Comscore Tracker

5 Fakta Ignaz Semmelweis, Dokter Pelopor Cuci Tangan yang Benar

Semmelweis jadi Google Doodle hari ini.

Laman Google.com hari ini (20/3) menampilkan Doodle seorang pria yang sedang memegang timer dan ilustrasi cuci tangan pada huruf "O" kedua pada logo Google.

Nah, Doodle Google tersebut adalah bentuk penghormatan dunia kepada seorang dokter bernama Ignaz Semmelweis yang memiliki hubungan kuat dengan aksi cuci tangan dengan benar. Dimana akhir-akhir ini kegiata tersebut digalakkan sebagai bentuk pencegahan terhadap virus COVID-19.

Sebenarnya, siapa itu Ignaz Semmelweis? Apa hubungannya dengan cuci tangan, ya?

1. Kehidupan pribadi

5 Fakta Ignaz Semmelweis, Dokter Pelopor Cuci Tangan yang Benarcommons.wikimedia.org

Lahir di Budapest, Hongaria pada 1 Juli 1818 dengan nama Ignaz Philipp Semmelweis. Ia merupakan seorang dokter asal Hongaria keturunan Jerman yang menempuh pendidikan di University of Vienna dan University of Budapest.

Tahun 1857, ia menikahi seorang perempuan bernama Maria Weidenhofer dan dikaruniai lima orang anak dari pernikahan tersebut. Keempat anaknya itu adalah Antonia, Maria, Ignac, Margit, dan Bela.

2. Semmelweis menjadi dokter yang mempelopori cuci tangan yang benar

5 Fakta Ignaz Semmelweis, Dokter Pelopor Cuci Tangan yang Benarlamenteesmaravillosa.com

Setelah merebaknya virus COVID-19 ke seluruh dunia, gerakan cuci tangan yang benar menjadi salah satu cara mencegah penyebaran dan penularan virus mematikan tersebut. Tahukah kalian, jika gerakan cuci tangan tersebut pertama kali dipelopori oleh Ignaz Semmelweis pada 20 Maret 1847 silam.

Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Helmut Wykticky dan Manfred Skopec, tahun 1847 Semmelweis mempostulatkan atau mengasumsikan terorinya mengenai cara cuci tangan yang benar pada saat itu. Jika perubahan patologis anatomi yang diamati dalam tubuh seorang wanita yang meninggal saat melahirkan, bayi yang baru lahir, dan dalam temuan otopsi seorang temannya bernama Jakob Kolletschka adalah sebuah entitas secara morfologis dan klinis.

3. Demam Puerperal: Saksi dibalik usulan cuci tangan yang benar saat itu

5 Fakta Ignaz Semmelweis, Dokter Pelopor Cuci Tangan yang Benarm.babyblog.ru

Semmelweis pernah bekerja di Rumah Sakit Umum Vienna setelah mendapatkan gelar dokternya pada tahun 1837. Pada 1846, Semmelweis menjadi asisten seorang profesor benama Johann Klein dan memimpin klinik bidan disana.

Pada saat itu muncul sebuah penyakit sejenis demam yang sangat berbahaya dan memiliki tingkat kematian yang tinggi terutama pada ibu yang melahirkan. Penyakit demam yang mewabah di rumah sakit itu belakangan diketahui sebagai demam puerperal atau infeksi postpartum.

Demam puerperal adalah infeksi bakteri yang menyerang saluran reproduksi perempuan setelah melahirkan atau keguguran dengan gejala demam tinggi melebihi 38 derajat celcius, sakit perut, dan keluarnya cairan dari vagina yang berbau tidak sedap. Demam ini biasanya terjadi dalam kurun waktu 24 jam dalam rentang waktu sepuluh hari setelah melahirkan atau kelahiran.

Dalam kesimpulannya Semmelweis menyatakan, jika demam ini terjadi akibat dari dokter yang memeriksa pasien, tak terkecuali ibu yang melahirkan dengan tangan yang 'kotor' setelah melakukan tindakan operasi atau autopsi. Semmelweis juga menyimpulkan, jika dokter bedah adalah orang yang membawa materi infeksius, seperti bakteri, virus atau mikroorganisme lainnya. Melalui tangannya, para dokter bedah tadi berhasil menginfeksi pasiennya yang juga merupakan seorang ibu yang sedang melahirkan.

Baca Juga: Berdurasi 20-an Detik, Ini 10 Lagu yang Pas untuk Cuci Tangan

4. Ignaz Semmuelweis: The presecuted medical pioneer

5 Fakta Ignaz Semmelweis, Dokter Pelopor Cuci Tangan yang Benarcommons.wikimedia.org

Demam puerperal yang sering terjadi pada pertengahan abad ke-19 itu sering kali berakibat fatal. Itulah mengapa Semmelweis mengusulkan, supaya dokter yang hendak menangani pasiennya harus mencuci tangan terlebih dahulu dengan larutan kapur yang terklorinasi atau kalsium hipoklorit (kaporit).

Usulan tersebut sejenak berhasil menunjukkan pengaruh yang baik, dimana berkat disinfeksi tangan tadi mampu mengurangi tingkat kematian hingga di bawah 1 persen. Namun, pengamatan atau usulan tersebut tak begitu saja dapat diterima di kalangan para medis. Beberapa dokter merasa tersinggung dengan usulan cuci tangan tersebut dan banyak komunitas dokter yang menolak gagasan cuci tangan itu karena Semmelweis tidak dapat menjelaskan secara ilmiah, mengapa penemuannya bisa menurunkan tingkat kematian.

5. Sempat ditolak, kini usulan Semmelweis jadi salah satu bentuk pencegahan virus paling tren di dunia

5 Fakta Ignaz Semmelweis, Dokter Pelopor Cuci Tangan yang Benarpixabay.com/Couleur

Sejak tahun 1861, Semmelweis mengidap depresi dan gangguan kejiwaan yang membuatnya sering melamun. Dalam buku yang ditulis oleh K. Codell Carter dan Barbara R. Carter berjudul Childbed Fever: A scientific biography of Ignaz Semmelweis karena mendapatkan kritik negatif dari luar negeri, Semmelweis menghujat serta menuduh mereka yang mengkritiknya sebagai "pembunuh yang tidak bertanggung jawab". Bahkan, dalam buku Etiology, Concept and Prophylaxis of Childbed Fever yang diterjemahkan oleh K. Codell Carter, Semmelweis juga menghujat orang-orang tadi sebagai "orang bodoh".

Di tahun 1865, ketika perilakunya makin mengesalkan dan mempermalukan rekan-rekannya, Semmelweis dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa dan meninggal dunia akibat pyaemia setelah dipukuli hingga meregang nyawa oleh penjaganya, 14 hari setelah ia dikirim ke rumah sakit tersebut. Ia meninggal di usianya yang masih terbilang muda, yaitu 47 tahun.

Setelah kematiannya, usulan Semmelweis beberapa tahun lalu mengenai cara cuci tangan yang benar baru bisa diterima oleh masyarakat luas. Hal ini berkat Louis Pasteur yang berhasil membuktikan kebenaran teori kuman dan Joseph Lister yang melakukan operasi dengan metode higienis.

Saat ini, ketika virus COVID-19 menjadi pandemi global, banyak orang dan praktisi kesehatan yang mulai menggalakan aksi cuci tangan yang benar agar tidak mudah terjangkit virus mematikan tersebut. Tentu, aksi cuci tangan tadi menjadi salah satu bentuk pencegahan virus COVID-19 paling tren di dunia saat ini.

Ignaz Semmelweis mendapat julukan sebagai "savior of mothers" berkat penemuannya tersebut. Tak hanya itu, kemenangan bakteriologi yang dimulai setelah kematiannya juga membuat ia mendapat julukan sebagai "genial ancestor of bacteriology". Terima kasih Ignaz Semmelweis.

Baca Juga: Bukti Foto: Hand Sanitizer Tak Sebaik Air dan Sabun untuk Cuci Tangan

Ines Sela Melia Suseno Photo Verified Writer Ines Sela Melia Suseno

Dengan menulis saya 'bersuara'. Dengan menulis saya merasa bebas.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya