Dalam kondisi normal, hutan yang tumbuh dengan baik dapat menyerap karbon lebih banyak daripada yang dilepaskan. Namun, kebakaran berulang dengan intensitas tinggi dapat membalikkan kondisi tersebut.
Ketika karbon yang dilepaskan akibat kebakaran lebih banyak daripada yang mampu diserap selama pemulihan, hutan dapat berubah dari penyerap karbon menjadi sumber karbon. Risiko ini semakin besar jika kebakaran kembali terjadi sebelum vegetasi sempat pulih.
Perubahan iklim juga dapat memperburuk situasi. Suhu yang semakin tinggi dan kondisi lebih kering meningkatkan risiko kebakaran hutan. Kebakaran kemudian melepaskan lebih banyak gas rumah kaca sekaligus melemahkan kemampuan hutan menyerap karbon.
Terbentuklah siklus yang saling memperkuat: pemanasan meningkatkan risiko kebakaran, kebakaran menambah emisi, dan peningkatan gas rumah kaca mendorong pemanasan lebih lanjut.
Pada akhirnya, kebakaran hutan mengganggu siklus karbon karena melepaskan cadangan karbon yang tersimpan sekaligus mengurangi kemampuan hutan menyerap karbondioksida. Dampaknya tidak hanya terasa selama kebakaran berlangsung, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi tanah, pertumbuhan vegetasi, dan keseimbangan iklim dalam jangka panjang. Karena itu, pencegahan kebakaran yang tidak terkendali dan pengelolaan hutan secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan karbon di bumi.
Referensi
Earth.org. Diakses pada November 2026. How Does Deforestation Affect the Carbon Cycle?
National Aeronautics and Space Administration. Diakses pada November 2026. Evolving in the Presence of Fire
National Aeronautics and Space Administration. Diakses pada November 2026. What Effects do Forest Fires have on the Storage of Carbon?
Swansea University. Diakses pada November 2026. Understanding How Forest Fires Affect Carbon Emissions and Climate Change
US Department of Agriculture. Diakses pada November 2026. Effects of Fire on Ecosystem Carbon in the Midwest and Eastern United States