Di tengah terjalnya lanskap padang rumput Mongolia yang membentang luas, bertahan hidup di bawah cuaca ekstrem adalah kenyataan sehari-hari bagi para penggembala nomaden. Ketika musim dingin menerjang dan suhu udara merosot hingga 40 derajat di bawah nol, kayu bakar menjadi barang langka yang amat sulit ditemukan di dataran tinggi tanpa pepohonan. Dalam kondisi yang serba terbatas ini, masyarakat lokal menggantungkan kelangsungan hidup mereka pada sumber daya yang mungkin terdengar mengejutkan masyarakat luar yaitu kotoran hewan ternak.
Bukan hanya sekadar limbah buangan, kotoran ternak yang dikeringkan atau dikenal secara lokal sebagai argal. Argal membantu menjaga peradaban tetap bertahan selama berabad-abad. Mulai dari menahan gempuran angin beku di dalam kemah ger, menyediakan bahan bakar yang stabil untuk memasak, hingga mendukung tradisi dan keberlanjutan ekosistem, elemen sederhana ini memegang peranan penting yang menjadikannya salah satu aset paling berharga di wilayah Mongolia. Yuk, simak alasan kenapa kotoran ternak menjadi sangat berharga di Mongolia!
