Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Fakta Unik Chamois, Mamalia Paling Gesit di Pegunungan Alpen

6 Fakta Unik Chamois, Mamalia Paling Gesit di Pegunungan Alpen
Chamois (commons.wikimedia/Isiwal)
Intinya Sih
  • Chamois mendiami pegunungan Eropa dan Timur Tengah, termasuk Alpen hingga Kaukasus, pada lereng berbatu curam; pilihan habitat ini membantu mereka menghindari predator.
  • Jantan dan betina memiliki tanduk permanen yang terus tumbuh dengan cincin penanda usia. Jantan poligami, bertemu betina saat musim kawin November–Desember dan bersaing melalui pengejaran.
  • Kuku bercelah, jantung, paru-paru, serta sel darah merah mendukung pergerakan di tebing dan salju. Bulu ganda berganti dua kali setahun untuk menghadapi suhu ekstrem.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Chamois adalah salah satu hewan yang paling sering dijumpai di pegunungan. Daya tarik mamalia satu ini tak pernah pudar, mulai dari visualnya yang eksotis dengan tanduk-tanduk kokoh di atas kepala hingga gerakan gesitnya yang tidak ragu saat melompati tebing-tebing curam. Chamois sangat lihai saat kakinya menapaki medan yang luar biasa ekstrem, mereka tidak terlihat kelelahan sama sekali. Sebaliknya, chamois tampak begitu menikmati habitatnya yang begitu berbahaya.

Mereka hidup di alam liar, seekor hewan yang membiarkan dirinya dilihat, tetapi jarang benar-benar didekati. Untuk bisa menemukan chamois, pegunungan Alpen, Pyrenees hingga Kaukasus adalah tempat favoritnya mereka. Pada artikel ini, kita akan membahas lebih dalam seputar chamois, mulai dari karakteristik fisiknya yang menawan, hingga perilaku dan adaptasinya yang luar biasa. Berikut 6 fakta menarik seputar chamois.

1. Mendiami tempat ekstrem

Chamois
Chamois (commons.wikimedia/Spada)

Chamois merupakan hewan asli Eropa dan Timur Tengah. Mamalia satu ini mendiami pegunungan tinggi dari Pyrenees hingga Kaukasus. Chamois yang masuk dalam genus Rupicapra dan famili Bovidae juga ditemukan di Pegunungan Cantabria, Apennines tengah, dan tersebar di Pegunungan Alpen. Medan berbatu yang curam adalah tempat yang nyaman bagi mereka. Tidak heran kalu chamois ahli dalam hal memanjat tebing.

Bagi chamois, semakin curam medannya justru semakin baik, karena sejatinya mereka mendiami medan berbatu dan lereng curam dengan kemiringan hingga 60°. Chamois sering ditemukan pada ketinggian sekitar 1.000 hingga 2.500 meter, tetapi mereka juga kadang kala ditemukan di hutan dengan ketinggian yang lebih rendah. Di pegunungan rendah, seperti Pegunungan Vosges atau di Hutan Hitam serta Pegunungan Swabia, mereka terkadang dapat terlihat pada ketinggian sekitar 400 meter jika medannya sesuai.

Chamois akan berkeliaran di tempat-tempat tertentu tergantung pada waktu dalam setahun. Selama musim panas yang hangat, mereka sering mengunjungi lereng utara yang teduh dan karenanya lebih sejuk. Sebaliknya, selama musim dingin, chamois akan lebih menyukai sisi selatan pegunungan di mana matahari meningkatkan suhu. Ketika ada banyak salju di musim dingin, mereka suka mencari makanan di daerah yang curam dan terbuka.

Alasan di balik chamois yang hidup di medan curam dan terbuka, karena mereka memiliki beberapa predator alami. Predator tersebut termasuk serigala, elang emas, lynx, dan beruang. Jadi, memilih habitat di lereng curam merupakan strategi yang jelas untuk menghindari predator karena lynx, serigala, atau beruang tidak akan mengikuti ke medan yang terbuka seperti itu. Elang emas umumnya hanya akan membunuh hewan muda karena chamois dewasa terlalu besar.

2. Tanduk mereka tumbuh sepanjang hidupnya

Chamois
Chamois (pexels.com/Kireva)

Yang unik dari chamois adalah sepasang tanduk yang menjulang kokoh. Di mana baik jantan atau betina, keduanya memiliki tanduk yang tetap ada sepanjang hidup mereka dan tidak akan rontok. Dalam istilah teknis bahasa Jerman, tanduk tersebut juga disebut 'Krickel' atau 'Krucken'. Tanduk tersebut relatif pendek dengan panjang rata-rata 25 cm. Bentuknya juga bulat, cukup lurus, dan melengkung ke belakang di dekat ujungnya. Tanduk-tanduk ini terus tumbuh sepanjang hidup chamois dan memiliki cincin pertumbuhan yang dapat memberikan indikasi usia hewan tersebut. Dibandingkan dengan ibex, chamois jauh lebih ramping dan tanduknya kurang mencolok

3. Chamois jantan bersifat poligami

Chamois
Chamois (commons.wikimedia/Giles)

Chamois jantan bersifat poligami dan hidup terpisah dari betina. Jantan hanya bergaung dengan betina saat musim kawin, yang berlangsung antara bulan November hingga Desember. Selama periode kawin, kelenjar yang terletak di belakang tanduk mereka mengeluarkan zat berbau harum. Jantan menggosok tanduk mereka pada ranting dan tanah, melepaskan sekresi berbau musk mereka untuk menarik betina.

Selama musim kawin, mereka terlibat pertempuran sengit untuk memperebutkan pasangan. Tengkorak chamois rapuh dan tidak beradaptasi untuk berbenturan langsung, seperti yang dilakukan pada kambing dan domba, sebaliknya, chamois justru saling mengejar naik turun tebing curam dan padang rumpuy, mencoba menusuk tenggorokan, perut, dan selangkangan individu yang dikejar.

Sebelum memulai perkelahian, mereka biasanya terlibat dalam rangkaian panjang pertunjukan dominasi di mana mereka menunjukkan sisi tubuh mereka, menyerang semak-semak dengan tanduknya, saling mengancam, dan menandai rumput atau batang dengan aroma. Betina lebih sering berkelahi daripada jantan, tetapi mereka melakukan serangan yang tidak mematikan pada bahu dan pantat lawannya.

4. Kulit chamois adalah barang langka dan mewah

Chamois
Chamois (pexels.com/Karol)

Kulit chamois yang lembut dan lentur dapat diolah menjadi kulit 'chammy' atau 'shammy' asli. Dagingnya sangat dihargai sebagai daging rusa. Pada abad ke-20, chamois diperkenalkan ke Selandia Baru, di mana jumlahnya dengan cepat meningkat hingga hampir 100.000 pada tahun 1970 dan mengencam vegetasi lokal. Populasi chamois sejak itu menurun sekitar 20.000.

Bisa dibilang kulit dari hewan chamois ini secara historis dihargai sangat tinggi berkat kelembutannya yang luar biasa, porositas yang tinggi, dan daya serapnya. Karena hewan ini tidak diternakkan secara komersial dan merupakan spesies yang dilindungi di banyak daerah, kulit chamois asli sangat langka dan dianggap sebagai barang mewah.

5. Tubuhnya didesain untuk hidup di medan curam

Chamois
Chamois (pexels.com/Adrien)

Chamois telah mengalami adaptasi morfologis dan fisiologis yang memungkinkannya bertahan hidup di lingkungan terjal dan tertutup salju tebal. Yang sangat cocok untuk kehidupan di pegunungan adalah kuku-kukunya yang bercelah (jari ke-3 dan ke-4) dengan bagian dan kekerasan yang berbeda, tepi luar yang keras dan tajam memungkinkan penggunaan pijakan kecil di bebatuan, sementara bantalan yang lembut, dengan meningkatkan gesekan, mencegah tergelincir dan jatuh saat menuruni lereng.

Jari-jari kaki chamois yang bercelah dapat diregangkan dan dilengkapi dengan membran interdigital yang memberikan permukaan penopang yang lebih besar, memungkinkan gerakan lincah bahkan di atas salju.

Jantungnya yang cukup besar, memiliki dinding otot yang tebal yang memastikan detak jantung tetap terjaga hingga dua ratus denyut per menit dan aliran darah yang tinggi. Hal ini memungkinkan kambing gunung untuk mendaki lereng yang panjang dan curam tanpa usaha berlebihan. Kapasitas paru-paru yang besar dan jumlah sel darah merah yang tinggi (11-13 jura per mm3) memberikan oksigenasi darah yang sangat baik bahkan di ketinggian, di mana udara cenderung lebih tipis.

6. Chamois mengalami pergantian bulu

Chamois
Chamois (pexels.com/Daniel)

Bulu chamois pada dasarnya terdiri dari dua jenis bulu, yang mampu melindunginya dari kondisi iklim yang keras di lingkungannya. Bulu ini memberikan perlindungan optimal yang memungkinkan chamois untuk menahan fluktuasi suhu ekstrem yang dihadapinya. Lapisan terluar, yang dikenal sebagai bulu permukaan dengan panjang 2-4 cm, biasanya lebih kasar dan dapat memerangkap banyak udara, memberikan isolasi termal untuk tubuh hewan. Lapisan bawahnya atau disebut bulu wol atau bulu primer, sangat halus dan keputihan.

Bulu chamois mengalami dua kali pergantian, satu di musim gugur dan satu di musim semi. Di musim dingin, bulunya panjang, lembut dan lebat, mulai dari cokelat tua hingga kehitaman. Berkat warnanya yang gelap bulu tersebut menyerap sinar matahari dalam jumlah besar, memberikan hewan tersebut sumber kehangatan tambahan. Satu-satunya bagian yang berwarna terang adalah area hidung, daerah perut, dan bercak anus.

Pergantian bulu musim semi dimulai pada bulan Maret dan berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Bulu musim dingin berwarna gelap pada chamois kemudian digantikan oleh bulu musim panas, yang ditandai dengan bulu lebih pendek, kasar, dan warna mulai dari kuning pucat hingga abu-abu kemerahan. Pada kedua jenis kelamin, garis tipis bulu gelap mengikuti garis tengah punggung. Bulu ini bertahan hingga akhir Agustus ketika pergantian bulu musim gugur dimulai, yang berlangsung hingga Desember.

Sebagai penutup, chamois bisa dibilang mamalia tangguh yang hidup di tempat ekstrem, mulai dari suhu hingga medan yang tak mudah dilalui bagi mamalia lainnya. Tubuhnya sengaja dirancang khusus untuk melompat di antara tebing-tebing curam. Chamois adalah mamalia yang gemar poligami, dengan pola kawin yang cukup brutal untuk seekor mamalia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More