Mengapa Manusia Mendomestikasi Kucing? Ini Alasannya

- Kucing sebagai pengontrol hama
- Didomestikasi sebagai peliharaan
- Sebagai simbol budaya
Felis catus atau kucing merupakan salah satu hewan domestik terpopuler di dunia. Sudah jadi sahabat manusia sejak ribuan tahun yang lalu, kucing kerap dipelihara dan menjadi bagian dari budaya itu sendiri. Domestikasi kucing juga memiliki kisah yang cukup unik. Salah satunya adalah alasan kenapa manusia mendomestikasi kucing.
Salah satu alasan utamanya adalah sebagai pembasmi hama, khususnya tikus. Akhirnya, domestikasi tersebut juga berkembang dan kucing menjadi hewan peliharaan. Di peradaban kuno, kucing juga dipelihara dan didomestikasi sebagai lambang dan simbol budaya. Penasaran dengan seluk-beluk domestikasi kucing? Yuk, cari tahu informasinya lewat pembahasan berikut.
1. Sebagai pengontrol hama

Di awal kemunculannya, kucing domestik menjadi pengontrol hama yang sangat bermanfaat bagi manusia. Dilansir International Cat Care, awalnya kucing hidup bebas di alam liar sebagai predator ganas. Saat manusia mulai muncul, perlahan kucing tertarik dengan area permukiman karena kehadiran makanan. Tikus, burung, dan kadal adalah beberapa makanan utama kucing.
Bagi kucing, semua hewan kecil tersebut memang makanan, tetapi bagi manusia mereka adalah hama yang merusak. Karena kucing terus memburu semua hama tersebut, manusia membiarkannya. Perlahan kucing menjadi jinak dan tak takut dengan manusia. Seiring berjalannya waktu, manusia mulai memelihara, merawat, menjadikan kucing sebagai pembasmi hama, dan mendomestikasinya.
2. Didomestikasi sebagai peliharaan

Dilansir Antelope Pets, terdapat dua teori utama terkait bagaimana kucing bisa menjadi peliharaan manusia. Teori pertama mengungkapkan kalau kucing datang sendiri ke area permukiman. Setelah ribuan tahun hidup bersama manusia, ia menjadi jinak dan tidak berbahaya. Alhasil, manusia mulai melihat kucing sebagai peliharaan, memilih individu yang jinak, memelihara, dan mendomestikasinya.
Teori kedua agak berbeda, di mana manusia secara sengaja memiliki kucing liar yang paling jinak di alam liar. Dari pemilihan tersebut, manusia akan memelihara dan mendomestikasi. Lama-kelamaan, kedua proses tersebut membuat kucing menjadi peliharaan. Teori mana pun yang benar berakhir pada kesimpulan bahwa perjalanan kucing sebagai hewan peliharaan sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu.
3. Sebagai simbol budaya

Karena kedekatannya yang erat dengan manusia, kucing sudah masuk sebagai bagian dari budaya itu sendiri. Berbagai peradaban sudah menganggap kucing sebagai simbol, lambang, bahkan dewa. Dilansir Discover Magazine, di Mesir Kuno ada dewi bernama Bastet yang rupanya seperti kucing, menjadikan hewan tersebut sebagai simbol agama dan kepercayaan.
Di Romawi Kuno, kucing juga menjadi simbol kekayaan atau status sosial yang kuat. Melipir ke India, kucing kerap dimasukkan ke cerita rakyat, dongeng, fable, hingga cerita keagamaan seperti Mahābhārata. Beberapa penelitian arkeologi juga menemukan ornamen seperti patung, pahatan, hingga lukisan berbentuk kucing yang usianya mencapai 9.500 tahun.
4. Sejarah singkat domestikasi kucing

Laman LiveScience menjelaskan kalau ada hipotesis yang mengungkapkan bahwa domestikasi kucing dimulai sekitar 12.000–5.000 tahun yang lalu, tepatnya di wilayah Mediterania. Kucing domestik modern sendiri merupakan keturunan dari Felis lybica (kucing liar Afrika) yang hidup di Afrika Utara seperti Mesir dan sekitarnya. Menariknya, hingga kini kucing liar Afrika masih hidup di alam liar.
Awalnya domestikasi terjadi di satu tempat. Kemudian, menyebar ke daerah lain dan akhirnya kucing bisa ditemukan di seluruh dunia seperti saat ini. Di Eropa juga ditemukan bukti arkeologi terkait domestikasi kucing yang usianya sekitar 11.000–2.300 tahun. Namun, kucing di Eropa saat itu bukan F. lybica melainkan Felis silvestris (kucing liar Eropa). Jadi, kucing di Eropa bukan nenek moyang dari kucing domestik modern.
5. Manfaat domestikasi bagi kucing itu sendiri

Tak hanya bagi manusia, domestikasi juga bermanfaat bagi kucing itu sendiri. Dilansir Cats in the City, domestikasi kucing memunculkan hubungan mutualisme yang saling menguntungkan. Awalnya manusia bisa aman dari hama. Di sisi lain, kucing juga diuntungkan karena bisa mencari makanan dengan lebih mudah dan bisa hidup di permukiman yang aman dari predator. Jika melihat ke masa depan, hal tersebut juga masih berlaku. Manusia memanfaatkan kucing sebagai peliharaan dan bisa dijual. Sementara itu, kucing yang dipelihara akan dirawat dan kehidupannya terjamin.
Alasan kenapa manusia mendomestikasi kucing ternyata cukup kompleks. Tak terpaku pada satu alasan, justru manusia melakukan domestikasi demi memenuhi banyak hal. Domestikasi kucing juga menarik karena tak sepenuhnya dilakukan oleh manusia. Melihat di masa modern, domestikasi memberikan banyak keuntungan, entah bagi manusia atau kucing itu sendiri.


















