Tata Surya mulai terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu. Saat itu, wilayah yang sekarang menjadi Tata Surya dipenuhi awan gas dan debu yang sangat besar.
Awan tersebut sebenarnya tidak benar-benar diam. Partikel-partikel di dalamnya sudah bergerak dan memiliki sedikit gerakan rotasi. Ketika gravitasi menarik material tersebut semakin dekat, awan gas dan debu perlahan runtuh menjadi struktur yang lebih kecil dan padat.
Dalam kondisi tertentu, ketika benda yang berputar menyusut, kecepatannya dapat meningkat. Prinsip ini disebut kekekalan momentum sudut.
Hal yang sama bisa dilihat ketika seorang atlet seluncur es berputar. Saat kedua tangannya direntangkan, putarannya lebih lambat. Ketika tangannya ditarik mendekati tubuh, putarannya menjadi lebih cepat.
Proses pembentukan Tata Surya kurang lebih mengikuti prinsip yang sama. Matahari terbentuk di bagian tengah, sedangkan material yang tersisa membentuk cakram berputar di sekelilingnya.
Debu dan batuan di dalam cakram tersebut kemudian saling bertabrakan dan bergabung. Dalam proses panjang inilah planet-planet terbentuk sekaligus memperoleh momentum rotasi yang membuatnya terus berputar pada porosnya.