Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Kasus Gas Gunung Api Paling Mematikan di Dunia, Ada Indonesia!
ilustrasi gas gunung api (pexels.com/Nadezhda Moryak)

Letusan gunung api tidak selalu menjadi ancaman karena lava atau abu vulkanik yang terlihat dari kejauhan. Gas yang dilepaskan dari aktivitas vulkanik juga bisa membahayakan manusia, bahkan dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Adapun, salah satu gas yang paling berbahaya adalah karbon dioksida (CO2) karena dalam konsentrasi tinggi dapat menggantikan oksigen di udara.

Sejumlah kejadian tragis di berbagai negara menunjukkan bagaimana gas vulkanik dapat menyebar hingga ke wilayah tempat manusia tinggal. Di Kamerun, misalnya, pelepasan gas dari danau vulkanik di sana menewaskan lebih dari seribu orang. Lantas, apa saja kasus gas gunung api paling mematikan yang pernah terjadi di dunia? Berikut kisah selengkapnya!

1. Letusan gas Danau Nyos, Kamerun, yang menewaskan lebih dari 1.700 orang

Danau Nyos (commons.wikimedia.org/Jack Lockwood)

Pada 21 Agustus 1986, sebuah awan gas beracun tiba-tiba keluar dari Danau Nyos di barat laut Kamerun. Danau tersebut berada di dalam kawah gunung api dan menyimpan karbon dioksida (CO2) yang berasal dari sumber magma jauh di bawah permukaan. Menurut laporan United States Geological Survey (USGS), suatu mekanisme yang belum diketahui secara pasti memicu pelepasan CO2 dalam jumlah besar dari air danau.

Gas tersebut kemudian membentuk awan yang bergerak mengikuti lembah dan menyebar ke wilayah yang dihuni masyarakat. Karena CO2 lebih berat daripada udara, gas ini terkumpul di area rendah dan menggantikan oksigen yang biasanya dihirup manusia. Korban yang terpapar konsentrasi tinggi CO2 dengan cepat kehilangan kesadaran dan meninggal akibat kekurangan oksigen.

Smithsonian Global Volcanism Program mencatat lebih dari 1.700 orang tewas dalam peristiwa tersebut, bersama dengan sejumlah besar hewan. Lebih dari 300 orang yang selamat juga harus dirawat di rumah sakit setelah terpapar gas tersebut. Investigasi USGS kemudian menunjukkan bahwa tragedi itu bukan disebabkan oleh letusan gunung api biasa, melainkan pelepasan CO2 dalam jumlah besar dari danau vulkanik.

2. Gas CO2 dari Dieng menewaskan ratusan orang

Dieng (commons.wikimedia.org/Anandajoti)

Pada 20 Februari 1979, aktivitas freatik terjadi di Kawah Sinila, kompleks Gunung Dieng, Jawa Tengah. Letusan tersebut disertai keluarnya gas beracun yang kemudian menyebar ke wilayah di sekitar kawah. Smithsonian Global Volcanism Program mencatat 149 orang tewas dalam peristiwa tersebut, sementara sekitar 1.000 orang lainnya mengalami luka atau terdampak paparan gas.

Gas yang keluar dari kawah mengandung karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S), yang dapat berbahaya jika terhirup dalam konsentrasi tinggi. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Volcanology and Geothermal Research pada 1989 menemukan bahwa gas yang dilepaskan saat kejadian tersebut hampir seluruhnya berupa CO2, dengan sejumlah kecil metana dan senyawa sulfur. Penelitian itu juga menyebutkan bahwa CO2 tersebut kemungkinan berasal dari gas magmatik yang terakumulasi di bawah kompleks vulkanik Dieng dan kemudian terdorong keluar akibat tekanan dari letusan freatik.

3. Danau Monoun, Kamerun, melepaskan gas mematikan secara tiba-tiba

Danau Monoun (commons.wikimedia.org/Prosper Mekem)

Pada 15 Agustus 1984, warga di sekitar Danau Monoun, Kamerun, dikejutkan oleh pelepasan gas secara tiba-tiba dari danau yang berada di kawasan vulkanik. Gas tersebut kemudian membentuk awan yang bergerak di dekat permukaan tanah dan menyebar ke wilayah sekitar danau. Menurut USGS, peristiwa tersebut menewaskan 37 orang yang berada di sekitar danau.

Gas yang dilepaskan sebagian besar berupa karbon dioksida (CO2) yang terlarut dalam air danau. Smithsonian Global Volcanism Program juga mencatat bahwa CO2 dalam jumlah tinggi dapat terkumpul di area rendah dan menyebabkan orang yang menghirupnya kekurangan oksigen. Peristiwa Danau Monoun kemudian menjadi salah satu petunjuk penting bagi ilmuwan untuk memahami bagaimana gas vulkanik dapat terakumulasi di danau dan dilepaskan secara tiba-tiba.

Gas gunung api memiliki karakteristik yang berbeda dari lava dan magma karena tidak selalu terlihat, tetapi bisa menyebar tanpa disadari dan membahayakan manusia. Karena itu, tiga kasus ini menunjukkan bahwa ancaman gunung api tidak hanya berasal dari material yang terlihat saat erupsi, tetapi juga dari gas yang dilepaskan ke lingkungan. Menurutmu, mana yang lebih sulit diwaspadai? Lava dan abu vulkanik yang terlihat atau gas vulkanik yang tidak kasatmata?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article