Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gempa M 7,7 Hantam NTT, BNPB Catat 26.343 Rumah Warga Rusak Berat

Gempa M 7,7 Hantam NTT, BNPB Catat 26.343 Rumah Warga Rusak Berat
Visual udara yang menggambarkan kerusakan rumah warga di Nusa Tenggara Timur (NTT) usai dilanda gempa berkekuatan magnitudo 7,7. (Dokumentasi BNPB)
  • BNPB mencatat 87.828 rumah rusak akibat gempa M7,7 di NTT, terdiri dari 26.343 rusak berat, 40.945 rusak ringan, dan 20.540 rusak sedang.
  • Pemerintah menyalurkan bantuan perbaikan Rp15 juta untuk rumah rusak ringan dan Rp30 juta untuk rusak sedang, sementara rumah rusak berat akan dibangun sebagai hunian tetap.
  • Korban meninggal tetap 111 orang, pengungsi turun menjadi 175.909 jiwa, sementara 8.794 gempa susulan telah terjadi sejak 15 Agustus 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Jumat (28/8/2026) total ada 87.828 rumah warga yang mengalami kerusakan akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang menghantam Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 26.343 rumah warga masuk kategori kerusakan yang berat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan, pihaknya sudah meminta bantuan kepada pemda untuk melakukan pendataan kerusakan infrastruktur di NTT.

"Tim pendata yang direkrut dari pemda ini sudah diberikan bimbingan teknis atau pelatihan sehingga nanti memiliki standar yang sama untuk menilai bangunan yang rusak," ujar Berton ketika memberikan keterangan pers virtual pada Jumat (28/8/2026).

Dia mengatakan, tim pendata itu akan turun ke lapangan untuk memverifikasi rumah yang mengalami kerusakan. Sementara, jumlah rumah yang mengalami kerusakan ringan mencapai 40.945, sedangkan, 20.540 rumah mengalami kerusakan sedang.

"Angka kerusakan rumah yang mencapai 80 ribu lebih ini bisa bertambah atau berkurang sesuai dengan kriteria yang ada pada kami," ujar dia.

  1. 1. Pemerintah akan bangun kembali rumah warga yang mengalami kerusakan berat

    BNPB, Kabupaten Ende, gempa NTT
    Korban di Kabupaten Ende menunjukkan kondisi rumah usai dihantam gempa bumi magnitudo 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026. (Dokumentasi BNPB)

    Sebelumnya, Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI, Suharyanto, mengatakan, warga yang rumahnya mengalami kerusakan akan diberi dana dukungan senilai Rp15 juta hingga Rp30 juta. Nominal yang diterima oleh warga NTT dinilai dari tingkat kerusakan rumah akibat dihantam gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7. Dukungan bantuan tersebut berlaku bagi rumah warga yang mengalami kerusakan ringan dan sedang.

    "BNPB akan memberikan dukungan perbaikan rumah sebesar Rp15 juta untuk rumah yang mengalami kerusakan ringan. Kemudian, Rp30 juta untuk rumah yang mengalami kerusakan sedang," ujar Suharyanto di dalam keterangan pada Rabu (20/8/2026).

    Sedangkan, untuk rumah yang masuk kategori rusak berat maka pemerintah akan memberikan dukungan pembangunan hunian tetap yang bersifat permanen.

    "Kalau yang rusak berat, solusinya adalah hunian tetap. Pemerintah hadir agar masyarakat tidak dibiarkan menghadapi kondisi ini sendiri," kata dia.

    Selain itu, BNPB juga menyiapkan dua alternatif tempat tinggal sementara bagi masyarakat. Penyintas dapat memperoleh dana tunggu hunian (DTH) senilai Rp600 ribu per bulan. Atau menempati hunian sementara yang disiapkan oleh pemerintah bagi setiap kepala keluarga.

  2. 2. Jumlah korban meninggal tak mengalami penambahan

    Berton Panjaitan berbicara dalam konferensi pers pembaruan penanganan gempa bumi M7,7 di NTT secara resmi.
    Berton Panjaitan,Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana dalam Konferensi Persnya tentang Update Penanganan Bencana Gempa Bumi Mt7.7 di NTT. (Foto: Tangkapan Layar YouTube/@bnpb_indonesia).

    Sementara, jumlah korban meninggal akibat gempa dilaporkan tak mengalami penambahan. Total korban meninggal per Jumat masih sama dengan data pada Kamis (27/8/2026), yaitu 111 jiwa.

    "Hari ini, kami tidak mencatat adanya penambahan jumlah orang yang meninggal sehingga di dalam catatan kami jumlah orang yang meninggal sebesar 111 orang. Kami tetap menyampaikan rasa bela sungkawa yang mendalam kepada keluarga, handai taulan dan masyarakat Indonesia," kata Berton.

    Dia merinci, korban meninggal terbanyak ditemukan di Kabupaten Manggarai, yakni sebanyak 45 jiwa, Manggarai Timur 38 jiwa, dan 13 jiwa di Kabupaten Nagekeo. Berton turut memaparkan lebih banyak perempuan yang menjadi korban meninggal dunia dibandingkan laki-laki. Angkanya mencapai 56,4 persen. Sedangkan, dari kelompok usia korban yang meninggal dunia, mayoritas merupakan lansia yaitu 45 persen.

    Terkait data pengungsi, BNPB kembali melaporkan adanya penurunan jumlah pengungsi sebanyak 712 orang sehingga kini jumlah pengungsi mencapai 175.909 jiwa. BNPB mencatat penurunan pengungsi terjadi di Kabupaten Sikka.

    "Dengan adanya penurunan maka jumlah pengungsi mencapai 175.909 jiwa. Ini ada di pengungsian yang terpusat maupun di titik pengungsian mandiri," kata dia.

    Dia mengatakan, ketika korban mengungsi sementara waktu di titik pengungsian terpusat, maka lebih mudah untuk mengakses layanan dasar seperti dapur umum, makanan, air bersih, MCK hingga kesehatan. BNPB pun mengimbau korban apabila masih khawatir kembali ke rumah, maka disarankan mengungsi ke pengungsian terpusat.

    "Kami tetap mengimbau bila masih takut untuk kembali ke rumah masing-masing, maka dapat juga masuk ke pos pengungsian yang terpusat. Di mana akan dilayani di sana nantinya," ucap dia.

  3. 3. Ada 8.794 gempa susulan sudah terjadi sejak gempa utama 15 Agustus 2026

    BNPB, gempa susulan
    Data dari BNPB soal gempa susulan pada Jumat, 28 Agustus 2026. (Tangkapan layar YouTube BNPB)

    Sementara, sudah ada 8.794 gempa susulan yang terjadi sejak gempa utama pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Kekuatan gempa terbesar tercatat mencapai M 6,2. Sedangkan, kekuatan gempa paling rendah yaitu magnitudo 1,1. Dari ribuan gempa susulan itu, sebanyak 152 gempa di antaranya dirasakan oleh warga.

    "Gempa-gempa susulan diperkirakan masih terus berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu ke depan sejak gempa utama terjadi," ujar Berton.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More