Jawabannya berkaitan erat dengan tempat tinggal dodo. Nenek moyang dodo diperkirakan tiba di Mauritius, sebuah pulau di Samudra Hindia, dari daratan yang jauh. Di sana, kondisi lingkungannya sangat berbeda. Saat itu, hampir tidak ada predator darat yang mengancam dodo dewasa. Artinya, dodo tidak memiliki alasan kuat untuk terus mempertahankan kemampuan terbang.
Makanan seperti buah dan biji juga tersedia di sekitar permukaan tanah. Dodo bisa mencari makan dengan berjalan kaki tanpa harus terbang dari satu tempat ke tempat lain.
Dalam kondisi seperti ini, tubuh yang lebih besar dan sayap yang lebih kecil justru tidak menjadi masalah. Energi yang biasanya digunakan untuk mempertahankan otot terbang dapat dialihkan untuk pertumbuhan tubuh dan kaki yang lebih kuat.
Selama perubahan tersebut tidak mengurangi kemampuan bertahan hidup, sifat-sifat itu dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perlahan, kemampuan terbang pun menghilang.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang hanya terjadi pada dodo. Kemampuan terbang telah hilang secara terpisah pada berbagai kelompok burung, terutama spesies yang hidup di pulau dengan sedikit predator.