Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Lençóis Maranhenses, Padang Pasir Unik dengan Laguna Musiman

potret Lençóis Maranhenses yang terletak di Brasil
potret Lençóis Maranhenses yang terletak di Brasil (commons.wikimedia.org/Julius Dadalti)
Intinya sih...
  • Lençóis Maranhenses bukan gurun, tapi kawasan pesisir tropis dengan laguna musiman yang unik.
  • Laguna-lagunya terbentuk saat musim hujan dan mengering saat musim kemarau, menciptakan siklus alam yang teratur setiap tahun.
  • Pasirnya berasal dari sedimen sungai dan lanskapnya selalu berubah, menunjukkan keteraturan dalam setiap siklus alam.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bayangkan hamparan pasir putih yang luas sejauh mata memandang, dengan bukit-bukit bergelombang yang tampak gersang seperti padang pasir pada umumnya. Namun, di sela-sela lekukannya justru terbentuk laguna-laguna biru jernih yang kontras dan terlihat hampir mustahil. Pemandangan inilah yang dapat ditemukan di Lençóis Maranhenses, sebuah bentang alam unik di timur laut Brasil.

Keindahan tersebut bukan sekadar daya tarik visual, melainkan hasil dari proses alam yang menarik untuk dipahami. Dari kondisi iklimnya yang tidak biasa hingga ekosistem yang mampu bertahan mengikuti perubahan musim, Lençóis Maranhenses menyimpan berbagai fakta unik yang jarang diketahui. Untuk mengenal lebih jauh keistimewaannya, yuk simak lima faktanya berikut ini.

1. Secara teknis, ini bukan gurun

potret hamparan pasir dan laguna di Lençóis Maranhenses yang tampak seperti gurun, namun bukan kawasan kering
potret hamparan pasir dan laguna di Lençóis Maranhenses yang tampak seperti gurun, namun bukan kawasan kering (pexels.com/Renato Nascimento)

Sekilas, bentang alam di Taman Nasional Lençóis Maranhenses memang menyerupai gurun. Hamparan bukit pasirnya luas dan bergelombang, membentuk rantai gumuk pasir (barchan) yang terus bergerak mengikuti arah angin. Namun, secara ilmiah kawasan ini tidak dapat dikategorikan sebagai gurun karena berada di wilayah beriklim semi-lembap dengan musim hujan yang teratur setiap tahun.

Curah hujan inilah yang menjadi pembeda utama. Air hujan mengisi cekungan di antara bukit pasir dan membentuk laguna yang muncul pada musim tertentu. Laguna-laguna ini sepenuhnya bergantung pada air hujan, tanpa aliran masuk atau keluar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Lençóis Maranhenses bukan gurun, melainkan kawasan pesisir tropis dengan dinamika geomorfologi yang unik.

2. Laguna-lagunanya bersifat musiman

potret laguna yang muncul di sela bukit pasir dan akan menyusut saat kemarau
potret laguna yang muncul di sela bukit pasir dan akan menyusut saat kemarau (unsplash.com/gabriel xu)

Laguna-laguna di Lençóis Maranhenses mengikuti siklus hujan tahunan. Pada periode Januari hingga Juni, curah hujan yang cukup tinggi mengisi lembah-lembah di antara bukit pasir dan membentuk laguna jernih berwarna biru dan hijau. Beberapa di antaranya dapat mencapai panjang lebih dari 90 meter dan kedalaman hingga sekitar tiga meter, menciptakan pemandangan kontras antara air dan hamparan pasir putih di sekelilingnya.

Ketika musim hujan berakhir, air di laguna perlahan menyusut akibat panas yang tinggi dan proses penguapan. Permukaan air dapat turun cukup cepat setiap bulan hingga akhirnya mengering sepenuhnya. Cekungan yang sebelumnya terisi air kembali menjadi bagian dari bentang pasir, dan proses ini berlangsung berulang setiap tahun.

3. Pasirnya berasal dari sedimen sungai

potret pertemuan vegetasi, laguna, dan hamparan pasir yang terbentuk dari sedimen sungai
potret pertemuan vegetasi, laguna, dan hamparan pasir yang terbentuk dari sedimen sungai (pexels.com/Leo Castro)

Hamparan pasir di Lençóis Maranhenses terbentuk dari sedimen yang dibawa oleh dua sungai besar, yaitu Parnaíba dan Preguiças. Sungai-sungai ini mengalir dari wilayah pedalaman menuju Samudra Atlantik. Setelah mencapai pantai, arus laut mendorong dan mengendapkan pasir di sepanjang garis pantai. Proses alam ini terjadi secara terus-menerus sehingga menciptakan lapisan pasir yang luas di kawasan tersebut.

Ketika musim kemarau tiba, angin timur laut yang bertiup kuat menggerakkan pasir dari pesisir hingga jauh ke daratan. Butiran pasir itu kemudian membentuk bukit-bukit pasir melengkung yang tinggi dan terus berubah setiap tahun. Bahkan, beberapa bukit pasir dapat bergeser cukup jauh dalam waktu satu tahun. Karena itulah lanskap di kawasan ini selalu tampak dinamis dan tidak pernah benar-benar sama dari satu musim ke musim berikutnya.

4. Ada ikan yang beradaptasi dengan siklus musim

potret laguna yang menjadi habitat ikan yang bertahan mengikuti siklus musim
potret laguna yang menjadi habitat ikan yang bertahan mengikuti siklus musim (commons.wikimedia.org/Ceiencarelli)

Di antara laguna musiman yang terbentuk saat musim hujan, terdapat ikan-ikan yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk bertahan hidup. Ketika hujan antara Januari hingga Juni mengisi cekungan di antara bukit pasir, beberapa sungai yang melintasi kawasan itu membuka jalur alami bagi ikan untuk masuk ke laguna. Pada masa inilah laguna menjadi habitat sementara yang mendukung kehidupan sebelum akhirnya kembali mengering.

Ketika musim kemarau datang dan air mulai menguap, sebagian laguna akhirnya mengering. Namun, beberapa spesies, seperti wolffish Hoplias malabaricus, mampu bertahan dengan cara berdiam di dalam lumpur hingga hujan kembali turun. Setelah air mengisi cekungan pasir, ikan-ikan tersebut kembali aktif. Kemampuan ini menunjukkan bahwa kehidupan di kawasan tersebut telah beradaptasi dengan perubahan musim yang terjadi setiap tahun.

5. Namanya berarti “seprai dari Maranhão”

potret hamparan pasir putih yang bergelombang seperti seprai yang terbentang di Maranhão
potret hamparan pasir putih yang bergelombang seperti seprai yang terbentang di Maranhão (unsplash.com/Marcreation)

Nama Lençóis Maranhenses memiliki makna yang cukup unik. Dalam bahasa Portugis, kata lençóis berarti seprai atau kain penutup tempat tidur, sedangkan Maranhenses merujuk pada negara bagian Maranhão di Brasil. Jika diterjemahkan secara bebas, namanya berarti seprai dari Maranhão. Penamaan ini bukan tanpa alasan, karena dari udara hamparan bukit pasir putihnya tampak seperti kain putih yang terbentang luas dan bergelombang tertiup angin.

Hamparan pasirnya tersusun dalam bentuk melengkung dan berulang, menciptakan kesan seperti lipatan kain raksasa yang menutupi wilayah pesisir. Gambaran visual inilah yang membuat nama tersebut terasa tepat dan mudah dipahami. Melalui nama itu, orang dapat langsung membayangkan karakter lanskapnya yang khas dan berbeda dari gurun pada umumnya.

Lençóis Maranhenses menjadi contoh bagaimana sebuah kawasan terbentuk melalui proses alam yang saling berkaitan. Pasir dari sedimen sungai, laguna yang hadir saat musim hujan, serta kehidupan yang menyesuaikan diri dengan perubahan musim menunjukkan adanya keteraturan dalam setiap siklusnya. Melalui gambaran ini, kita dapat melihat bahwa perubahan yang terjadi setiap tahun merupakan bagian alami dari keseimbangan lingkungan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

5 Fakta Unik Sarden Air Tawar, Hidupnya Berubah Sejak Letusan Gunung

18 Feb 2026, 19:29 WIBScience