5 Fenomena Sains Stranger Things, Dunia Paralel hingga Lubang Cacing

- Upside Down: Interpretasi Dunia Paralel dalam Mekanika Kuantum
- Gate: Teori Wormhole sebagai Jembatan Antar Dimensi
- The Mind Flayer: Fenomena Hive Mind dan Kesadaran Kolektif
Serial populer Stranger Things bukan sekadar tontonan fantasi horor yang memanjakan mata dengan estetika tahun 80-an, tetapi juga sebuah karya yang kaya akan konsep sains teoretis. Di balik teror monster Hawkins, para penulis serial ini sebenarnya mengadaptasi berbagai teori fisika kuantum dan eksperimen rahasia yang pernah menjadi perdebatan hangat di dunia nyata. Mulai dari dimensi bayangan yang kelam hingga kemampuan telekinesis yang luar biasa, setiap elemen supranatural dalam film ini memiliki akar penjelasan ilmiah yang cukup mendalam.
Banyak penonton yang mungkin tidak menyadari bahwa istilah seperti wormhole atau gerbang antar dimensi bukan sekadar imajinasi liar, melainkan hipotesis yang terus diteliti oleh para fisikawan. Memahami sisi sains dalam film ini akan memberikan pengalaman menonton yang jauh lebih seru dan masuk akal bagi para penggemar. Mari kita telusuri lebih jauh fenomena sains apa saja di balik misteri Kota Hawkins yang mencekam!
1. The Upside Down: Interpretasi Dunia Paralel dalam Mekanika Kuantum

Dunia Upside Down digambarkan sebagai refleksi gelap dan membusuk dari kota Hawkins yang berjalan beriringan dengan dimensi manusia. Secara sains, konsep ini sangat erat kaitannya dengan "Interpretasi Banyak Dunia" (Many-Worlds Interpretation) dalam mekanika kuantum yang menyatakan bahwa ada tak terhingga jumlah alam semesta yang eksis secara bersamaan. Melansir laman Standford Encyclopedia of Philosophy, teori ini berpendapat bahwa setiap kali sebuah peristiwa terjadi, alam semesta bercabang menjadi realitas yang berbeda-beda namun tetap berada di ruang yang sama.
Dalam konteks serial ini, Upside Down bertindak sebagai salah satu cabang realitas yang memiliki kondisi fisik serta ekosistem yang berbeda drastis dengan Bumi. Keberadaan dimensi ini menunjukkan bahwa apa yang kita lihat sehari-hari mungkin hanyalah satu lapisan kecil dari realitas kosmik yang jauh lebih luas. Para ilmuwan teoretis hingga kini masih mendiskusikan kemungkinan adanya "dimensi bayangan" yang berinteraksi dengan materi gelap di alam semesta kita.
2. Gate: Teori Wormhole sebagai Jembatan Antar Dimensi

Gerbang yang dibuka oleh Eleven di Laboratorium Hawkins sebenarnya adalah visualisasi dari teori Jembatan Einstein-Rosen atau yang lebih populer dikenal sebagai Wormhole. Melansir laman Astronomy Magazine, secara matematis, wormhole adalah jalan pintas melalui ruang-waktu yang menghubungkan dua titik yang sangat jauh atau bahkan dua dimensi yang berbeda secara instan.
Penjelasan Mr. Clarke tentang melipat kertas dan menusuknya dengan pensil adalah analogi paling akurat untuk menggambarkan bagaimana ruang-waktu dapat "robek" akibat energi yang sangat masif. Di dunia nyata, menciptakan gerbang seperti ini membutuhkan energi negatif atau materi eksotis untuk menjaga agar lubang tersebut tidak runtuh seketika.
Dalam film, kekuatan psikis Eleven bertindak sebagai pemicu energi luar biasa yang berhasil merobek kain ruang-waktu tersebut secara permanen. Fenomena ini menjelaskan mengapa monster seperti Demogorgon dapat berpindah dari satu dunia ke dunia lain melalui retakan yang terbentuk.
3. The Mind Flayer: Fenomena Hive Mind dan Kesadaran Kolektif

The Mind Flayer bertindak sebagai otak pusat yang mengendalikan seluruh organisme di Upside Down, sebuah fenomena yang dalam biologi dikenal sebagai Hive Mind. Dilansir laman Forbes, kesadaran kolektif ini memungkinkan ribuan individu atau makhluk bergerak sebagai satu kesatuan komando tanpa adanya perselisihan internal. Di dunia nyata, kita dapat melihat contoh hive mind pada koloni semut, lebah, atau bahkan perilaku jamur parasit tertentu yang mampu mengendalikan sistem saraf inangnya.
Hubungan antara The Mind Flayer dengan Will Byers atau para "flayed" menunjukkan bagaimana sinyal biologis dapat digunakan untuk mengambil alih kesadaran individu secara paksa. Dalam sains, ini mirip dengan cara kerja jaringan saraf berskala besar yang berkomunikasi melalui frekuensi atau sinyal kimiawi tertentu secara simultan.
Fenomena ini membuktikan bahwa kekuatan terbesar dari ekosistem Upside Down terletak pada persatuan biologisnya yang tidak terputus. Jika satu bagian tersakiti, maka seluruh jaringan akan merasakannya karena mereka berbagi satu kesadaran yang sama di bawah kendali sang penguasa dimensi tersebut.
4. Kemampuan Telekinesis Eleven

Kemampuan Eleven untuk menggerakkan benda dengan pikiran atau telekinesis merupakan elemen yang paling ikonik sekaligus paling kontroversial dari sisi pembuktian ilmiah. Meskipun telekinesis belum terbukti secara empiris dalam sains arus utama, konsep ini terinspirasi dari ambisi nyata pemerintah Amerika Serikat melalui proyek rahasia bernama MKUltra.
Proyek tersebut dilakukan pada masa Perang Dingin dengan tujuan mencari cara untuk memanipulasi otak manusia dan mengembangkan kemampuan spionase psikis. Melansir National Institute of Health, secara teoretis, jika otak manusia mampu memancarkan gelombang elektromagnetik yang sangat kuat, maka interaksi dengan materi fisik di sekitarnya bisa saja terjadi melalui prinsip gaya Lorentz. Eleven digambarkan mengalami kelelahan fisik dan mimisan karena otak menggunakan energi metabolik yang sangat besar untuk menghasilkan gaya fisik tersebut.
Saat ini, para ilmuwan sedang mengembangkan Brain-Computer Interface (BCI) yang memungkinkan sinyal otak manusia untuk menggerakkan perangkat elektronik secara langsung. Walaupun tidak sedrastis di film, perkembangan teknologi ini menunjukkan bahwa potensi otak manusia untuk berinteraksi dengan dunia fisik tanpa sentuhan bukanlah hal yang sepenuhnya mustahil di masa depan.
5. The Flea and the Tightrope (Dimensi Tambahan)

Analogi "Kutu dan Tali Setapak" (The Flea and the Tightrope) yang dijelaskan oleh Mr. Clarke merupakan cara brilian untuk memahami teori dimensi ekstra seperti Teori Kaluza-Klein atau Teori String. Dalam analogi ini, manusia diibaratkan sebagai pemain sirkus yang hanya bisa bergerak maju atau mundur di atas tali, sementara kutu bisa bergerak ke samping atau bahkan ke bawah tali. Hal ini menjelaskan bahwa di sekitar kita mungkin ada dimensi tambahan yang melengkung atau sangat kecil sehingga indra manusia tidak mampu menangkap keberadaannya.
Dilansir laman Standford University, secara matematis, fisikawan sering menggunakan lebih dari empat dimensi (panjang, lebar, tinggi, dan waktu) untuk menjelaskan cara kerja alam semesta pada level sub-atomik. Upside Down diposisikan sebagai "sisi bawah" dari tali tersebut, sebuah ruang yang selalu ada namun membutuhkan energi tertentu untuk bisa diakses oleh makhluk berdimensi tiga. Pemahaman tentang dimensi tambahan ini sangat krusial karena membuka kemungkinan adanya realitas yang tumpang tindih dengan realitas kita sendiri.
Ketertarikan manusia terhadap fenomena seperti di Stranger Things sebenarnya berakar pada eksperimen nyata yang pernah dilakukan oleh badan intelijen, salah satunya adalah Stargate Project. Proyek yang didanai oleh pemerintah Amerika Serikat ini benar-benar mencoba meneliti fenomena remote viewing atau kemampuan melihat target jarak jauh menggunakan kekuatan pikiran, mirip dengan apa yang dilakukan Eleven di dalam tangki air. Meskipun proyek tersebut akhirnya dihentikan pada tahun 1995 karena dianggap tidak memiliki bukti yang cukup kuat untuk intelijen militer, sejarah mencatat bahwa sains pernah mencoba menembus batas antara logika dan supranatural.

















