Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Ular Berbisa yang Tersebar di Wilayah Spanyol, Jangan Didekati
Potret ular Vipera aspis (commons.wikimedia.org/Rabe19)
  • Spanyol memiliki lima spesies ular berbisa utama, masing-masing dengan karakter racun, habitat, dan perilaku berbeda yang tersebar di berbagai wilayah semenanjung Iberia.
  • Vipera aspis dinobatkan sebagai ular paling berbahaya karena racunnya paling toksik dan persebarannya meliputi kawasan pegunungan populer seperti Aragon, Navarra, serta Catalonia utara.
  • Dua jenis colubrid berbisa belakang, culebra bastarda dan culebra de cogulla, tergolong lebih jinak bagi manusia meski tetap memerlukan kewaspadaan saat menjelajahi alam terbuka Spanyol.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Spanyol memang dikenal sebagai surga bagi pencinta alam. Pegunungan, hutan, padang rumput, sampai kawasan berbatu menyimpan keanekaragaman satwa yang menarik untuk diamati. Namun, di balik panorama itu, ada lima jenis ular berbisa yang hidup liar di berbagai penjuru wilayah. Masing-masing punya karakter racun, habitat, sekaligus perilaku berbeda.

Nah, kira-kira di antara mereka mana yang paling ditakuti? Mari kita ulik satu per satu!

1. Vibora aspid (Vipera aspis)

Potret ular Vipera aspis (commons.wikimedia.org/Werner Seiler)

Vibora aspid dinobatkan sebagai spesies paling berbisa dan agresif di antara semua viper Spanyol. Tubuhnya yang langsing dan moncong yang sedikit melengkung ke atas menjadi ciri khas yang mudah dikenali. Racunnya mengandung enzim proteolitik beserta komponen hemoragik yang dapat merusak jaringan serta mengganggu pembekuan darah. Penelitian dalam jurnal Toxicon mengungkap tingkat toksisitas racunnya bervariasi pada tiap populasi, sedangkan individu dari Basque Country, La Rioja, dan Burgos memperlihatkan potensi racun tertinggi.

Habitatnya tersebar di Aragon, Navarra, serta Catalonia bagian utara. Ular ini sebenarnya tidak suka konflik dan akan menghindari manusia jika diberi kesempatan. Tapi bila terpojok, responsnya bisa sangat cepat. Dilansir laman La Razón, vipera aspis dianggap sebagai spesies yang memerlukan kewaspadaan ekstra kala beraktivitas di alam terbuka.

2. Vibora hocicuda (Vipera latastei)

Vibora Hocicuda (commons.wikimedia.org/Tim Vickers)

Ciri khas dari vibora hocicuda adalah tonjolan kecil seperti tanduk di ujung moncongnya. Tubuhnya cenderung pendek dan gemuk dengan pola zigzag gelap di sepanjang punggung, serta perut berwarna keputihan. Berdasarkan studi yang dipublikasikan oleh Science Direct, ular ini menyebar nyaris di seluruh semenanjung Iberia, kecuali wilayah Cantabria dan Pyrenees.

Walau tingkat toksisitas racun per gigitan umumnya lebih rendah dibandingkan aspis atau seoanei, vipera latastei memiliki volume bisa yang kalau disuntikkan saat menggigit jauh lebih besar. Hal ini menyebabkan gigitannya sama berbahayanya, bahkan pada individu muda yang bisa-nya lebih pekat.

Area berpasir, lereng berbatu, dan semak kering merupakan lokasi favoritnya berburu mangsa. Oleh karena itu, pendaki maupun pencinta alam wajib berhati-hati di habitat tersebut.

3. Víbora de seoane (Vipera seoanei)

Vipera seoanei (flickr.com/Rubén Díaz Caviedes, CC BY-SA 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0/>)

Berbeda dengan dua kerabatnya yang menyukai kekeringan, vipera seoanei adalah perenang ulung yang amat terikat dengan hutan lembap di pesisir Atlantik. Ular ini dapat dijumpai dari Galicia, melintasi Cantabria, lalu berakhir di Basque Country, juga sanggup menyeberangi sungai untuk memperluas teritorinya. Secara morfologi, posisinya berada di antara vipera aspis dan vipera berus (ular berbisa Eropa), dengan variasi warna yang cukup luas.

Uniknya, potensi racun vipera seoanei justru lebih rendah di wilayah timur seperti Basque Country, namun meningkat drastis di populasi barat, yaitu Galicia dan utara Leon. Meski racunnya tidak sekuat aspis di beberapa daerah, kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan basah membuatnya menjadi spesies yang dominan dan kerap ditemui di rute-rute pendakian populer di Spanyol utara.

4. Culebra bastarda (Malpolon monspessulanus)

Culebra Bastarda (commons.wikimedia.org/Froin)

Culebra bastarda merupakan ular terbesar di Spanyol. Individu dewasa mampu melampaui dua meter, sementara tubuh besarnya acap memicu rasa takut bagi orang yang bertemu di alam. Ular ini bukanlah viper sejati, ia termasuk dalam kategori colubrid berbisa belakang (opisthoglyphous). Artinya, taring berbisa terletak di bagian belakang rahang atas, sehingga demi menimbulkan efek serius, ia harus menggigit dengan “kunyahan” khusus, bukan sekadar gigitan cepat.

Mangsa utamanya meliputi kadal, tikus, maupun reptil kecil lainnya. Adapun, kasus gigitan parah pada manusia sangat jarang. Saat merasa terganggu, ular ini mengangkat kepala sambil mengeluarkan desisan keras demi mengusir ancaman. Hampir seluruh wilayah Spanyol menjadi daerah persebarannya, terutama padang terbuka atau semak rendah yang hangat.

5. Culebra de cogulla (Macroprotodon cucullatus)

Culebra de Cogulla (flickr.com/AR ® Escuela Superior de Medio Ambiente, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0/>)

Culebra de cogulla jauh lebih kecil dan lebih sulit ditemukan, dengan panjang maksimal hanya sekitar 60 cm. Ciri pembedanya adalah garis hitam tebal yang membentang dari mata hingga ke sudut mulut, serta bercak gelap berbentuk kerah di lehernya. Mirip culebra bastarda, ia juga merupakan opisthoglyphous (berbisa belakang), tetapi karena ukurannya yang mungil, gigitannya hampir tidak berbahaya bagi manusia dewasa.

Lebih suka beraktivitas pada senja dan malam hari, ular ini menghuni area berpasir atau berbatu di Spanyol selatan dan tengah, serta beberapa wilayah di Kepulauan Balearic. Interaksi dengan manusia tergolong minim lantaran gaya hidupnya penyendiri. Itulah alasan mengapa keberadaan ular ini sering luput dari perhatian.

Di antara seluruh spesies tadi, vibora áspid (Vipera aspis) masih menyandang predikat ular paling ditakuti di Spanyol. Reputasi itu muncul berkat racunnya yang memiliki tingkat toksisitas tertinggi, ditambah persebarannya beririsan dengan kawasan pegunungan yang ramai dikunjungi wisatawan. Jadi, saat menjelajahi alam Spanyol, hormati ruang mereka, dan biarkan para ular-ular ini menjalani hidupnya dengan tenang.

Referensi :

Saz-Parkinson, Z., del Pino Luengo, M., López-Cuadrado, T., Andújar, D., Carmona-Alférez, R., Flores, R. M., & Amate, J. M. (2012). Approach to the epidemiology of venomous bites in Spain. Toxicon, 60(4), 706-711. Diakses dari https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0041010112000931

Roca, V., Gómez-Ramírez, F., Espasandín, I., Megía-Palma, R., Perera, A., & Martínez-Freiría, F. (2023). First helminthological data on the Iberian adder, Vipera seoanei. Parasitology Research, 122(7), 1499-1507.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article