Kepunahan singa barbary atau Panther leo leo dari bentang alam Maroko merupakan komplikasi panjang. Sebagai predator puncak yang pernah mendominasi Pegunungan Atlas, keberadaan kucing besar ikonik ini terus terdesak seiring meluasnya pemukiman manusia dan eksploitasi hutan secara masif abad ke-19 awal hingga awal abad ke-20. Dengan rambut surai gelap lebat yang menjulur hingga ke perut serta postur tubuh yang kekar, raja hutan Afrika Utara ini bukan sekadar pemuncak rantai makanan, melainkan simbol keberanian dan kehormatan dalam kebudayaan Maroko selama berabad-abad. Sayangnya, raungan megah yang dahulu menggelegar menembus lembah-lembah terjal kini hanya tinggal kenangan samar dalam catatan sejarah.
Hilangnya singa barbary dari alam liar bukanlah tragedi yang terjadi dalam semalam, melainkan hasil dari tekanan yang sistematis yang berlangsung selama ratusan tahun. Kombinasi antara ekspansi manusia hingga era kolonialisme perlahan merenggut ruang gerak predator ini. Puncaknya terjadi pada dekade 1940-an, ketika individu liar terakhir dilaporkan tewas ditembak di kawasan Pegunungan Atlas, menandai berakhirnya era sang penguasa pegunungan. Yuk, simak lima fakta unik kenapa singa barbary musnah di Maroko!
