Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kawasan Bromo Rentan Kebakaran Saat Kemarau?
Kendaraan pengangkut wisatawan melintasi kepulan asap di kawasan Blok Bantengan, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Selasa, 4 Agustus 2026 (ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya)
  • Kebakaran di Blok Bantengan, TNBTS, sejak 3 Agustus 2026 masih berusaha dipadamkan.

  • Hingga 7 Agustus, sekitar 120 hektare vegetasi di kawasan Bromo diperkirakan terbakar.

  • Kemarau mengeringkan savana, semak, ilalang, dan pepohonan menjadi bahan bakar alami; angin kencang membawa bara, sementara lereng curam serta kabut tebal menghambat pemadaman.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan kembali terjadi di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Api mulai muncul sejak Senin (03/08/2026) di Blok Bantengan, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), dan hingga kini proses pemadaman terus dilakukan. Peristiwa ini kembali menjadi perhatian karena Bromo memang beberapa kali mengalami kebakaran, termasuk insiden besar pada 2023 yang membakar ratusan hektare lahan.

Melihat kejadian tersebut, tidak sedikit yang bertanya, kenapa kawasan Bromo rentan kebakaran saat kemarau? Salah satu penyebabnya adalah hamparan savana, semak belukar, dan ilalang yang mengering sehingga sangat mudah terbakar, ditambah angin kencang yang membuat api cepat menyebar. Untuk memahami penyebab lengkap hingga berbagai upaya pencegahannya, simak penjelasan berikut.

1. Kenapa kawasan bromo rentan kebakaran saat kemarau?

Penyebab pasti kebakaran Bromo masih dalam penyelidikan Balai Besar TNBTS. Namun, kondisi cuaca kering saat musim kemarau serta tiupan angin kencang diduga menjadi faktor yang membuat api cepat merambat. Kawasan Bromo memang rentan mengalami kebakaran karena didominasi vegetasi berupa padang savana, semak belukar, dan ilalang. Saat curah hujan menurun, vegetasi tersebut kehilangan banyak kandungan air hingga mengering dan berubah menjadi bahan bakar alami yang sangat mudah terbakar.

Sejalan dengan itu, pakar kebencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Amien Widodo, mengatakan bahwa cuaca kering membuat daun dan rumput lebih mudah terbakar, sedangkan angin kencang mempercepat penyebaran api. Ia juga mengingatkan bahwa puntung rokok maupun botol atau kemasan air mineral bening yang tertinggal di kawasan wisata dapat menjadi pemicu kebakaran apabila tidak dibuang dengan benar.

2. Kenapa kebakaran Bromo cepat menyebar?

Tim BPBD Probolinggo memantau kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dari Bukit Sariwani, Probolinggo, Selasa, 4 Agustus 2026 (ANTARA/HO-BPBD Probolinggo)

Hingga Jumat (07/08/2026), kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo diperkirakan telah membakar sekitar 120 hektare vegetasi. Berdasarkan keterangan BPBD Jawa Timur, Balai Besar TNBTS, dan tim gabungan di lapangan, ada beberapa faktor yang membuat api sulit dikendalikan dan terus meluas.

  • Angin kencang membuat bara api berpindah ke lokasi lain

Saat pagi hingga siang hari, angin di kawasan Bromo bertiup cukup kencang ke arah barat. Embusan angin ini membawa bara api dan percikan vegetasi yang terbakar ke area lain sehingga muncul titik api baru. Akibatnya, api dapat melompati sekat alami dan menyebar lebih cepat.

  • Vegetasi yang mengering menjadi bahan bakar alami

Musim kemarau membuat berbagai jenis vegetasi, seperti cemara gunung, mentigen, akasia, semak belukar, dan ilalang kehilangan banyak kandungan air. Kondisi tersebut membuat tanaman menjadi sangat mudah terbakar sehingga kobaran api cepat membesar dan meluas.

  • Medan yang curam menyulitkan proses pemadaman

Sebagian titik kebakaran berada di lereng curam dan dinding Kaldera Tengger yang sulit dijangkau. Kondisi ini membuat petugas kesulitan membawa peralatan maupun mengalirkan selang air ke pusat kebakaran, sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama.

  • Kabut tebal menghambat operasi pemadaman

Memasuki sore hari, kawasan Bromo biasanya diselimuti kabut tebal yang membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas. Kondisi ini menghambat pemadaman dari darat maupun udara karena petugas harus mengutamakan keselamatan selama proses penanganan kebakaran.

3. Upaya mencegah kebakaran di kawasan Bromo

Agar kebakaran tidak kembali meluas, pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bersama berbagai pihak terus memperkuat upaya pencegahan, khususnya saat musim kemarau. Di sisi lain, wisatawan juga diharapkan ikut berperan menjaga kawasan dengan mematuhi aturan yang berlaku. Berikut beberapa langkah yang dilakukan:

  • Memperbanyak patroli di kawasan yang rawan terjadi kebakaran

  • Menutup sementara akses ke jalur wisata yang dinilai berisiko tinggi

  • Melarang pengunjung membawa atau menggunakan benda yang dapat memicu api, seperti flare, petasan, maupun api terbuka

  • Menempatkan petugas di sejumlah titik strategis untuk memperketat pengawasan

  • Mengedukasi wisatawan agar lebih peduli terhadap bahaya kebakaran hutan

  • Memperkuat koordinasi antara pengelola TNBTS, BPBD, BMKG, dan tim Manggala Agni dalam memantau kondisi kawasan

  • Mengajak masyarakat sekitar ikut mengawasi dan segera melaporkan jika menemukan tanda-tanda kebakaran

  • Mengimbau wisatawan agar tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak meninggalkan sampah, dan segera melapor apabila melihat titik api.

Itulah penjelasan lengkap mengenai kenapa kawasan Bromo rentan kebakaran saat kemarau beserta upaya pencegahannya. Semoga ulasan ini bermanfaat, ya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article