Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Magnet Bisa Kehilangan Kekuatan Seiring Waktu?
ilustrasi magnet kulkas (unsplash.com/Cong Wang)

Magnet sering dianggap sebagai benda yang bisa menarik logam dengan kuat. Namun, satu hal yang tidak semua orang tahu: kekuatan magnet tidak selalu bertahan tanpa batas. Seiring waktu, magnet bisa kehilangan sebagian kekuatannya atau bahkan mengalami demagnetisasi.

Proses ini terjadi ketika susunan magnetik di dalam material mulai berubah. Di dalam magnet terdapat wilayah-wilayah mikroskopis yang disebut magnetic domains. Ketika sebagian besar wilayah tersebut mengarah ke arah yang sama, magnet mampu menghasilkan medan magnet yang kuat. Namun, berbagai faktor bisa mengacaukan susunan tersebut. Akibatnya, magnet yang sebelumnya mampu menarik benda dengan kuat perlahan menjadi lebih lemah.

1. Suhu panas bisa mengganggu susunan magnet

ilustrasi magnet (unsplash.com/Asif Ali)

Panas merupakan salah satu penyebab utama magnet kehilangan kekuatannya. Ketika suhu meningkat, atom-atom di dalam magnet bergerak dan bergetar lebih kuat. Getaran ini dapat mengganggu susunan magnetic domains yang sebelumnya sudah sejajar.

Setiap material magnetik memiliki batas suhu tertentu yang disebut suhu Curie. Jika magnet dipanaskan hingga melewati batas tersebut, susunan magnetiknya bisa mengalami perubahan besar dan magnet dapat kehilangan sebagian besar kekuatannya secara permanen. Magnet neodymium, misalnya, dikenal sangat kuat tetapi relatif sensitif terhadap suhu tinggi. Paparan panas dalam waktu singkat mungkin hanya menyebabkan penurunan kekuatan sementara. Namun, pemanasan berulang atau terlalu lama dapat membuat kerusakan tersebut menjadi permanen. Itulah sebabnya magnet tidak selalu cocok digunakan di dekat sumber panas, seperti mesin dengan suhu tinggi atau perangkat tertentu yang menghasilkan banyak panas.

2. Terjatuh atau terbentur keras

ilustrasi magnet kulkas (unsplash.com/Jimmy Liu)

Magnet juga bisa melemah akibat benturan fisik. Menjatuhkan magnet dari tempat tinggi, memukulnya dengan benda keras, atau membuatnya terus-menerus mengalami getaran kuat dapat mengganggu struktur internalnya. Benturan yang cukup keras bisa membuat magnetic domains berubah arah. Semakin besar kerusakan yang terjadi, semakin besar pula kemungkinan medan magnetnya melemah.

Bukan berarti setiap magnet yang terjatuh langsung kehilangan seluruh kekuatannya. Namun, benturan berulang atau sangat keras bisa berdampak lebih besar, terutama pada magnet yang rapuh. Karena alasan ini, magnet yang digunakan pada motor, generator, dan berbagai peralatan industri biasanya dipasang dengan hati-hati agar tidak terus-menerus menerima guncangan dan getaran berlebihan.

3. Karat dan korosi bisa merusak magnet

ilustrasi magnet kulkas (unsplash.com/Walls.io)

Beberapa jenis magnet, terutama magnet neodymium, dapat mengalami korosi jika terus-menerus terkena air, kelembapan, oksigen, atau bahan kimia tertentu. Masalahnya, korosi bukan hanya membuat permukaan magnet terlihat rusak. Jika dibiarkan, proses ini dapat merusak struktur material magnet itu sendiri. Ketika materialnya mulai terdegradasi, kemampuan magnet untuk mempertahankan susunan magnetiknya juga ikut menurun.

Karena itu, magnet neodymium biasanya dilapisi dengan bahan pelindung seperti nikel atau epoxy. Lapisan ini berfungsi untuk mengurangi kontak langsung antara material magnet dan lingkungan yang dapat menyebabkan korosi. Jadi, jika sebuah magnet mulai berkarat, jangan heran jika kekuatannya juga perlahan menurun.

4. Terkena medan magnet yang berlawanan

ilustrasi magnet kulkas (unsplash.com/Cong Wang)

Magnet juga dapat melemah ketika terkena medan magnet eksternal yang sangat kuat dan arahnya berlawanan dengan medan magnetnya sendiri. Medan magnet tersebut dapat mendorong magnetic domains untuk berubah arah. Jika paparan berlangsung cukup kuat atau berulang kali, susunan internal magnet bisa menjadi semakin tidak teratur.

Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan. Menyimpan dua magnet dengan kutub berbeda saling berhadapan tidak otomatis membuat magnet cepat kehilangan kekuatan. Bahkan, magnet biasanya tidak melemah hanya karena disimpan berdekatan dengan magnet lain.

Yang lebih berpengaruh adalah paparan medan magnet eksternal yang sangat kuat. Selan itu, kondisi penyimpanan tertentu juga menciptakan medan demagnetisasi. Jadi, faktor kekuatan medan magnet dan arah medan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar posisi magnet saat disimpan.

5. Usia

ilustrasi menempelkan magnet di kulkas (unsplash.com/Kristyna Squared.one)

Meskipun tidak pernah dijatuhkan, dipanaskan, atau terkena air, magnet tetap bisa mengalami penurunan kekuatan secara perlahan. Hal ini terjadi akibat berbagai proses mikroskopis di dalam material. Getaran panas pada tingkat atom, misalnya, dapat menyebabkan sebagian kecil magnetic domains perlahan berubah arah. Proses yang sangat lambat ini sering dikaitkan dengan magnetic creep atau penuaan magnetik.

Pada magnet berkualitas tinggi, penurunan kekuatan akibat usia biasanya sangat kecil dalam kondisi penggunaan normal. Namun, penurunan tersebut tetap bisa terjadi dan terakumulasi dalam jangka waktu yang sangat panjang. Suhu penyimpanan, jenis material, serta kondisi penggunaan akan memengaruhi seberapa cepat proses tersebut berlangsung.

Pada akhirnya, magnet memang bisa kehilangan kekuatannya. Namun, proses tersebut biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa sebab. Panas, benturan, korosi, medan magnet yang berlawanan, hingga proses penuaan perlahan dapat membuat susunan magnetik di dalamnya berubah.

Jadi, kalau suatu hari magnet yang dulu sangat kuat mulai terasa kurang menempel, mungkin bukan perasaanmu saja. Bisa jadi, magnet tersebut memang sedang mengalami proses demagnetisasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article