7 Fakta Sejarah Dome of the Rock di Yerusalem, Sering Dikira Masjid Al Aqsa

- Dome of the Rock dibangun oleh Khalifah Abd al-Malik pada tahun 691 M di Yerusalem, menjadi monumen Islam tertua yang masih berdiri dan simbol kejayaan spiritual serta politik Islam.
- Bangunan ini bertahan dari gempa dan konflik, mengalami renovasi besar termasuk pelapisan kubah emas oleh Raja Hussein pada 1993, kini dikelola Wakaf Muslim di bawah pengawasan Yordania.
- Dengan arsitektur segi delapan bergaya Bizantium-Islam, prasasti Al-Qur’an kuno, dan makna filosofisnya, Dome of the Rock menjadi ikon harmonisasi antara bumi dan surga di jantung Yerusalem.
Dome of the Rock, atau Kubah Batu, adalah sebuah tempat suci di Yerusalem yang dibangun oleh khalifah Umayyah, Abd al-Malik ibn Marwan, pada akhir abad ke-7 Masehi tepatnya 691–692 Masehi. Bangunan ini juga menjadi monumen Islam tertua yang masih ada. Letaknya di atas sebuah pelataran tinggi yang dikenal oleh umat Muslim sebagai al-Ḥaram al-Sharīf dan oleh umat Yahudi sebagai Bukit Bait Suci.
Lantas, apa yang membuat bangunan dengan kubah emas ini begitu istimewa dibandingkan struktur bersejarah lainnya? Yuk, kita telusuri lebih dalam lagi apa saja sejarah dan keunikan Dome of the Rock di dalam artikel ini!
1. Dibangun atas perintah khalifah keenam Dinasti Umayyah

Dome of the Rock berdiri di atas Bukit Bait Suci, sebuah lokasi yang sangat bersejarah karena sebelumnya merupakan situs Bait Suci Yahudi dan kuil Romawi. Setelah Yerusalem dikuasai oleh umat Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab, pembangunan monumen ikonik ini kemudian diperintahkan oleh Khalifah Abd al-Malik dari Dinasti Umayyah dan selesai sekitar tahun 691 M.
Sepanjang perjalanannya, bangunan ini telah melewati berbagai peristiwa besar, mulai dari kerusakan akibat gempa bumi hingga perubahan fungsi menjadi gereja selama periode Perang Salib. Setelah direbut kembali oleh Shalahuddin al-Ayyubi, bangunan ini kembali berfungsi sebagai tempat suci umat Islam. Salah satu perubahan visual paling signifikan terjadi pada abad ke-16 di bawah pemerintahan Sultan Suleiman Al-Qanuni dari Kesultanan Utsmaniyah, yang mengganti mosaik luar dengan ubin keramik biru yang indah—ciri khas yang masih kita lihat hingga hari ini.
2. Bertahan dari bencana dan dinamika politik

Memasuki abad ke-20, Dome of the Rock menghadapi tantangan besar akibat kerusakan alami, termasuk gempa bumi hebat pada tahun 1927 yang meretakkan dindingnya. Upaya pemulihan besar-besaran dilakukan di bawah pemerintahan Yordania sejak tahun 1950-an, di mana lapisan timah yang menghitam pada kubahnya diganti dengan material yang lebih tahan lama. Momen paling ikonik terjadi pada tahun 1993, ketika Raja Hussein dari Yordania mendonasikan dana pribadi hasil penjualan rumahnya di London untuk melapisi kubah tersebut dengan 80 kilogram emas murni, sehingga monumen ini memancarkan kilauan emas yang kita lihat sekarang.
Kompleks ini berada di bawah wewenang lembaga Wakaf Muslim yang berbasis di Amman, Yordania, meskipun akses ke lokasinya berada dalam pengawasan keamanan yang ketat. Sejak tahun 1967, pengunjung non-muslim diizinkan masuk ke area kompleks dengan aturan terbatas, seperti larangan membawa buku doa atau mengenakan atribut keagamaan tertentu demi menjaga kedamaian di situs suci tersebut. Meskipun akses bagi warga Palestina dan pengunjung internasional terkadang mengalami pembatasan karena situasi politik, Dome of the Rock tetap berdiri sebagai simbol persatuan dan warisan sejarah yang sangat dihormati di Yerusalem.
3. Berbeda dengan Masjid Al-Aqsa

Banyak orang sering keliru membedakan antara Dome of the Rock (Kubah Shakhrah) dan Masjid Al-Aqsa (Masjid Al-Qibli), padahal keduanya memiliki tampilan yang sangat berbeda. Dome of the Rock adalah bangunan yang paling mencolok dengan kubah berwarna emas terang dan terletak tepat di tengah pelataran tinggi kompleks Al-Haram asy-Syarif. Sementara itu, Masjid Al-Qibli atau yang sering disebut sebagai Masjid Al-Aqsa adalah bangunan dengan kubah berwarna abu-abu atau perak yang terletak di sisi selatan kompleks.
Secara fungsi, Dome of the Rock lebih berperan sebagai monumen bersejarah yang melindungi batu suci tempat persinggahan Nabi Muhammad SAW ketika Isra Mi'raj, sedangkan Masjid Al-Aqsa merupakan tempat utama yang digunakan untuk pelaksanaan salat berjamaah. Meskipun keduanya berada di dalam satu kawasan suci yang sama, perbedaan warna dan posisi kubah ini menjadi cara termudah bagi kita untuk mengenali identitas masing-masing bangunan tersebut.
4. Bukan masjid tempat salat berjamaah utama
Dome of the Rock sebenarnya tidak dibangun sebagai masjid untuk salat berjamaah, melainkan sebagai monumen suci untuk melindungi batu bersejarah sekaligus menunjukkan kejayaan Islam. Pembangunannya di Yerusalem berfungsi sebagai simbol bahwa Islam adalah penerus tradisi nabi-nabi terdahulu, sekaligus menjadi tandingan bagi kemegahan gereja-gereja Bizantium yang mendominasi saat itu.
Meskipun ada teori lama yang menyebutkan bangunan ini dibuat untuk mengalihkan ibadah haji dari Mekkah, tetapi para ahli modern umumnya meragukan hal tersebut dan lebih melihatnya sebagai simbol kejayaan spiritual dan politik Islam.
Situs tempat berdirinya monumen ini juga memiliki makna religius yang sangat mendalam bagi berbagai keyakinan. Umat Yahudi sangat mensakralkan lokasi ini karena diyakini sebagai "Batu Fondasi" atau titik awal penciptaan dunia.
5. Mahakarya arsitektur Islam dan Bizantium

Dome of the Rock memiliki bentuk dasar segi delapan yang unik, sebuah desain yang terinspirasi dari gaya arsitektur Bizantium tetapi menjadi tonggak awal seni visual Islam yang khas. Bangunan ini sangat ikonik dengan kubah kayu berlapis emas di bagian tengahnya yang memiliki diameter sekitar 20 meter dan ditopang oleh susunan pilar serta kolom yang kokoh. Selain itu, baik pada bagian kubah maupun dinding luarnya yang juga berbentuk segi delapan, serta terdapat banyak jendela yang berfungsi memberikan pencahayaan alami ke dalam ruangan.
Keindahan bangunan ini terpancar dari hiasan marmer, mosaik, dan lempengan logam yang menyelimuti bagian interior maupun eksteriornya. Meskipun teknik mosaiknya mirip dengan karya Bizantium, tetapi motif yang ditampilkan sangat khas Islam, seperti penggunaan aksara Arab, pola tumbuh-tumbuhan, serta bentuk mahkota dan perhiasan yang indah. Sesuai dengan prinsip seni Islam, dekorasi ini secara khusus tidak menampilkan sosok manusia atau hewan, melainkan fokus pada keanggunan pola alam dan tulisan kaligrafi yang artistik.
6. Menyimpan prasasti tertua Al-Qur'an

Dome of the Rock menyimpan harta karun berupa prasasti sepanjang 240 meter yang memuat beberapa contoh ayat Al-Qur'an tertua di dunia. Ditulis dalam aksara Kufi kuno yang artistik, prasasti ini tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi yang indah, tetapi juga sebagai catatan sejarah penting karena mencantumkan tahun penyelesaian bangunan pada 691 Masehi. Menariknya, terdapat jejak persaingan politik masa lalu di mana nama pembangun aslinya, Khalifah Abd al-Malik, sempat dihapus dan diganti dengan nama Khalifah Al-Ma'mun dari dinasti yang berbeda saat renovasi dilakukan, meskipun tahun pembangunannya tetap dibiarkan asli.
Isi dari prasasti ini menegaskan nilai-nilai inti ajaran Islam yang baru terbentuk pada masa itu, termasuk kalimat Syahadat dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, prasasti tersebut secara khusus menyebutkan nama Maryam (Maria) dan Nabi Isa (Yesus) untuk menegaskan pandangan Islam mengenai keesaan Tuhan.
7. Ada makna filosofis di balik struktur segi delapan

Pemilihan bentuk segi delapan pada denah Dome of the Rock bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah keputusan arsitektural yang penuh makna. Dalam tradisi arsitektur Islam, bentuk segi delapan berfungsi sebagai jembatan matematika dan simbolis antara bentuk persegi dan lingkaran. Persegi melambangkan dunia atau bumi yang nyata, sedangkan lingkaran merupakan simbol alami bagi kesempurnaan surga yang abadi.
Dengan menggunakan konfigurasi ini, Dome of the Rock secara visual melambangkan hubungan harmonis antara bumi dan surga. Segi delapan hadir sebagai langkah transisi yang menghubungkan stabilitas manifestasi duniawi dengan kemurnian spiritual di atasnya. Melalui desain ini, bangunan tersebut tidak hanya menjadi mahakarya seni, tetapi juga menjadi representasi fisik dari pertemuan antara dimensi manusia dan Sang Pencipta.
Dome of the Rock tetap berdiri kokoh hingga hari ini sebagai simbol keagungan arsitektur dan spiritualitas. Meskipun situasi politik di sekitarnya terus dinamis, kemegahan kubah emasnya tetap menjadi pemandangan paling ikonik di cakrawala Yerusalem yang dihormati oleh berbagai umat di seluruh dunia.


















