Comscore Tracker

Mengenal Nihilisme, Paham yang Anggap Hidup Tak Miliki Arti

Pandangan dan kepercayaan hidup yang cukup ekstrim 

Pandangan hidup merupakan nilai-nilai yang dipegang seseorang dalam menjalani kehidupannya. Dapat dikatakan bahwa pandangan hidup adalah fondasi ataupun sarana bagi seseorang untuk mencapai tujuan hidupnya. Tetapi bagaimana jika seseorang memiliki pandangan bahwa hidup itu tidak berarti?

Pandangan bahwa hidup tidak memiliki arti disebut sebagai nihilisme. Nihilisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata 'nihil' yang berarti kosong, dan akhiran kata 'isme', yang berarti paham atau kepercayaan.

Mengutip Internet Encyclopedia of Philosophy, nihilisme merupakan paham bahwa semua nilai-nilai tidak memiliki dasar dan tidak ada yang dapat diketahui dan dikomunikasikan.

Dengan kata lain, paham nihilisme menganggap segala sesuatu tidak berarti. Paham ini cukup ekstrim dalam mencari tujuan hidup. Mengapa ada paham yang menganggap hidup tidak berarti? Apa konsekuensi dari paham tersebut? Cek daftar berikut untuk lebih mengenal konsep nihilisme.

1. Awal kemunculan 

Mengenal Nihilisme, Paham yang Anggap Hidup Tak Miliki Artiilustrasi orang berdiri di tengah barang rongsokan (pixabay.com/Engin_Akyurt)

Nihilisme merupakan istilah yang telah lama muncul, yakni sejak abad pertengahan, dan digunakan oleh kelompok klenik tertentu. Istilah ini muncul di Rusia pada abad ke-19, pada tahun awal kekuasaan Tsar Alexander II. Paham tersebut dianggap identik dengan gerakan revolusioner yang menolak otoritas negara, gereja, dan keluarga. 

Nihilisme mulai populer saat Ivan Turgenev menggunakan istilah tersebut dalam novelnya berjudul Fathers and Sons yang dirilis tahun 1862. Dalam novel tersebut terdapat karakter yang menganut paham nihilisme bernama Bazarov.

Tahun 1960-an hingga 1970-an, penganut paham nihilisme dianggap sebagai pemberontak. Di abad ke-20, pengertian nihilisme mencakup berbagai filosofi dan estetika yang menyangkal adanya kebenaran atau nilai moral yang benar, menolak pengetahuan atau komunikasi, dan menyatakan bahwa kehidupan dan seluruh alam semesta tidak memiliki arti dan tujuan.

2. Ahli filsafat yang mempelajari nihilisme

Mengenal Nihilisme, Paham yang Anggap Hidup Tak Miliki Artipotret Friedrich Nietzsche tahun 1882 (commons.wikimedia.org/USer: Quibik . Public Domain )

Nihilisme yang mulai populer menarik beberapa ahli filsafat untuk mempelajarinya. Friedrich Nietzsche, ahli filsafat dan kritikus budaya asal Jerman, adalah yang paling sering dikaitkan dengan konsep tersebut. Tulisan-tulisannya berpengaruh besar pada filsafat Barat dan sejarah intelektual. Ia terkenal karena kritik tajamnya mengenai moralitas dan agama tradisional Eropa, ide-ide filosofis konvensional, dan kesalehan sosial dan politik yang terkait dengan modernitas.

Filsafat Nietzsche merenungkan makna nilai dan signifikansinya terhadap keberadaan manusia. Academy of Ideas melansir bahwa dalam bukunya The Will to Power, Nietzsche menulis bahwa nihilisme berkaitan dengan penolakan radikal terhadap nilai, makna, dan keinginan. Karena tidak ada nilai absolut, dalam pandangan dunia Nietzsche, evolusi nilai-nilai di Bumi harus diukur dengan cara lain.

Nilai-nilai yang ada diciptakan oleh manusia sebagai alat bantu kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Karena nilai-nilai dan kepercayaan terhadap nilai tersebut penting bagi kesejahteraan dan keberadaan manusia, kita sering kali melupakan bahwa nilai-nilai adalah ciptaan kita sendiri dan menjalaninya seolah-olah nilai itu mutlak.

3. Terdapat beberapa jenis paham nihilisme

Mengenal Nihilisme, Paham yang Anggap Hidup Tak Miliki Artipotret patung dalam berbagai pose (pixabay.com/David Mark)

Nihilisme merupakan paham yang cukup rumit dan kompleks. Paham tersebut secara umum dibagi dalam lima jenis utama, yang seluruhnya memiliki karakteristik penolakan terhadap makna dari sesuatu.

Diringkas oleh Donald Allen Crosby, teolog Amerika yang merupakan profesor emeritus filsafat di Colorado State University, kelima jenis tersebut adalah:

  • Moral Nihilism: percaya bahwa tidak ada moral objektif atau proposisi yang benar. Tidak ada yang secara moral baik, buruk, salah, benar, dan sebagainya, karena tidak ada kebenaran dan tidak ada dasar yang kuat untuk moralitas atau etos apa pun. Oleh karena itu, segala sesuatu diizinkan. Nihilis moral dapat mengatakan bahwa pembunuhan tidak salah, tetapi juga bukan tindakan yang baik. 
  • Political Nihilism: adalah paham yang menentang segala jenis pendirian politik dan undang-undang pemerintah. Menolak otoritas tradisional termasuk gereja, gerakan semacam ini muncul di Rusia pada akhir abad ke-19.
  • Existential Nihilism: merupakan pengertian nihilisme yang paling banyak dianut, yang menganggap semua tujuan, aspirasi, pengaruh dan tindakan tidak berarti. Jenis ini menganggap tidak ada Tuhan, tidak ada kehidupan setelah kematian, dan tidak ada domain transendental apapun. 
  • Epistemological Nihilism: menganggap bahwa kita tidak bisa mengetahui apa-apa dengan pasti dan menolak segala bentuk pengetahuan. Istilah ini juga dikenal sebagai skeptisisme radikal.
  • Cosmic Nihilism: menyatakan bahwa tidak ada kebenaran atau makna tunggal di alam semesta. Kebebasan, cinta, harapan, dan kepuasan hanyalah fantasi yang kita masukkan untuk beradaptasi dari kekosongan dalam dunia kita, sebagai cara mengatasi stres.

Baca Juga: Sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara tentang Bergabungnya Dua Kerajaan

4. Dianggap sebagai paham yang berisiko 

Mengenal Nihilisme, Paham yang Anggap Hidup Tak Miliki Artipotret pria berjalan di atas pagar (pixabay.com/Lars_Nissen)

Seorang ahli filsafat bernama Hannah Arendt, mengatakan bahwa nihilisme dipahami sebagai risiko yang melekat dalam tindakan berpikir itu sendiri. Ia memperingatkan bahwa kita harus berhati-hati dan tidak menganggap nihilisme hanya sebagai krisis ketidakpastian personal, tetapi juga krisis politik, karena orang-orang yang berkuasa, dapat mempromosikan nihilisme demi mendapat keuntungan pribadi.

Ada risiko berbahaya jika banyak orang menganut paham tersebut. Salah satunya adalah sistem moral dan politik yang mendukung kebebasan dan kemerdekaan tidak akan diindahkan. Mereka lebih suka sistem yang mendukung dogma terhadap tradisi dan kepatuhan buta terhadap otoritas. Karena menganggap alam semesta tidak berarti, isu-isu tentang penindasan,  perang, dan lingkungan juga dapat menjadi tak berarti.

Aeon melansir bahwa nihilisme secara tidak adil dianggap sebagai filosofi kekerasan dan bahkan terorisme, tetapi nihilisme memang telah digunakan untuk mendukung kekerasan, dan banyak nihilis awal merupakan revolusioner kekerasan. Kaum nihilis Rusia, misalnya, menolak norma-norma politik, etika, dan agama tradisional.

Nihilis bukan hanya orang yang menolak pengetahuan karena tidak memiliki dasar yang tidak terbantahkan. Seseorang yang sadar bahwa memang ada ketidakpastian dalam ilmu pengetahuan dan tetap bertindak seolah-olah hal tersebut tidak penting juga disebut seorang nihilis.

Risiko nihilisme lain adalah kita akan terasingkan dari sesuatu yang baik atau benar, namun percaya bahwa tidak mempercayai apapun adalah hal yang benar dan baik.

5. Nihilisme di era modern

Mengenal Nihilisme, Paham yang Anggap Hidup Tak Miliki Artipotret pria duduk memandang keluar jendela (pixabay.com/StockSnap)

NIhilisme muncul kembali sebagai trend di era modern. Walau tidak sedramatis gerakan nihilis politik Rusia, ada bentuk nihilisme modern yang muncul dari ketidakpastian di tengah masyarakat. Hal ini diduga merupakan efek dari era teknologi, hidup yang tenggelam dalam ketakutan, anxiety, ketidakamanan ekonomi, dan rasa putus asa.

Konsep nihilisme bahkan telah menjangkau anak-anak muda remaja. Mengutip The Guardian, pada tahun 2018, dua orang murid sekolah menengah atas, menjadi pembicara dalam Tedx talks Hardwood Union High School untuk topik nihilisme. Mereka mempresentasikan kasus yang mereka alami, dan mengaku sebagai seorang nihilis. 

Jurnal pada International Journal of Liberal Arts and Social Science, melansir bahwa menurut Jahangir Jahangiri, Ph.D., beberapa ciri nihilisme modern adalah atomisasi individu, hubungan antar manusia yang semakin dingin, maraknya sistem abstrak dalam kehidupan, kesenjangan generasi, dan hilangnya nilai-nilai tradisional.

Ada kekhawatiran bahwa nihilisme akan menimbulkan egoisme yang tak terkendali. Akan tetapi nihilisme pada era modern tampaknya menganggap ketiadaan arti hidup sebagai alasan untuk menjalani hidup tanpa rasa khawatir berlebihan. Mencari kebahagiaan dan arti dari setiap hal yang dilakukan, dan memberi sebisanya untuk membentuk arti dari diri sendiri adalah hal yang dilakukan nihilis modern. 

Memiliki prinsip dan pegangan dalam menjalani kehidupan sangatlah penting. Saling menghormati, menghargai dan toleransi terhadap perbedaan nilai personal yang diyakini dalam masyarakat harus tetap ada, untuk menjaga keharmonisan hidup.

Baca Juga: Sejarah Anglo-Zanzibar, Perang Tersingkat dalam Sejarah

MONICA GRACIA Photo Verified Writer MONICA GRACIA

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Debby Utomo

Berita Terkini Lainnya