Sumber Referensi :
Pottier, P., Kearney, M. R., Wu, N. C., Gunderson, A. R., Rej, J. E., Rivera-Villanueva, A. N., ... & Nakagawa, S. (2025). Vulnerability of amphibians to global warming. Nature, 1-8.
Lin, J., & Nicastro, D. (2018). Asymmetric distribution and spatial switching of dynein activity generates ciliary motility. Science, 360(6387), eaar1968.
Mengapa Amfibi Sangat Sensitif terhadap Perubahan Lingkungan?

- Kulit amfibi sangat tipis dan permeabel, memungkinkan zat berbahaya masuk ke dalam tubuh
- Siklus hidup biphasic membuat amfibi rentan terhadap ancaman di dua lingkungan sekaligus
- Amfibi bersifat ektoterm, bergantung pada suhu lingkungan untuk mengatur metabolisme tubuhnya
Amfibi adalah makhluk yang hidup di dua dunia, yakni air dan darat. Mereka memegang peran ekologis penting sebagai pengendali hama, penjaga keseimbangan rantai makanan, serta indikator kesehatan lingkungan. Ironisnya, justru kelompok hewan inilah yang paling cepat terdampak saat alam mulai berubah. Lalu, apa yang membuat amfibi begitu rapuh dibanding makhluk lain, dan mengapa nasib mereka bisa menjadi alarm bagi lingkungan kita? Yuk, kita kupas alasannya lewat poin-poin berikut!
1. Kulit yang sangat tipis dan permeabel

Kulit amfibi tidak berlapis sisik atau bulu pelindung seperti hewan lain. Permukaannya tipis dan mudah ditembus, sehingga air serta oksigen dapat masuk langsung ke aliran darah. Adaptasi ini mendukung kehidupan di lingkungan lembap, namun di sisi lain membuka celah bagi zat berbahaya.
Pestisida, logam berat, dan limbah kimia dengan mudah meresap ke dalam tubuh amfibi. Zat berbahaya itu lalu mengganggu organ, hormon, hingga sistem kekebalan. Banyak kasus amfibi mati bukan karena racun dosis besar, melainkan paparan kecil yang selalu berulang.
2. Siklus hidup biphasic (dua habitat)

Sebagian besar amfibi memulai hidupnya di air lalu berpindah ke darat saat dewasa. Siklus ini berarti mereka terekspos kepada ancaman di dua lingkungan sekaligus. Larva di perairan bisa terpapar polusi air, sedangkan dewasa di daratan menghadapi kualitas udara buruk, habitat terfragmentasi, maupun perubahan kelembapan.
Misalnya, jika kolam tempat amfibi berkembang menjadi tercemar oleh limbah pertanian, larva tidak akan berkembang dengan baik. Begitu pula pengeringan habitat darat karena perubahan iklim dapat membuat dewasa kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan. Efeknya sering kali tidak hanya berdampak kecil, tetapi bisa mengakibatkan kematian massal atau kegagalan reproduksi.
3. Sensitif terhadap suhu dan kelembapan (Ektoterm)

Amfibi bersifat ektoterm, artinya mereka bergantung pada suhu lingkungan untuk mengatur metabolisme tubuhnya. Mereka tidak punya cara internal layaknya mamalia demi mempertahankan suhu tubuh tetap stabil. Apabila suhu berubah drastis karena pemanasan global atau urbanisasi, fungsi tubuh seperti pertumbuhan, pencernaan, serta reproduksi ikut terganggu.
Perubahan iklim juga menghasilkan perubahan pola hujan dan musim yang berpengaruh besar pada habitat amfibi yang butuh kelembapan tinggi. Penelitian modern menunjukkan, bahwa kenaikan suhu yang terus terjadi dapat membuat banyak spesies melewati ambang toleransi fisiologis mereka, yang mana mereka tidak bisa lagi beradaptasi cukup cepat dengan perubahan tersebut.
4. Telur tanpa cangkang yang rentan

Berbeda dengan reptil atau burung, telur amfibi tidak memiliki cangkang keras yang melindungi embrio. Lapisan gel bening yang menyelubunginya hanya cukup untuk menahan air, bukan racun. Oleh sebab itu, telur sangat mudah terkontaminasi zat kimia di lingkungan sekitarnya.
Paparan polutan sejak fase embrio dapat memicu deformitas, gangguan perkembangan organ vital, atau kemampuan reproduksi yang terganggu di masa dewasa. Akibatnya, dampak polusi bisa berimplikasi jangka panjang bagi keberlangsungan spesies. Masalah ini semakin diperparah saat habitat air tercemar oleh limbah pertanian maupun industri.
5. Ancaman penyakit yang dipicu perubahan lingkungan

Tekanan lingkungan membuka peluang munculnya penyakit baru pada amfibi. Salah satu ancaman terbesar adalah jamur patogen seperti Batrachochytrium dendrobatidis (Bd), yang menyebabkan penyakit chytridiomycosis dan telah dikaitkan dengan kepunahan banyak spesies amfibi di seluruh dunia. Kondisi lingkungan yang terdegradasi, terutama suhu dan kelembapan yang berubah, justru memfasilitasi penyebaran penyakit ini.
Lingkungan yang sudah tertekan oleh polusi atau kekeringan membuat amfibi makin rentan terhadap serangan jamur dan virus. Sistem imun mereka yang sudah melemah oleh stres lingkungan tidak mampu melawan infeksi serius, sehingga tingkat kematian meningkat. Hal ini telah menjadi masalah global karena lebih dari ribuan populasi amfibi mengalami penurunan tajam atau punah hanya dalam beberapa dekade terakhir.
Memahami kerentanan amfibi membantu manusia membaca peringatan alam dengan lebih jernih. Perlindungan habitat, pengendalian pencemaran, dan mitigasi perubahan iklim menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan mereka. Menyelamatkan amfibi berarti melindungi sistem ekologis yang menopang kehidupan bersama. Alam sudah memberi tanda, sementara respons manusia akan menentukan kelanjutannya.


















