Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apa yang Terjadi jika Sapi Perah Susunya Tidak Dipanen Setiap Hari?

Apa yang Terjadi jika Sapi Perah Susunya Tidak Dipanen Setiap Hari?
Ilustrasi memerah susu sapi (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Jika sapi perah tidak diperah rutin, ambing akan penuh, menimbulkan tekanan dan rasa tidak nyaman yang bisa membuat sapi stres serta mengganggu aktivitasnya.
  • Penundaan pemerahan menyebabkan penurunan produksi susu karena tubuh sapi menerima sinyal biologis untuk memperlambat atau menghentikan sekresi susu.
  • Jadwal perah yang berantakan meningkatkan risiko mastitis dan dapat memicu fase berhenti produksi alami pada kelenjar susu, berdampak pada kesehatan serta ritme laktasi sapi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Susu pada sapi perah bukan sesuatu yang bisa dibiarkan begitu saja di dalam ambing. Kalau tidak diperah secara rutin, tubuh sapi akan mengalami berbagai gangguan yang kadang jarang terpikirkan oleh banyak orang.

Tidak hanya tentang produksi yang menurun, kondisi ini juga dapat memengaruhi kenyamanan sampai kesehatan sapi itu sendiri. Nah, berikut empat masalah yang bakal terjadi jika sapi perah susunya tidak dipanen setiap hari.

1. Ambing akan penuh dan bikin sapi gelisah

Potret ambing sapi penuh
Potret ambing sapi penuh (pexels.com/cottonbro studio)

Hal paling cepat yang terjadi tentu penumpukan susu di ambing. Selama masa laktasi, susu terus diproduksi dan disimpan di jaringan kelenjar susu serta ruang penampungan di ambing, sehingga kalau jadwal perah terlewat, ruang penyimpanannya makin sesak. Tekanan dari dalam pun naik sedikit demi sedikit. Adapun pada sapi dengan hasil susu tinggi, kondisi ini bisa muncul dalam waktu relatif singkat.

Dari luar, ambing mungkin tampak membesar, namun bagi sapi, situasinya cukup mengganggu. Bagian itu menjadi tegang, berat, dan kurang nyaman saat berdiri, berjalan, atau berbaring. Bila kondisi serupa sering berulang, sapi berpotensi menunjukkan tanda-tanda stres fisik ringan. Pada kasus tertentu, ambing yang terlalu distensi juga menyulitkan pemerahan selanjutnya dan dapat mengganggu kondisi puting.

2. Produksi susu perlahan menurun

Potret pria memerah susu sapi
Potret pria memerah susu sapi (pexels.com/Workman House)

Tubuh sapi tidak memproduksi susu tanpa batas seolah-olah tangkinya tak pernah penuh. Saat susu terus tersendat di ambing, tekanan internal akan memberi sinyal biologis bahwa pengeluaran susu tidak lancar, kemudian tubuh mulai menurunkan ritme produksinya. Menurut literatur laktasi (Gorewit, 1988), laju sekresi susu cenderung berjalan stabil sekitar 10–12 jam setelah pemerahan dan berkurang bila susu terlalu lama tertahan. Kalau dibiarkan lebih lama lagi, produksi bisa nyaris berhenti sementara.

Inilah alasan kenapa peternakan sapi perah menjaga jadwal perah dengan disiplin. Sekali dua kali telat agaknya belum langsung dramatis, tetapi jika berulang, total produksi bisa lumayan terasa. Bagi peternak, ini berarti kerugian produksi; bagi sapi, ini menandakan sistem laktasinya sedang terganggu.

3. Risiko mastitis meningkat

Potret ambing sapi perah
Potret ambing sapi perah (pexels.com/Giulia Botan)

Masalah besar dari jadwal perah yang berantakan adalah mastitis, yaitu peradangan pada ambing yang sering berkaitan dengan infeksi. Ambing yang terlalu penuh dapat memicu perubahan pada jaringan serta saluran susu, yang lantas membuat pertahanan alaminya turut melemah pada fase tertentu. Di masa penghentian laktasi pun, kelenjar susu sapi tercatat mengalami fase rentan terhadap infeksi baru selama proses involusi awal. Artinya, begitu pola pengeluaran susu terganggu, ada jendela risiko yang tidak boleh diremehkan.

Kalau mastitis sudah muncul, urusannya jadi jauh lebih panjang. Susu berubah tekstur, hasil perah turun, ambing membengkak, dan sapi perlu penanganan khusus agar infeksi tidak bertambah parah. Menurut sistem peternakan modern, frekuensi pemerahan yang sangat jarang juga berkaitan dengan meningkatnya risiko mastitis klinis pada kuartir ambing tertentu.

4. Tubuh sapi bisa masuk ke fase “berhenti produksi”

Potret sapi perah
Potret sapi perah (pexels.com/Matthias Zomer)

Apabila susu berlarut-larut dibiarkan menumpuk tanpa dikeluarkan, tubuh sapi lama-lama menganggap masa memproduksi susu sudah diakhiri. Proses ini dikenal sebagai involusi kelenjar susu, yakni fase ketika jaringan ambing beralih dari kondisi aktif memproduksi menuju fase istirahat. Berdasarkan penelitian (Dado dkk., 2018), involusi mulai terpicu seusai penghentian pengeluaran susu, yang ditandai oleh kenaikan tekanan dalam ambing, penurunan sekresi, perubahan respons imun, sampai kematian sel-sel penghasil susu pada tahap lanjut. Respons ini sebenarnya alami, sebab tubuh sapi memang dirancang untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan.

Dalam praktik peternakan, fase berhenti produksi diatur dengan cermat. Peternak biasanya menyiapkan masa kering kandang secara bertahap supaya sapi tetap nyaman dan ambingnya tidak kaget. Jika penghentian terjadi mendadak di tengah masa produksi aktif, efeknya bisa cukup merepotkan. Bukan cuma mengganggu kondisi tubuh sapi, ritme laktasi berikutnya pun berpeluang ikut terdampak.

Susu pada sapi perah tidak dapat diperlakukan seenaknya, seolah bisa disimpan penuh di ambing tanpa konsekuensi. Begitu sapi perah susunya tidak dipanen setiap hari, yang dipertaruhkan tidak hanya volume susu, melainkan kenyamanan, kesehatan ambing, dan kestabilan produksi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Science

See More