ilustrasi gerhana bulan parsial yang teramati di Asia (pexels.com/Santhosh Adiga)
Gerhana Agustus juga memiliki posisi penting dalam kalender astronomi karena merupakan gerhana bulan terakhir yang terjadi pada 2026. NASA mencatat dua gerhana bulan pada tahun tersebut; gerhana bulan total pada 3 Maret 2026 dan gerhana bulan parsial pada 28 Agustus 2026. Dengan demikian, fenomena Agustus menjadi penutup rangkaian gerhana bulan tahun ini.
Sayangnya, penutup tersebut kembali tidak bisa disaksikan dari Indonesia. Bahkan daftar visibilitas gerhana untuk Indonesia menunjukkan bahwa setelah peristiwa Agustus 2026, gerhana yang berikutnya dapat diamati dari Indonesia adalah Gerhana bulan penumbra pada 21 Februari 2027. Artinya, pengamat langit Indonesia harus menunggu hingga 2027 untuk mendapatkan kesempatan menyaksikan gerhana bulan dari wilayah Nusantara.
Menariknya, gerhana bulan berikutnya yang terlihat dari Indonesia justru merupakan gerhana penumbra. Fenomena seperti ini jauh lebih samar, karena Bulan hanya melewati penumbra, bagian luar bayangan Bumi. Karena itu, meski kalender astronomi tetap mencatatnya sebagai gerhana, perubahan visualnya tidak akan sedramatis gerhana bulan parsial di akhir Agustus 2026 ini—terutama bagi beberapa wilayah yang berkesempatan menyaksikan.
Gerhana bulan parsial 27—28 Agustus 2026 menjadi salah satu fenomena langit paling menarik untuk menutup musim astronomi Agustus. Statusnya memang “sebagian”, tetapi kedalamannya membuat fenomena ini terasa nyaris seperti gerhana total; sekitar 93 persen diameter Bulan masuk ke umbra Bumi ketika mencapai maksimum. Bagian Bulan yang berada dalam bayangan juga berpotensi berubah menjadi merah karat atau tembaga akibat cahaya Matahari yang telah melewati atmosfer Bumi. Dengan durasi fase parsial sekitar 3 jam 18 menit, pertunjukan langit ini bukan fenomena sesaat, melainkan perjalanan panjang Bulan menembus bayangan planet tempat kita tinggal.
Sayangnya, untuk pembaca di Indonesia, cerita ini memiliki akhir yang sedikit pahit. Gerhana tersebut berlangsung ketika Bulan berada di bawah horizon Indonesia, sehingga tidak dapat diamati secara langsung dari Nusantara. Namun, justru di situlah sisi menarik astronominya: fenomena langit tidak pernah menjadi tontonan yang seragam bagi seluruh manusia di Bumi. Satu sisi planet mungkin sedang menyaksikan Bulan berubah gelap kemerahan, sementara sisi lainnya bahkan belum dapat melihat Bulan. Jadi, jika langit Indonesia pada 28 Agustus tampak biasa saja, bukan berarti tidak ada sesuatu yang sedang berlangsung di atas sana—kita hanya berada di sisi Bumi yang tak tepat untuk menyaksikannya.
Referensi
Anthony Wood. (2026). “Partial lunar eclipse August 2026: Where will it be visible from?”. Article of Space.com.
Marcy Curran. (2026). “Deep partial lunar eclipse on August 27-28, 2026”. Article of EarthSky.
NASA Eclipse Web Site. (2026). “NASA Eclipse Data – Lunar Eclipses”.
NASA Eclipse Web Site. (2026). “NASA Eclipse Data – Eclipses During 2026”.
NASA Science. (2026). “The Moon & Eclipses”. Article Listicle.
Raquel Villanueva. (2026). “What’s Up: August 2026 Skywatching Tips from NASA”. Article of NASA Science.
TheSkyLive. “Partial Lunar Eclipse of August 28, 2026 from Indonesia (Jakarta)”. Article Listicle.