Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Unik Singa Barbary yang Musnah dari Alam Liar Maroko
potret singa barbary (commons.wikimedia.org/Photograph by Fernandus)
  • Singa barbary di Maroko terdesak selama berabad-abad oleh perburuan, yang meningkat pada era kolonial melalui pembunuhan defensif, olahraga, koleksi, pertunjukan, hingga imbalan bagi pemburu.

  • Penebangan hutan dan perluasan pemukiman memecah habitat Pegunungan Atlas, mempersempit ruang jelajah serta mengurangi mangsa alami seperti rusa, barbary sheep, dan babi hutan.

  • Kelangkaan mangsa mendorong singa memangsa ternak dan memicu konflik dengan warga; populasi liar terakhir diperkirakan punah di Maroko sekitar 1948, setelah laporan awal penembakan pada 1922.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kepunahan singa barbary atau Panther leo leo dari bentang alam Maroko merupakan komplikasi panjang. Sebagai predator puncak yang pernah mendominasi Pegunungan Atlas, keberadaan kucing besar ikonik ini terus terdesak seiring meluasnya pemukiman manusia dan eksploitasi hutan secara masif abad ke-19 awal hingga awal abad ke-20. Dengan rambut surai gelap lebat yang menjulur hingga ke perut serta postur tubuh yang kekar, raja hutan Afrika Utara ini bukan sekadar pemuncak rantai makanan, melainkan simbol keberanian dan kehormatan dalam kebudayaan Maroko selama berabad-abad. Sayangnya, raungan megah yang dahulu menggelegar menembus lembah-lembah terjal kini hanya tinggal kenangan samar dalam catatan sejarah.

Hilangnya singa barbary dari alam liar bukanlah tragedi yang terjadi dalam semalam, melainkan hasil dari tekanan yang sistematis yang berlangsung selama ratusan tahun. Kombinasi antara ekspansi manusia hingga era kolonialisme perlahan merenggut ruang gerak predator ini. Puncaknya terjadi pada dekade 1940-an, ketika individu liar terakhir dilaporkan tewas ditembak di kawasan Pegunungan Atlas, menandai berakhirnya era sang penguasa pegunungan. Yuk, simak lima fakta unik kenapa singa barbary musnah di Maroko!

1. Perburuan masif di era kolonial dan abad pertengahan

ilustrasi perburuan liar yang masif (unsplash.com/mohammed OUZZAOUI)

Eksploitasi terhadap singa barbary memiliki rekam jejak panjang yang bermula sejak zaman Kekaisaran Romawi hingga abad pertengahan, di mana keberadaan predator puncak ini perlahan-lahan mulai tersudut dari wilayah jelajah aslinya di Afrika Utara. Pada Abad Pertengahan, konflik antara manusia dan singa semakin meningkat akibat bertambahnya pemukiman serta peternakan.

Dilansir laman Britannica, singa barbary sering diincar karena mengancam hewan ternak warga lokal, yang memicu pemburuan defensif serta penangkapan individu secara berkala untuk kepentingan olahraga, koleksi bangsawan, dan pertunjukan. Ancaman terhadap populasi singa barbary mencapai puncaknya pada abad ke-19 selama era kolonialisme Eropa di Afrika Utara, khususnya di Maroko dan Aljazair.

2. Deforestasi dan defragmentasi habitat

ilustrasi deforestasi (commons.wikimedia.org/Ibama)

Berbeda dengan jenis singa lain yang hidup di padang rumput atau sabana yang hangat, singa barbary beradaptasi untuk hidup di lingkungan hutan lebat serta wilayah Pegunungan Atlas yang bersuhu jauh lebih dingin. Dilansir laman Speciologie, keberadaan manusia dengan cepat merusak keseimbangan ekosistem alam tempat singa ini tinggal.

Kombinasi antara penebangan hutan dan perluasan pemukiman membuat hutan Pegunungan Atlas terpecah-pecah. Akibatnya, wilayah jelajah singa menjadi sangat sempit, ruang geraknya terisolasi, dan sumber makanan alami mereka semakin menipis sehingga mereka kesulitan untuk berburu dan berkembang biak. Tekanan akibat kerusakan tempat tinggal ini diperparah oleh maraknya pemburuan liar yang tak terkendali pada era kolonial.

3. Hilangnya sumber makanan utama mangsa alami

ilustrasi singa barbary (commons.wikimedia.org/Derek Ramsey)

Singa barbary sangat bergantung pada keberadaan mamalia herbivora besar di kawasan Pegunungan Atlas, seperti rusa, barbary sheep, dan babi hutan sebagai sumber makanan utama mereka. Namun, aktivitas manusia yang menyasar spesies tersebut membuat populasi mangsa alami singa merosot secara drastis dari waktu ke waktu.

Dilansir laman University of Kent, kelangkaan makanan di alam liar menciptakan efek domino yang berbahaya bagi kelangsungan hidup sang predator. Tanpa pasokan mangsa yang cukup di dalam hutan, singa ini terpaksa keluar dari wilayah jelajahnya dan mendekati pemukiman manusia untuk memangsa hewan ternak milik peternak lokal demi bisa bertahan hidup. Serangan terhadap hewan ternak ini memicu konflik berdarah yang tidak seimbang antara manusia dan singa.

4. Konflik langsung dengan peternak dan warga lokal

ilustrasi konflik (unsplash.com/Evgeniy Smersh)

Terdesak dari habitat asli dan terpaksa mendekati wilayah pemukiman, menjadi pemicu utama konflik langsung dan intens antara manusia dan singa. Para peternak dan warga lokal merasa terancam serta merugi akibat kehilangan hewan ternak dengan respon aksi pemburuan sebagai bentuk pembalasan.

Langkah penumpasan ini semakin terorganisir ketika pemerintah kolonial ikut campur dengan menyediakan imbalan uang tunai bagi siapa saja yang berhasil membunuh singa. Sistem imbalan tersebut semakin mematikan bagi populasi singa yang sudah terfragmentasi. Kombinasi antara hilangnya habitat, kelangkaan mangsa, dan pembantaian berencana oleh peternak serta pemburu lokal, akhirnya menghancurkan populasi terakhir singa barbary di alam liar.

5. Kepunahan terakhir di alam liar 1920–1940-an

ilustrasi singa barbary (commons.wikimedia.org/Bohuna Mikulicová)

Dalam beberapa buku sejarah mengungkapkan jika singa barbary liar terakhir ditembak oleh pemburu kolonial Prancis di Maroko sekitar tahun 1922. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa narasi tersebut belum lengkap. Dilansir laman The Revelator, berdasarkan wawancara mendalam dengan tetua masyarakat lokal di wilayah Aljazair serta pengumpulan catatan kesaksian langsung, ditemukan bukti bahwa populasi kecil singa ini sebenarnya masih bertahan secara tersembunyi dari jangkauan manusia selama beberapa dekade setelah tahun 1922.

Para peneliti memperkirakan bahwa singa barbary kemungkinan besar baru punah di Maroko pada tahun 1948 dan di Aljazair pada tahun 1958, dengan rentang waktu hingga tahun 1965. Penampilan fisik terakhir yang berhasil dicatat terjadi pada tahun 1956 dari atas bus di kawasan hutan Setif, Aljazair. Hutan tempat perlindungan tersebut sayangnya hancur akibat perang Prancis dengan Aljazair pada tahun 1958, yang kemungkinan besar menjadi faktor utama lenyapnya sisa-sisa populasi terakhir singa tersebut.

Tragedi kepunahan singa barbary di alam liar Maroko menjadi cermin kelam dari besarnya dampak eksploitasi manusia terhadap alam. Kombinasi antara perburuan liar sejak dahulu, hingga hancurnya benteng habitat alami, membuktikan bagaimana sang predator puncak terdesak tanpa sisa. Hilangnya rantai makanan utama serta konflik, makin mempercepat masuknya spesies ini ke dalam jurang kepunahan yang tak terelakkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article