Menariknya, pada segmen kluster Flores barat, ditemukan empat sumber gempa signifikan dengan magnitudo di atas M5,0 dengan mekanisme turun (normal fault) bukan naik (thrust fault). Artinya ada sumber gempa lain, selain sesar naik Flores yang aktif dan memicu gempa 'sekunder' dalam peristiwa gempa Flores saat ini.
"Sehingga wajar jika segmen Flores bagian barat memiliki kluster seismisitas gempa susulan menjadi sangat banyak. Ini yang menyebabkan total aktivitas gempa susulan di Flores menjadi sangat banyak yang seolah tak lazim, karena aktifnya sumber gempa lain, sehingga event gempa lain ikut meramaikan aktivitas gempa Flores," jelas Daryono lebih dalam.
Fenomena aktifnya sumber gempa lain pasca gempa utama dan memicu banyak gempa susulan di kluster diluar jalur sesar utama disebut sebagai 'off fault seismicity'.
Fenomena tersebut umumnya dipicu oleh transfer tegangan statis (Coulomb stress transfer). Ketika patahan utama pecah, beban tegangan tidak hilang begitu saja, melainkan berpindah dan membebani patahan-patahan kecil di sekitarnya yang tadinya terkunci.
" Tingginya jumlah aktivitas gempa susulan Flores M7.7 yang luar biasa banyak, sudah terjawab karena adanya fenomena off fault seismicity," imbuhnya.
Fenomena off-fault seismicity (gempa susulan yang terjadi di luar bidang patahan utama) yang dapat memicu jumlah gempa susulan menjadi sangat banyak, pernah terjadi saat Gempa Ambon M6,5 pada 26 September 2019. Saat itu gempa utama memicu aktifnya sesar-sesar aktif lain di sekitar sesar gempa utama, yang menyebabkan terjadinya gempa susulan lebih dari 3.000 kali.
Beberapa contoh gempa luar negeri yang menunjukkan off-fault seismicity dengan aktivitas susulan luar biasa padat ialah Gempa Ridgecrest California M7,1 (2019), Gempa Landers California M7,3 (1992), Gempa Kumamoto, Jepang M7,3 (2016) dan Gempa Kaikōura, Selandia Baru M 7,8 (2016). Bencana alam ini membangkitkan aktifnya sesar disekitar sesar pembangkit gempa utama (mainshock).