan gunung berapi memang dapat memengaruhi iklim Bumi, tetapi efeknya tidak berlangsung secara permanen.

Erupsi gunung berapi membuktikan bahwa proses yang terjadi di dalam Bumi dapat memengaruhi kondisi atmosfer. Abu dan gas yang dilepaskan mampu mengubah jumlah energi matahari yang diterima oleh permukaan Bumi. Dampaknya tidak selalu permanen, tetapi cukup untuk memengaruhi suhu dan pola cuaca dalam jangka waktu tertentu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article